Pemdes Sukabakti Bergerak Hadapi Kemarau: Sinergi Petani dan Aparat Jaga Ketahanan Air dan Pangan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 22 Juli 2025 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut,Nusaharianmedia.com – Musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Kekhawatiran terhadap dampaknya, khususnya bagi sektor pertanian dan pasokan air irigasi, mendorong Pemerintah Desa Sukabakti, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat untuk tidak tinggal diam.

Alih-alih menunggu masalah datang, desa ini memilih untuk bertindak cepat dan kolektif dengan menggandeng berbagai unsur masyarakat dan keamanan.

Langkah konkret itu diwujudkan dalam sebuah rapat koordinasi lintas sektor yang digelar pada Selasa (22/07/2025) di Aula Desa Sukabakti. Hadir dalam forum tersebut perwakilan Pemerintah Desa, kelompok Mitra Cai, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), serta unsur keamanan dari kepolisian melalui Bhabinkamtibmas.

Dalam suasana yang penuh semangat gotong royong dan keprihatinan akan potensi krisis air, Kepala Desa Sukabakti, Wawan Gunawan, menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya proaktif dalam mengelola sumber daya air, khususnya dalam situasi rawan kekeringan.

“Air adalah sumber kehidupan. Tidak bisa kita kelola dengan asal-asalan. Musim kemarau ini akan jadi ujian, dan kita tidak boleh gagal. Kita harus solid sejak awal,” ujar Wawan tegas di hadapan para peserta rapat.

Ia menekankan bahwa Pemerintah Desa harus hadir bukan hanya saat persoalan muncul, melainkan sejak tahapan perencanaan, mitigasi, hingga evaluasi.

Membangun Skema Keadilan Air

Rapat ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, melainkan forum pengambilan keputusan penting untuk menyusun ulang strategi pengelolaan air dan jadwal tanam petani. Salah satu langkah utama yang diputuskan adalah revisi jadwal giliran air demi pemerataan distribusi ke seluruh wilayah pertanian yang ada di desa.

“Jangan sampai ada yang merasa dianaktirikan. Kalau air tidak dibagi secara adil, potensi konflik akan muncul. Ini yang kita cegah sejak awal,” tambah Wawan.

Langkah tersebut disambut baik oleh P3A, yang langsung mengusulkan pemetaan ulang lahan kritis rawan kekeringan, agar distribusi air bisa diarahkan lebih efisien dan berbasis kebutuhan nyata.

Polisi dan Petani Satu Barisan

Menariknya, rapat ini juga menyoroti peran penting aparat kepolisian dalam menjaga ketertiban sosial selama musim kemarau.

Dalam hal ini, Aipda Dadan Sopian, selaku Bhabinkamtibmas Desa Sukabakti, menegaskan kesiapan institusinya untuk mendampingi dan mengawal distribusi air.

“Kami dari kepolisian tidak akan tinggal diam jika ada potensi kericuhan akibat perebutan air. Fungsi Bhabinkamtibmas di sini adalah menjembatani, menjaga, dan memediasi agar semuanya berjalan kondusif,” ujar Dadan.

Menurutnya, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa ketidakadilan dalam pembagian air seringkali menjadi sumber gesekan antarpetani. Dengan adanya kehadiran aparat sejak dini, potensi konflik bisa ditekan, bahkan dicegah sama sekali.

Hasil Rapat: Tiga Pilar Strategis Ditetapkan
Dari hasil rapat tersebut, beberapa keputusan penting langsung diambil sebagai langkah taktis jangka pendek dan menengah:

Pembentukan Tim Pemantau Distribusi Air Tim ini akan bekerja memantau jalannya pembagian air, memastikan sesuai jadwal dan skema yang telah disepakati.

Pendataan dan Pemetaan Lahan Kritis Fokus pada wilayah yang paling rawan kekeringan untuk menjadi prioritas dalam pendistribusian air.

Penyusunan Ulang Jadwal Gilir Air Irigasi

Melibatkan seluruh kelompok tani dan aparat desa agar skema pengairan berlangsung adil dan tidak memicu konflik.

Semua keputusan tersebut dibingkai dalam dokumen resmi berupa berita acara musyawarah, yang ditandatangani bersama oleh semua pihak yang hadir. Ini menjadi bukti konkret bahwa kolaborasi adalah kata kunci utama dalam menghadapi tantangan iklim di level desa.

Petani Apresiasi dan Merasa Dilindungi

Kebijakan yang responsif dan kolaboratif ini mendapat apresiasi luas dari para petani. Mereka merasa lebih dilibatkan, lebih dihargai, dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi kemarau. Salah satu tokoh petani, Ujang Suryana, mengatakan bahwa inisiatif ini adalah langkah terbaik yang pernah dilakukan desa dalam menghadapi persoalan air.

“Kami jadi tenang. Sekarang tidak seperti dulu, di mana kami harus berebut air tanpa arah. Sekarang semua ada jadwal, ada pemantau, dan ada aparat yang siap turun tangan kalau ada masalah,” katanya.

Ketahanan Sosial Dimulai dari Akar Rumput

Langkah yang ditempuh Desa Sukabakti menegaskan bahwa resiliensi iklim bukan hanya urusan pemerintah pusat atau provinsi. Pemerintah desa dengan kewenangan terbatas sekalipun bisa menjadi aktor perubahan yang kuat jika mampu membangun kepercayaan, menyatukan komunitas, dan bertindak cepat dengan pendekatan partisipatif.

“Kita jaga air, dan air akan jaga kita. Kalau kita adil, air akan cukup untuk semua,” pungkas Kades Wawan, menutup forum dengan pernyataan yang memantik semangat kebersamaan.

Dengan kebijakan inklusif, pendekatan partisipatif, dan kolaborasi lintas sektor, Desa Sukabakti kini tampil sebagai contoh konkret bagaimana desa bisa menjadi benteng pertama dalam menghadapi ancaman krisis air akibat perubahan iklim.

Langkah ini tidak hanya mengantisipasi krisis, tetapi juga memperkuat fondasi sosial desa: solidaritas, keadilan, dan gotong royong. (Red)
Baca Juga :  Radit Julian Desak Pemerintah Segera Atasi Defisit RSUD dr. Slamet Garut

Berita Terkait

GMBI Distrik Garut Peringati Harlah ke-24 dengan Sholawat Kebangsaan dan Aksi Sosial
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Ahab Sihabudin Gelar “Sapa Warga Berbasis Budaya”, Ajak Seniman Perkuat Identitas Lokal
Sekolah Sungai Cimanuk Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini di Hari Air Sedunia 2026
Libur Idul Fitri 1447 H, Kebun Binatang Cikembulan Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga di Garut
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Garut Soroti Kesiapan LKPJ 2025, Kinerja Pemkab dan DPRD Dipertanyakan Jelang 31 Maret
DPRD Garut Hadiri Halal Bihalal Tingkat Kabupaten, Perkuat Silaturahmi dan Sinergi Pembangunan
Lonjakan Harga LPG 3 Kg di Garut, Bupati Soroti Masalah Distribusi dan Oknum di Lapangan
Praktisi Hukum Cacan Cahyadi, SH., Warning Dugaan Intervensi Muscab Partai Persatuan Pembangunan Garut, ASN Diminta Tetap Netral
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 20:47 WIB

GMBI Distrik Garut Peringati Harlah ke-24 dengan Sholawat Kebangsaan dan Aksi Sosial

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:53 WIB

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Ahab Sihabudin Gelar “Sapa Warga Berbasis Budaya”, Ajak Seniman Perkuat Identitas Lokal

Jumat, 27 Maret 2026 - 22:36 WIB

Sekolah Sungai Cimanuk Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini di Hari Air Sedunia 2026

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:28 WIB

Libur Idul Fitri 1447 H, Kebun Binatang Cikembulan Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga di Garut

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:16 WIB

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Garut Soroti Kesiapan LKPJ 2025, Kinerja Pemkab dan DPRD Dipertanyakan Jelang 31 Maret

Berita Terbaru