Garut Opini, Nusaharianmedia.com – Dalam dinamika sosial dan politik, ada dua tipe manusia yang selalu menonjol: mereka yang berani menentang demi prinsip dan mereka yang memilih tunduk demi keuntungan pribadi.
Di sisi lain,perbedaan utama di antara keduanya terletak pada keberanian mempertahankan harga diri dan kesetiaan terhadap nilai-nilai moral.
Seorang pembangkang kerap menghadapi berbagai tekanan karena sikap kritisnya terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil. Namun, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar dalam masyarakat justru lahir dari keberanian mereka yang berani berkata “tidak” kepada kekuasaan yang semena-mena.
Sementara mereka rela menempuh jalan penuh rintangan daripada mengkhianati keyakinan dan prinsip mereka.
Sebaliknya, kaum penjilat lebih memilih jalur aman dengan selalu mengikuti arus kekuasaan. Mereka mendukung setiap kebijakan tanpa pertimbangan moral, demi mempertahankan posisi dan kepentingan mereka.
Ironisnya, ketika kekuasaan berganti, mereka dengan mudah berpindah haluan dan menunjukkan loyalitas kepada penguasa baru, membuktikan bahwa kesetiaan mereka hanya sebatas kepentingan pribadi.
Namun, satu hal yang tak bisa dibeli adalah kehormatan. Para pembangkang mungkin hidup dalam keterasingan, tetapi mereka memiliki integritas dan kebebasan berpikir yang jauh lebih berharga dibandingkan kenyamanan semu para penjilat.
Selain itu, mereka yang terbiasa tunduk tanpa prinsip akan selalu dikenang sebagai oportunis yang hanya menjadi alat bagi kekuasaan.
Pada akhirnya, sejarah lebih menghargai keberanian mereka yang memilih melawan demi kebenaran daripada mereka yang tunduk tanpa prinsip. Sebab, kekuasaan bisa berubah, tetapi harga diri dan martabat adalah warisan yang abadi. (Penulis Diki Kusdian)