Polemik Sewa Lahan Teras Cimanuk, Pemda Garut Dinilai Perlu Meluruskan Miskomunikasi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Desember 2025 - 19:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 16 Desember 2025 — Polemik sewa-menyewa lahan Teras Manuk kembali mencuat ke ruang publik. Sejumlah pihak mempertanyakan kejelasan status lahan, alur sewa, hingga lambannya respons Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Garut terhadap permohonan perpanjangan kerja sama yang diajukan investor.

 

Menanggapi hal tersebut, mantan Bupati Garut H. Rudy Gunawan, S.H., M.H., M.Pd., menyampaikan klarifikasi guna meluruskan informasi yang dinilai simpang siur, khususnya terkait kewajiban pembayaran sewa serta status kepemilikan lahan Teras Cimanuk. Klarifikasi tersebut disampaikan dalam program siaran Bianglala Pagi di Radio Medina FM.

 

Rudy menjelaskan bahwa kebijakan pengelolaan kawasan Teras Cimanuk pada masa kepemimpinannya telah melalui proses administrasi dan pertimbangan sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, pengelolaan kawasan tersebut tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melibatkan perangkat daerah terkait.

 

“Semua kebijakan yang diambil saat itu didasarkan pada aturan, prosedur, dan kebutuhan daerah, termasuk dalam rangka penataan kawasan pascabanjir bandang,” ujar Rudy.

 

Ia menuturkan, Teras Cimanuk dibangun sebagai bagian dari penataan kawasan sungai sekaligus ruang publik yang diharapkan memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Kerja sama dengan pihak ketiga dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi aset daerah tanpa mengabaikan kepentingan Pemda.

 

Terkait isu pembayaran sewa dan alur kerja sama, Rudy menyebut mekanisme keuangan dan hubungan hukum telah dibahas dan dikomunikasikan dengan instansi terkait. Ia juga mengaku memiliki dokumentasi serta rekam komunikasi sebagai dasar pengambilan kebijakan.

 

“Jika sekarang muncul perbedaan tafsir, menurut saya perlu diluruskan dengan melihat kembali dokumen dan konteks kebijakan saat itu,” tambahnya.

 

Rudy menegaskan bahwa penyewa lahan, yakni investor bernama Anton, menyewa langsung kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Garut, bukan kepada Korem atau pihak lainnya. Keterlibatan Korem, kata dia, hanya terjadi pada tahap awal pascapembersihan lokasi terdampak banjir bandang.

Baca Juga :  PKB Garut Gelar Musancab Serentak, Imas Aan Ubudiah Tekankan Penguatan Struktur dan Soliditas Kader Kecamatan

 

“Awalnya saya menyarankan investor berkomunikasi dengan Korem karena saat itu lokasi masih berupa puing-puing bekas banjir bandang. Setelah dibersihkan, barulah direkonstruksi menjadi area parkir,” jelasnya.

 

Berawal dari Pascabanjir Bandang

Lahan Teras Manuk merupakan kawasan terdampak banjir bandang besar yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan parah. Saat itu, area tersebut dipenuhi bangunan liar, dinilai kumuh, dan berisiko tinggi.

 

Sekitar 2019–2020, investor mengajukan inisiatif untuk membersihkan kawasan tersebut. Proses pembersihan puing dan sisa material bangunan dilakukan sepenuhnya dengan biaya investor, sebelum diajukan kerja sama sewa sesuai Permendagri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.

 

Perjanjian sewa ditetapkan selama lima tahun dengan ketentuan bangunan bersifat nonpermanen serta tetap memperhatikan jarak aman dari bibir sungai sebagai bagian dari mitigasi bencana.

 

Status Lahan Milik Pemda

Mengenai status lahan, Rudy menjelaskan bahwa sebelum 2015 lahan tersebut sempat dianggap sebagai aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun, setelah klarifikasi bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN), lahan tersebut tidak tercatat sebagai aset provinsi.

 

Pemda Garut kemudian melakukan sertifikasi terhadap sedikitnya 16 bidang tanah, termasuk lahan Teras Manuk. Sertifikat atas nama Pemda Garut terbit secara bertahap, dengan sertifikat lahan Teras Manuk keluar pada Desember 2021 dan diterima pada 2022.

 

“Tanah yang disewa itu adalah tanah milik Pemda Garut berdasarkan sertifikat. Sebagian sudah berstatus hak pakai atas nama Pemda,” tegasnya.

Baca Juga :  Temukan Lansia Desil 2 Belum Tersentuh Bansos, Ketua DPRD Garut Aris Munandar dan Yudha Puja Turnawan Minta Dinsos Evaluasi Total Pendataan Kemiskinan

 

Sewa Dibebaskan Saat Pandemi

Dalam perjalanannya, kewajiban pembayaran sewa sempat dibebaskan selama sekitar dua tahun akibat pandemi COVID-19. Kebijakan tersebut merupakan bentuk relaksasi, mengingat investasi yang telah dikeluarkan cukup besar sementara aktivitas usaha hampir terhenti.

 

“Secara bisnis investor sebenarnya mengalami kerugian, tetapi kawasan tersebut menjadi terawat dan tidak lagi kumuh,” ujarnya.

 

Perpanjangan Sewa Dinilai Lambat Direspons

Persoalan mencuat ketika masa sewa mendekati berakhir. Berdasarkan Permendagri 19/2016, perpanjangan sewa dimungkinkan dengan pengajuan permohonan paling lambat empat bulan sebelum masa sewa berakhir. Namun, menurut investor, permohonan perpanjangan tidak segera mendapat jawaban dari Pemda.

 

Respons resmi baru diterima sekitar delapan bulan kemudian dengan keputusan bahwa sewa tidak diperpanjang.

 

“Keterlambatan inilah yang menjadi persoalan. Jika memang tidak diperpanjang karena alasan tata ruang atau zona merah, seharusnya disampaikan sejak awal,” kata Rudy.

 

Pemda Garut beralasan lokasi Teras Manuk termasuk zona merah berdasarkan Perda Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Meski demikian, Rudy menilai masih terdapat ruang dialog dan mitigasi, mengingat di beberapa kawasan zona merah lain tetap dilakukan pembangunan dengan pengamanan teknis.

 

Menurutnya, polemik ini lebih disebabkan oleh miskomunikasi di level teknis, bukan semata persoalan hukum.

 

“Seharusnya dialog dulu. Aturannya ada, tinggal duduk bersama secara profesional. Mau diperpanjang atau tidak, komunikasinya harus jelas,” tegasnya.

 

Ia berharap ke depan pengelolaan aset daerah dapat dilakukan secara lebih transparan dan responsif agar tidak menimbulkan kegaduhan publik serta tetap menjaga kepercayaan investor terhadap pemerintah daerah.

 

Berita Terkait

Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar
DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita
ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok
Ketua PA GMNI Bung Kalam Ucapkan Selamat kepada Abdusy Syakur Amin, Dorong Golkar Garut Jadi Partai Modern dan Transformatif
Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS
Dorong Pertumbuhan CASA, BRI BO Cibadak Beri Penghargaan kepada Dua Agen BRILink
Gerilya Para Pemburu Kursi Sekda Garut: Manuver Senyap Kandidat Pengganti Nurdin Yana Mulai Terendus
Inovasi Garut Mulai Dilirik Daerah Lain, Split Payment Bapenda Jadi Perhatian Komisi III DPRD Kota Tangerang
Berita ini 135 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:39 WIB

Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar

Senin, 21 September 2026 - 22:34 WIB

DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita

Senin, 21 September 2026 - 22:04 WIB

ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok

Senin, 21 September 2026 - 18:33 WIB

Ketua PA GMNI Bung Kalam Ucapkan Selamat kepada Abdusy Syakur Amin, Dorong Golkar Garut Jadi Partai Modern dan Transformatif

Jumat, 18 September 2026 - 20:49 WIB

Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS

Berita Terbaru