Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Ahab Sihabudin Gelar “Sapa Warga Berbasis Budaya”, Ajak Seniman Perkuat Identitas Lokal

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com  – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), H. Ahab Sihabudin, S.H.I., menggelar kegiatan bertajuk “Sapa Warga Berbasis Budaya” pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 10.00 WIB di kawasan Situ Bagendit, Kabupaten Garut.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda DPRD Provinsi Jawa Barat dengan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai budaya lokal. Berbagai pertunjukan seni khas Sunda turut memeriahkan acara, di antaranya angklung, reog, dogdog, jaipong, hingga pencak silat.

 

Melalui kegiatan tersebut, Ahab Sihabudin berupaya menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya para pelaku seni dan budayawan. Selain pertunjukan, kegiatan ini juga diisi dengan dialog interaktif bersama seniman yang tergabung dalam Dapur Kolaborasi Seniman Indonesia (DKSI) serta komunitas Dapur Seni.

 

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkaya perspektif untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan budaya daerah di tengah arus modernisasi.

 

Acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme, dengan interaksi langsung antara masyarakat dan wakil rakyat. Momentum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah dan pelaku budaya dalam merumuskan langkah-langkah strategis guna memperkuat identitas lokal serta meningkatkan kesejahteraan seniman.

 

Dalam keterangannya, Ahab Sihabudin menegaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab dalam memajukan seni dan budaya, khususnya di Kabupaten Garut. Ia menilai seni merupakan media efektif untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

 

“Kami berkolaborasi dengan berbagai komunitas, termasuk Dapur Seni. Ini bagian dari tanggung jawab kami untuk memajukan seni dan budaya, khususnya di Kabupaten Garut,” ujarnya.

Baca Juga :  Peringati Milad ke-113, PDM Muhammadiyah Gelar Jalan Santai dan Bagikan 113 Paket Sembako

 

Ia juga menyoroti fenomena masyarakat yang semakin religius, namun belum sepenuhnya selaras dalam praktik sosial. Menurutnya, pendekatan budaya dapat menjadi alternatif yang lebih efektif dibandingkan metode konvensional.

 

“Kita melihat saat ini orang semakin beragama, tetapi dalam praktik sosialnya belum tentu selaras. Maka pendekatan tidak cukup hanya melalui pengajian formal, tetapi juga melalui seni dan budaya sebagai sarana yang lebih menyentuh,” jelasnya.

 

Ahab menambahkan bahwa seni dan budaya di Garut memiliki akar kuat dari nilai-nilai religius. Berbagai kesenian tradisional seperti calung dan kesenian rakyat lainnya lahir dari tradisi masyarakat yang sarat dengan nilai dakwah.

 

“Seni yang lahir di Garut pada dasarnya adalah bahasa dari agama. Oleh karena itu, seni tidak boleh ditinggalkan, justru harus dikembangkan agar menjadi sarana mendekatkan manusia pada nilai-nilai fitrahnya,” katanya.

 

Lebih lanjut, ia menyinggung bagaimana negara lain memanfaatkan seni sebagai media pengaruh global, seperti fenomena drama Korea. Namun, menurutnya, pengembangan seni di Indonesia tidak semata untuk kepentingan ekonomi, melainkan juga sebagai sarana membangun karakter dan nilai masyarakat.

 

“Kalau negara lain menggunakan seni untuk kepentingan ekonomi, kita ingin menjadikannya sebagai sarana dakwah dan membangun akhlak masyarakat—keluarga yang harmonis, kehidupan yang jujur, dan bernegara yang tertib,” tambahnya.

 

Selain itu, Ahab mengungkapkan bahwa dirinya saat ini terlibat sebagai Ketua Panitia Khusus (Pansus) terkait pemajuan kebudayaan di Jawa Barat. Regulasi tersebut tengah disusun untuk mendorong pelestarian, pemanfaatan, serta pembinaan kebudayaan dan kesenian secara berkelanjutan.

Baca Juga :  FAGAR Audiensi dengan Komisi IV DPRD Garut, Desak Penyelesaian Data 2.000 Pendidik yang Belum Masuk DAPODIK

 

“Kami berkewajiban membuat regulasi yang mampu mendorong masyarakat untuk berbudaya dan berkesenian, sekaligus memastikan adanya pembinaan yang berkelanjutan,” jelasnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung ekosistem seni, termasuk keterlibatan lintas dinas serta kolaborasi dengan sektor swasta. Menurutnya, kesenian tidak boleh hanya menjadi pelengkap, tetapi harus menjadi bagian penting dari pembangunan daerah.

 

Sebagai perbandingan, ia mencontohkan keberhasilan Kota Bekasi dalam menjadikan sektor seni dan budaya sebagai salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan.

 

“Di Bekasi, kesenian bisa menghasilkan PAD hingga ratusan miliar rupiah. Artinya, jika dikelola dengan baik dan melibatkan berbagai pihak, seni bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus budaya,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Ahab juga menyampaikan duka cita atas wafatnya salah satu pengurus komunitas seni, seraya mengajak masyarakat untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik.

 

Di akhir kegiatan, ia berharap komunitas seni dan budaya di Garut semakin aktif, kolaboratif, dan terus berkembang demi kemajuan daerah.

 

“Kami berharap seluruh komunitas seni terus bergerak, berkolaborasi, dan menjadi bagian penting dalam membangun peradaban masyarakat yang berbudaya,” pungkasnya.

 

Dengan mengusung konsep berbasis budaya, kegiatan ini diharapkan mampu menghadirkan suasana dialog yang lebih cair, inklusif, dan bermakna bagi masyarakat Garut. (Hil)

Penulis : Hilman

Editor : Tim Nusaharianmedia

Berita Terkait

Kabar Baik! PDAM Tirta Intan Garut Kembali Buka Promo Pemasangan Air, Biaya Mulai Rp500 Ribu
Sapa Warga Berbasis Budaya, Aceng Malki Perkuat Identitas Budaya Sunda di Tengah Modernisasi
Dualisme Memanas, Atep Taofiq Mukhtar Ditegaskan Ketua Resmi FKDT Garut Hasil Forum Terbuka
Rakor KLA Dppkbppa Kabupaten Garut, Perkuat Komitmen Bersama Penuhi Hak Anak
Anggota DPRD Jabar Aceng Malki Hadirkan Layanan Publik Terpadu di Haul Sesepuh Ponpes Hidayatul Faizien Garut
Penandatanganan MOU LKP Bogakabisa dan Ruangrakyatgarut.id, Kolaborasi Perkuat Program PKW Barista 2026
Dari SP-1 ke Meja Hijau: Sengketa Aset Teras Cimanuk Kian Panas, Syam Yousef Gugat Pemkab Garut
Krisis Kualitas MBG di Garut Satu Pekan dua Insiden : SPPG Pasirkiamis dan Banjarwangi Picu Alarm Keras, Pengawasan Dipertanyakan
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 10:53 WIB

Kabar Baik! PDAM Tirta Intan Garut Kembali Buka Promo Pemasangan Air, Biaya Mulai Rp500 Ribu

Sabtu, 11 April 2026 - 08:53 WIB

Sapa Warga Berbasis Budaya, Aceng Malki Perkuat Identitas Budaya Sunda di Tengah Modernisasi

Jumat, 10 April 2026 - 21:04 WIB

Dualisme Memanas, Atep Taofiq Mukhtar Ditegaskan Ketua Resmi FKDT Garut Hasil Forum Terbuka

Kamis, 9 April 2026 - 21:51 WIB

Rakor KLA Dppkbppa Kabupaten Garut, Perkuat Komitmen Bersama Penuhi Hak Anak

Rabu, 8 April 2026 - 16:53 WIB

Penandatanganan MOU LKP Bogakabisa dan Ruangrakyatgarut.id, Kolaborasi Perkuat Program PKW Barista 2026

Berita Terbaru