Perizinan Kacau, Ritel Modern Tumbuh di Atas Jeritan Pedagang Kecil yang Diabaikan: Pemkab Garut Dinilai Tutup Mata

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 16 Januari 2026 — Menjamurnya minimarket di Kabupaten Garut kian menuai sorotan tajam publik. Fenomena ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai pertumbuhan bisnis ritel modern, melainkan telah mengarah pada dugaan pelanggaran peraturan daerah, pengabaian perlindungan UMKM, serta lemahnya pengawasan lintas sektor oleh instansi teknis terkait.

 

Sejumlah pihak mendesak Pemerintah Kabupaten Garut untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan minimarket yang telah diterbitkan. Desakan tersebut ditujukan khususnya kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

 

Dugaan Pelanggaran Perda Penataan Minimarket

Peraturan Daerah Kabupaten Garut tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko swalayan secara tegas mengatur ketentuan jarak pendirian minimarket, yakni:

Minimal 200 meter dari pasar tradisional skala pelayanan kabupaten

Minimal 250 meter dari pasar tradisional skala pelayanan kecamatan

Ketentuan ini dimaksudkan sebagai instrumen perlindungan ekonomi rakyat dan keberlangsungan pasar tradisional. Namun, di lapangan ditemukan sejumlah minimarket yang diduga berdiri dalam radius terlarang, bahkan berdekatan langsung atau berhadap-hadapan dengan pasar tradisional serta warung kecil milik warga.

 

Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat bahwa proses penerbitan izin tidak dilakukan secara cermat dan tidak patuh terhadap Perda. Jika terbukti, izin-izin tersebut berpotensi cacat administratif, melanggar asas kehati-hatian, dan membuka ruang pelanggaran hukum.

Baca Juga :  Musda SEMMI Garut Cetak Pengurus Kompeten dan Berintegritas untuk Melanjutkan Estafet Kepemimpinan

 

Lemahnya Perlindungan terhadap UMKM

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah secara jelas mewajibkan pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi UMKM. Dalam Pasal 7 dan Pasal 8 ditegaskan bahwa perlindungan usaha kecil harus dilakukan melalui penataan lokasi usaha yang adil serta pencegahan penguasaan pasar oleh usaha bermodal besar.

 

Menjamurnya minimarket di sekitar pasar tradisional dan permukiman padat justru dinilai bertolak belakang dengan semangat undang-undang tersebut. Alih-alih melindungi pedagang kecil, kebijakan perizinan yang longgar dinilai mempercepat matinya usaha rakyat secara perlahan dan sistematis.

 

Indikasi Persaingan Usaha Tidak Sehat

Praktik ini juga dinilai berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ketika minimarket dibiarkan menguasai wilayah ekonomi lokal tanpa pengendalian jarak, jumlah, serta dampak sosial, maka persaingan usaha menjadi tidak setara.

Pedagang kecil dipaksa berhadapan langsung dengan korporasi ritel bermodal besar, memiliki jaringan luas, dan sistem distribusi masif, tanpa perlindungan kebijakan yang memadai dari pemerintah daerah.

 

Baca Juga :  PAN Tetapkan Tiga Formatur DPD Garut Periode 2025–2030

Tanggung Jawab Lintas Dinas Dipertanyakan

Situasi ini memunculkan pertanyaan kritis terhadap peran dan fungsi instansi teknis terkait. Disperindag dinilai perlu mengevaluasi dampak ekonomi dan persaingan usaha, Dishub terkait analisis dampak lalu lintas, PUPR mengenai kesesuaian tata ruang, DLH terkait dampak lingkungan, serta DPMPTSP dalam memastikan seluruh proses perizinan berjalan sesuai ketentuan hukum.

 

Publik mempertanyakan apakah seluruh kajian tersebut benar-benar dilakukan secara substantif, atau sekadar menjadi formalitas administratif demi meloloskan izin usaha.

Desakan Evaluasi dan Penegakan Hukum

Pemerintah Kabupaten Garut didesak untuk segera mengambil langkah tegas, di antaranya:

Melakukan audit total terhadap seluruh perizinan minimarket

Mengevaluasi peran dan rekomendasi dinas teknis terkait

Mencabut izin minimarket yang terbukti melanggar Perda

Menghentikan sementara penerbitan izin baru hingga evaluasi selesai

Mengembalikan fungsi Perda sebagai instrumen keadilan ekonomi

Jika pembiaran terus terjadi, persoalan ini tidak lagi dapat disebut sebagai kesalahan administratif semata, melainkan berpotensi menjadi kejahatan kebijakan (policy crime) yang merugikan kepentingan ekonomi rakyat secara luas.

 

Kasus menjamurnya minimarket di Kabupaten Garut menjadi cermin krisis keberpihakan kebijakan. Ketika Perda diabaikan, UMKM terpinggirkan, dan pengawasan lintas dinas melemah, maka yang dipertaruhkan bukan hanya eksistensi pasar tradisional, melainkan masa depan kedaulatan ekonomi daerah itu sendiri. (Red)

Berita Terkait

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya
Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor
Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius
Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.
Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut
RDTR Garut: Ketika Kepastian Hukum Tata Ruang Terus Tertunda
Dugaan Kerugian hingga Rp3 Miliar, Kuasa Hukum Pelapor Lakukan Langkah di Polres Garut
Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas, GAPENSI dan Pemkab Garut Bersinergi untuk Pembangunan Infrastruktur Daerah
Berita ini 43 kali dibaca
Perizinan Kacau, Ritel Modern Tumbuh di Atas Jeritan Pedagang Kecil yang Diabaikan: Pemkab Garut Dinilai Tutup Mata

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 12:40 WIB

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya

Kamis, 5 November 2026 - 23:22 WIB

Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor

Kamis, 5 November 2026 - 18:05 WIB

Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius

Kamis, 5 November 2026 - 15:18 WIB

Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.

Minggu, 1 November 2026 - 21:35 WIB

Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut

Berita Terbaru