Nusaharianmedia.com 15 februari 2026 -Momentum Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Aceng Malki, menegaskan bahwa usia dua abad lebih adalah cermin panjang perjalanan sejarah yang seharusnya melahirkan kematangan dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan daerah.
Kabupaten Garut yang berdiri sejak 1813 bahkan lebih tua dari Republik Indonesia. Artinya, daerah yang dikenal dengan filosofi Gumiwang Tanjeur Dangiang ini memiliki akar sejarah, budaya, dan perjuangan yang kuat. Namun sejarah panjang itu harus dibuktikan dengan kemajuan nyata, bukan sekadar kebanggaan simbolik.
Menurutnya, usia 213 tahun seharusnya menjadi momentum refleksi total. Apakah pembangunan sudah benar-benar merata hingga desa-desa? Apakah angka kemiskinan dan pengangguran menunjukkan penurunan signifikan? Apakah pelayanan publik sudah cepat, transparan, dan bebas dari praktik yang merugikan rakyat?
Ia menekankan bahwa hari jadi bukan hanya panggung ucapan selamat dan pesta rakyat, tetapi saat yang tepat untuk mengaudit diri. Pemerintah daerah harus berani membuka data,
mengevaluasi kebijakan, dan memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar berpihak pada masyarakat kecil.
Aceng Malki juga menyoroti pentingnya reformasi birokrasi yang konsisten. Garut yang telah berusia lebih dari dua abad tidak boleh tertinggal dalam hal inovasi pelayanan, digitalisasi, serta transparansi pengelolaan anggaran. Daerah tua harus memiliki semangat muda dalam berbenah.
Generasi muda Garut, lanjutnya, membutuhkan lebih dari sekadar slogan kebanggaan daerah. Mereka membutuhkan akses pendidikan berkualitas, peluang kerja yang nyata, dan ruang partisipasi dalam pengambilan kebijakan. Tanpa itu, semangat Gumiwang Tanjeur Dangiang akan kehilangan makna substantifnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan Garut terletak pada masyarakatnya—petani, santri, pelaku UMKM, dan komunitas adat—yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi dan budaya. Kebijakan pembangunan harus menyentuh langsung kebutuhan mereka, bukan hanya berorientasi pada proyek jangka pendek.
Di usia ke-213 ini, Garut harus berani menjadikan sejarah panjangnya sebagai energi perubahan. Bukan sekadar bangga karena tua sebelum Indonesia merdeka, tetapi bangga karena mampu membuktikan diri sebagai daerah yang adil, transparan, dan benar-benar sejahtera bagi seluruh rakyatnya.









