Nusaharianmedia.com 13 Februari 2026 – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Jadi Garut, organisasi Cipayung Kabupaten Garut menggelar diskusi publik bertajuk Mimbar Cipayung Garut pada Jumat malam (13/02) di Katenzo. Forum ini menjadi ruang refleksi kritis atas tema pembangunan daerah yang dinilai semakin jauh dari realitas masyarakat.
Kegiatan yang menghadirkan unsur Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)** ini mengangkat pertanyaan tajam: Sudahkah Garut Hebat? Hebat tambangnya, hebat miskinnya, atau hebat nepotismenya?
Narasi “Garut Hebat”
Dalam forum tersebut, para pembicara menilai bahwa slogan dan tema perayaan Hari Jadi Garut tahun ini berpotensi menjadi kosmetik politik jika tidak disertai evaluasi jujur atas kondisi riil daerah.
Garut disebut kaya akan potensi sumber daya alam, termasuk sektor pertambangan dan pariwisata. Namun ironisnya, angka kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan persoalan tata kelola pemerintahan masih menjadi pekerjaan rumah serius.
“Jika kekayaan alam terus dieksploitasi tanpa keberpihakan terhadap rakyat, maka yang hebat bukanlah kesejahteraannya, melainkan paradoksnya,” tegas salah satu perwakilan Cipayung.
Forum juga menyoroti praktik relasi kuasa yang dinilai masih kental dengan kepentingan kelompok, lemahnya meritokrasi birokrasi, serta minimnya transparansi dalam pengelolaan kebijakan publik. Menurut peserta diskusi, peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum evaluasi struktural, bukan sekadar seremoni simbolik.
Dari Mimbar ke Gerakan
Mimbar Cipayung Garut tidak berhenti pada diskusi. Forum ini menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan puas menjadi penonton perayaan tahunan tanpa perubahan nyata.
Sebagai bentuk komitmen moral dan keberpihakan kepada masyarakat, Cipayung Plus Garut membuka kemungkinan untuk menggelar gerakan lanjutan sebagai “kado terindah” bagi Garut—kado berupa kritik konstruktif, kontrol sosial, dan tekanan moral agar arah pembangunan kembali pada kepentingan rakyat.
Mahasiswa menegaskan bahwa Hari Jadi Garut tidak boleh menjadi “hari jadi-jadian”: meriah di panggung, namun sunyi dalam keadilan; ramai dalam seremoni, namun kosong dalam substansi.
Seruan Refleksi
Melalui mimbar ini, mahasiswa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berani jujur menilai kondisi daerah. Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari infrastruktur fisik dan perayaan simbolik, tetapi dari keberpihakan terhadap rakyat kecil, keterbukaan pemerintahan, dan distribusi keadilan sosial.
Cipayung Plus Garut menyatakan siap menjadi mitra kritis sekaligus kekuatan moral dalam memastikan Garut tidak sekadar bertambah usia, tetapi benar-benar bertumbuh dalam keadilan dan kesejahteraan. (**)









