FPRB Cimahi Gelar Sosialisasi dan Simulasi Mitigasi Bencana di RW 18 Cipageran: Bangun Kesadaran Mandiri Hadapi Risiko Bencana Alam

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 27 April 2025 - 20:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cimahi,Nusaharianmedia.com –
Kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana menjadi faktor kunci dalam meminimalisir dampak ketika bencana terjadi. Hal inilah yang mendorong Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Cimahi melaksanakan kegiatan sosialisasi, edukasi, dan simulasi mitigasi bencana di RW 18 Kelurahan Cipageran.

Sementara untuk kegiatan ini, berlangsung sejak 26 April 2025 ini sepenuhnya digelar secara swadaya dan mandiri bersama masyarakat.

Mengusung semangat penguatan kapasitas komunitas lokal, acara ini dimulai dengan sesi penyampaian informasi kebencanaan dan donor darah. Keesokan harinya, dilanjutkan dengan simulasi penanganan situasi darurat saat bencana, yang melibatkan partisipasi aktif puluhan warga dari berbagai usia.

Antusiasme Warga: Kesadaran Dimulai dari Hal Sederhana

Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme tinggi dari masyarakat. Warga tampak serius mengikuti arahan dan simulasi, memahami pentingnya langkah-langkah evakuasi, perlindungan diri, hingga prinsip-prinsip dasar pertolongan pertama.

Salah satu warga yang turut serta, Ibu Ida yang akrab disapa “Nenek”, meski telah berusia lanjut, dengan penuh semangat mengikuti setiap sesi yang diberikan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami mendapat tambahan ilmu tentang bagaimana menghadapi bencana. Harapannya, makin banyak warga lain yang bergabung di masa depan, supaya kita semua lebih siap dan tidak panik saat bencana terjadi,” tutur Nenek penuh semangat. Minggu, (27/04/2025).

Senada, Ketua RT Yayat Ruhiyatna menyoroti kondisi geografis lingkungan yang rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari rumah bertingkat, menara telekomunikasi, hingga pohon-pohon tua yang berpotensi roboh saat bencana terjadi.

“Lewat pelatihan ini, kami jadi tahu risiko-risiko yang sebelumnya mungkin kami abaikan, seperti pentingnya memperhatikan radius aman di sekitar menara. Edukasi seperti ini sangat perlu agar keselamatan warga tetap terjaga,” ujarnya.

Kebutuhan Mendesak: Penguatan Kapasitas Masyarakat Lokal

Dalam sesi penutupan, Ketua FPRB Kota Cimahi, Panji Lawalanu, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons atas permintaan warga sendiri. Menurutnya, keinginan masyarakat untuk belajar tentang mitigasi adalah sinyal positif yang harus terus disemai.

“Ini bukan inisiatif sepihak dari FPRB, melainkan hasil dialog dengan warga RW 18 Cipageran. Kami melihat kesadaran mulai tumbuh. Tentu, ini harus kita dorong bersama,” ucap Panji.

Ia mengingatkan bahwa berdasarkan kajian risiko bencana, Kota Cimahi menghadapi ancaman besar dari aktivitas Sesar Lembang yang berpotensi memicu gempa bumi kuat.

Gempa, lanjutnya, adalah bencana yang terjadi tanpa peringatan dini, sehingga upaya penyelamatan diri tidak bisa semata-mata bergantung pada bantuan instansi formal.

“Kita tidak bisa hanya berharap pada BPBD, PMI, atau Tagana. Saat gempa terjadi, mereka butuh waktu untuk menjangkau semua lokasi terdampak, apalagi Kota Cimahi memiliki 312 RW yang harus ditangani. Karenanya, kemandirian warga dalam menyelamatkan diri menjadi kunci,” tegas Panji.

Ajakan untuk Kolaborasi Nyata

Panji menekankan pentingnya keterlibatan semua unsur dalam upaya mitigasi, mengingat besarnya tantangan dalam menghadapi bencana alam. Ia meminta agar prinsip pentahelix, sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media — benar-benar diterapkan, bukan sekadar jargon.

“Kami sudah memulai dari komunitas. Yang kami butuhkan sekarang adalah dukungan nyata dari pemerintah yang punya program, anggaran, kewenangan, dan kebijakan. Bencana adalah urusan semua pihak. Kalau tidak ada kesadaran kolektif, maka saat bencana terjadi, semua harus siap memulai kembali dari nol,” pungkas Panji.

Melalui kegiatan ini, FPRB Cimahi berharap tumbuhnya budaya sadar risiko di tengah masyarakat, sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. (Asep, S)
Baca Juga :  Kanit Turjagawali Ipda Ade Sulaeman Sigap Tangani Pohon Tumbang di Jalan Suherman, Satu Orang Luka dan Arus Lalu Lintas Dialihkan Sementara

Berita Terkait

GMBI Distrik Garut Peringati Harlah ke-24 dengan Sholawat Kebangsaan dan Aksi Sosial
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Ahab Sihabudin Gelar “Sapa Warga Berbasis Budaya”, Ajak Seniman Perkuat Identitas Lokal
Sekolah Sungai Cimanuk Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini di Hari Air Sedunia 2026
Libur Idul Fitri 1447 H, Kebun Binatang Cikembulan Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga di Garut
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Garut Soroti Kesiapan LKPJ 2025, Kinerja Pemkab dan DPRD Dipertanyakan Jelang 31 Maret
DPRD Garut Hadiri Halal Bihalal Tingkat Kabupaten, Perkuat Silaturahmi dan Sinergi Pembangunan
Lonjakan Harga LPG 3 Kg di Garut, Bupati Soroti Masalah Distribusi dan Oknum di Lapangan
Praktisi Hukum Cacan Cahyadi, SH., Warning Dugaan Intervensi Muscab Partai Persatuan Pembangunan Garut, ASN Diminta Tetap Netral
Berita ini 73 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 20:47 WIB

GMBI Distrik Garut Peringati Harlah ke-24 dengan Sholawat Kebangsaan dan Aksi Sosial

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:53 WIB

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Ahab Sihabudin Gelar “Sapa Warga Berbasis Budaya”, Ajak Seniman Perkuat Identitas Lokal

Jumat, 27 Maret 2026 - 22:36 WIB

Sekolah Sungai Cimanuk Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini di Hari Air Sedunia 2026

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:28 WIB

Libur Idul Fitri 1447 H, Kebun Binatang Cikembulan Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga di Garut

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:16 WIB

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Garut Soroti Kesiapan LKPJ 2025, Kinerja Pemkab dan DPRD Dipertanyakan Jelang 31 Maret

Berita Terbaru