Disnakertrans Garut Respons TKI Terlantar di Malaysia, Istri Menangis Menunggu Suami Pulang

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026 - 08:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 9 September 2026 — Pergi ke Malaysia dengan harapan bisa mengubah nasib keluarga, Yana (38), warga Kampung Sindangwargi, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, justru menghadapi kehidupan yang jauh dari bayangan.

 

Jauh dari istri dan anak-anaknya, Yana bersama rekannya, Entis, disebut harus bertahan dalam kondisi serba sulit. Bahkan untuk sekadar mengisi perut pun, keduanya pernah mengalami keadaan yang begitu memprihatinkan.

 

Di Garut, sang istri, Elvia (36), hanya bisa menunggu. Ia ingin suaminya pulang, tetapi keinginan itu terbentur persoalan biaya.

 

Elvia tidak memiliki cukup uang untuk menjemput suaminya dari Malaysia.

 

Yana sebelumnya berangkat bersama sejumlah warga Garut untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Mereka disebut berangkat melalui jalur ilegal setelah mendapat tawaran pekerjaan dengan penghasilan yang dijanjikan dapat mencapai Rp10 juta per bulan.

 

Janji penghasilan besar membuat harapan tumbuh. Yana ingin bekerja jauh dari kampung halaman demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

 

Namun kenyataan di Malaysia justru berbeda.

 

Penghasilan yang diterima disebut jauh lebih kecil dari yang dibayangkan. Sebagian besar uang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama berada di Malaysia. Sementara uang yang dapat dikirimkan kepada keluarga di Garut sangat terbatas.

 

Elvia mengaku terkadang hanya menerima kiriman sekitar Rp400 ribu dalam sebulan. Pada bulan tertentu jumlahnya sekitar Rp700 ribu, dan paling besar sekitar Rp1 juta.

 

Bahkan di saat uang benar-benar habis, Yana dan Entis disebut pernah tidak mampu membeli makanan.

 

” Yang membuat kita sedih itu, suami saya itu pernah sampai sore dengan rekannya itu belum makan karena perbekalan sudah habis. Kadang mereka mencari makanan seadanya di hutan mencari sayur-sayuran yang didapat. Kadang mereka juga makan hanya mie instan. Biasanya mereka itu suka ngutang dulu di tempat belanja di lokasi kerja dan setelah gajian baru dibayar dipotong langsung. Tapi terkadang sisa gaji pun tak cukup untuk perbekalan hidup 1 bulan di Malaysia sehingga mereka terkadang kesulitan untuk mendapatkan makan,” ujarnya Selasa 8 September 2026.

Baca Juga :  Polres Garut Tingkatkan Patroli Malam Hari, Antisipasi Premanisme, C3, Pungli, Perang Sarung, Petasan dan Saur One The Road

 

Bagi Elvia, mendengar cerita tersebut dari suaminya menjadi beban batin yang tidak mudah ditanggung. Ia berada ribuan kilometer dari Yana, sementara dirinya sendiri juga harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga di Garut.

 

Kondisi Yana dan Entis pun semakin tidak menentu. Mereka disebut sempat kehilangan pekerjaan hingga beberapa waktu harus menganggur dan terlantar di Malaysia.

 

Beruntung, seorang warga Bangladesh kemudian membantu keduanya dengan mencarikan pekerjaan kembali.

 

Persoalan lain yang membuat keluarga semakin cemas adalah ketidakjelasan mengenai tempat Yana bekerja.

 

” Bahkan suami saya itu tidak mengetahui sebetulnya dia itu bekerja di daerah mana. Entah bagaimanakah suami pun tidak mengetahui secara pasti di mana mereka bekerja, di perusahaan apa mereka bekerja. Bahkan pernah mereka diputus kerja sehingga beberapa waktu mereka menganggur di sana dan terlantar. Untung waktu itu ada warga Bangladesh yang menolong mereka dan mencarikan mereka kerja lagi,” ujarnya.

 

Dari kelompok warga Garut asal Kecamatan Samarang yang berangkat ke Malaysia, terdapat empat orang yang disebut bekerja di sana. Dua orang di antaranya telah berhasil kembali ke Indonesia.

 

Salah seorang pulang karena mengalami sakit serius. Sementara seorang lainnya harus kembali setelah keluarganya menjual lahan pertanian untuk mengumpulkan uang sekitar Rp7 juta sebagai biaya perjalanan pulang.

 

Kondisi tersebut membuat Elvia semakin sadar bahwa membawa Yana pulang bukan perkara mudah.

 

Kini Elvia tinggal bersama orang tuanya di Kampung Dangdeur, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong. Sebelumnya, ia dan Yana tinggal di rumah kontrakan. Namun, keterbatasan ekonomi membuat Elvia akhirnya kembali ke rumah orang tuanya.

 

Hari-harinya diisi dengan mengurus dua anak yang masih kecil dan seorang anggota keluarga yang sudah lanjut usia.

 

Ia sebelumnya pernah bekerja sebagai buruh cuci di Kecamatan Samarang. Namun kini pekerjaan itu tidak lagi dijalaninya.

 

Di tengah kondisi tersebut, Elvia tidak tahu harus mencari uang dari mana untuk memulangkan suaminya.

Baca Juga :  Pelarian Berakhir: Dua Pelaku Curanmor Dibekuk Polsek Caringin, Satu Sempat Kabur Ke Perkampungan

 

“Sementara saya bagaimana bisa mencari uang sebesar itu karena untuk biaya hidup di sini juga saya kesulitan. Saya mengurus 2 orang anak yang masih kecil dan satu orang tua yang sudah jompo. Sebelumnya saya pernah menjadi buruh nyuci di kecamatan Samarang tapi sekarang ini ketika tinggal di rumah orang tua saya saya tidak lagi bekerja,” ujar Elvia sambil berurai air mata.

 

Tangisan itu menjadi gambaran betapa beratnya posisi Elvia. Di satu sisi, ia ingin suaminya segera pulang. Di sisi lain, kehidupan sehari-hari bersama anak-anak pun masih harus dijalani dengan segala keterbatasan.

 

Ia berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.

 

Elvia berharap Pemerintah Kabupaten Garut, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dapat membantu kepulangan Yana dan Entis dari Malaysia.

 

Harapan itu kemudian mendapat respons dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Garut.

 

Kepala Disnakertrans Garut Nia Gania Karyana meminta pihak keluarga menyampaikan surat permohonan dan data lengkap agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti.

 

” Silahkan minta surat permohonan ke dinas tenaga kerja dan dengan datanya,” ujar Nia Gania melalui sambungan WhatsApp.

 

Pada Selasa sore, pihak Disnakertrans Garut juga memfasilitasi media untuk memperoleh informasi lebih lengkap dengan mempertemukan pihak terkait, termasuk pekerja yang telah kembali ke Indonesia dan keluarga yang masih menunggu kepulangan anggota keluarganya.

 

Bagi Elvia, kepulangan Yana kini menjadi satu-satunya harapan yang terus ia pegang.

 

Ia tidak sedang menunggu oleh-oleh dari Malaysia. Ia juga tidak sedang menunggu uang dalam jumlah besar.

 

Ia hanya menunggu suaminya pulang.

 

Pulang untuk kembali memeluk anak-anaknya. Pulang untuk kembali berada di samping istrinya. Dan pulang agar keluarganya tidak lagi harus menunggu dalam kecemasan tentang bagaimana nasibnya jauh di negeri orang.

 

Di tengah air mata dan keterbatasan ekonomi, Elvia masih menyimpan harapan yang sederhana: semoga suaminya bisa kembali ke Garut dalam keadaan selamat.

Berita Terkait

Aset Publik Dipakai Bisnis Provider, BPKAD Garut Akui Belum Ada Kontribusi Pemanfaatan Aset Daerah
Lebakagung Juara Liga Desa Garut 2026 usai Menang Dramatis 3-2 atas Sukawargi, Camat Karangpawitan Dorong Pembinaan Atlet Muda Berkelanjutan
Raperda PKL Tengah Dibahas, Penataan Pasar Baru Sudah Berjalan, Rawink Rantik Pertanyakan Dasar Hukum dan Sinkronisasi Kebijakan Pemkab-DPRD
Budaya Sunda Bagian dari Jati Diri, H. Aten Munajat Dorong Pelestarian, Penggerak Ekonomi, dan Peningkatan Kesejahteraan Seniman
Konfercab III, Kalamullah Apandi Resmi Pimpin PA GMNI Garut, Targetkan Organisasi Solid, Melek Teknologi dan Aktif Advokasi Sosial
Semarak Maulid Nabi, RW 08 Intan Regency Gelar Khitan Kadeudeuh bagi 25 Anak sebagai Wujud Kepedulian Warga
Aset Daerah hingga Tanah Warga Dipasangi Tiang Provider, Legalitas dan Izinnya Dipertanyakan: Siapa Pemiliknya dan Siapa yang Mengizinkan?
Ketua Cabor Drum Band Garut Geram Atlet Latihan Dipungut Parkir 
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 15:20 WIB

Aset Publik Dipakai Bisnis Provider, BPKAD Garut Akui Belum Ada Kontribusi Pemanfaatan Aset Daerah

Rabu, 9 September 2026 - 08:33 WIB

Disnakertrans Garut Respons TKI Terlantar di Malaysia, Istri Menangis Menunggu Suami Pulang

Selasa, 8 September 2026 - 21:39 WIB

Lebakagung Juara Liga Desa Garut 2026 usai Menang Dramatis 3-2 atas Sukawargi, Camat Karangpawitan Dorong Pembinaan Atlet Muda Berkelanjutan

Senin, 7 September 2026 - 17:49 WIB

Raperda PKL Tengah Dibahas, Penataan Pasar Baru Sudah Berjalan, Rawink Rantik Pertanyakan Dasar Hukum dan Sinkronisasi Kebijakan Pemkab-DPRD

Minggu, 6 September 2026 - 19:18 WIB

Konfercab III, Kalamullah Apandi Resmi Pimpin PA GMNI Garut, Targetkan Organisasi Solid, Melek Teknologi dan Aktif Advokasi Sosial

Berita Terbaru