“Kartini di Persimpangan; Muhammad Angling Kusumah, SM Desak Bupati Garut Tak Lagi Bungkam Atas Derita Perempuan”

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 April 2025 - 14:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oplus_0

oplus_0

Garut, Nusaharianmedia.com – Hari Kartini yang setiap tahun diperingati pada 21 April, selalu menjadi momen simbolik yang menyentuh emosi bangsa. Namun, di balik parade kebaya, puisi, dan potret R.A. Kartini yang terpampang di aula perkantoran, tersimpan ironi mendalam.

Dikatakan Angling, dalam hal ini masih banyak perempuan yang hidup dalam ketidakadilan, menjadi korban kekerasan, dan tak mendapat perlindungan yang semestinya dari negara, termasuk pemerintah daerah.

Kritik Tajam pada Seremonial dan Simbol Semata

Di sisi lain, Angling juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap cara peringatan Hari Kartini yang cenderung seremonial.

“Kita rayakan Hari Kartini dengan kebaya, pawai, dan puisi. Tapi bagaimana dengan perempuan yang menangis dalam diam, karena menjadi korban rudapaksa dan pelecehan, namun tidak mendapat keadilan?” ujarnya. Senin, (21/04/2025).

Menurut Angling, bangsa ini telah terlalu lama terjebak pada glorifikasi simbolik tanpa keberanian menghadapi realita. Ia menyebut bahwa peringatan Hari Kartini sering kali dijadikan panggung formalitas tanpa sentuhan konkret terhadap nasib perempuan yang sesungguhnya.

Sorotan Tajam ke Arah Pemkab Garut

Dalam pernyataan yang blak-blakan,
dia menyoroti Pemerintah Kabupaten Garut, khususnya Bupati, yang dinilainya gagal menunjukkan keberpihakan serius terhadap isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Apa kabar Pak Bupati? Apakah Anda tahu ada berapa perempuan yang menjadi korban kekerasan tahun ini di Garut? Sudahkah Anda membangun shelter aman di tiap kecamatan? Apakah sekolah-sekolah kita sudah punya kurikulum pencegahan kekerasan?” tanya Angling retoris.

Ia menegaskan bahwa Pemkab Garut tampak lebih sibuk dengan agenda tahunan dan pencitraan ketimbang menghadirkan sistem perlindungan nyata bagi korban kekerasan. “Kita butuh tindakan nyata, bukan pidato tahunan,” tambahnya.

Kekerasan Meningkat, Sistem Masih Gagal Melindungi

Dalam paparannya, Muhammad Angling mengungkapkan data internal dan laporan masyarakat yang diterima RRG terkait peningkatan kasus kekerasan seksual di Garut dan kawasan Priangan Timur. Ia menilai bahwa sistem hukum masih sering abai, bahkan cenderung menyudutkan korban.

“Korban tidak hanya mengalami luka fisik dan trauma psikis, tapi juga luka sosial akibat stigma dan ketidakjelasan hukum. Banyak kasus yang mandek di penyelidikan, atau malah diselesaikan secara kekeluargaan tanpa keadilan bagi korban,” katanya.

Ia menyebut bahwa akar masalahnya bukan semata pada pelaku, tapi juga pada sistem negara yang belum berpihak.

“Negara masih gagal melindungi perempuan. Bahkan pemerintah daerah seperti belum punya roadmap yang jelas untuk menangani persoalan ini secara struktural,” katanya.

Dorongan untuk Membangun Gerakan Sipil

Sementara Angling juta telah menyerukan pentingnya membangun kekuatan masyarakat sipil yang mandiri dan tak bergantung pada pemerintah. Ia mengusulkan pembentukan posko pengaduan kekerasan berbasis komunitas, tim pendamping psikososial, serta edukasi publik yang menjangkau sekolah, pesantren, hingga lingkungan terkecil seperti RT dan RW.

“Perempuan punya hak atas tubuhnya, atas hidup yang aman dan bermartabat. Dan itu bukan hanya tugas pemerintah, itu tugas kita semua,” tegasnya.

Ia juga mengkritik aparat penegak hukum yang kerap kali tidak sensitif terhadap korban. “Masih banyak laporan korban yang dipertanyakan, dianggap bohong, atau malah disarankan untuk mencabut laporan. Ini budaya patriarki yang masih kuat, dan harus segera diubah,” tambahnya.

Menanti Langkah Nyata dari Pemerintah

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemkab Garut terhadap pernyataan Angling.

Publik kini menanti: apakah kritik ini akan dijawab dengan kebijakan yang konkret, atau kembali tenggelam dalam alunan seremoni tahunan.

Hari Kartini 2025 di Garut menjadi potret tentang dua wajah: satu dipoles dalam simbol dan pesta, satu lagi sembunyi di balik sunyi, mewakili suara para perempuan yang masih menanti perlindungan.

Suara Muhammad Angling Kusumah, SM ini bukan sekadar kritik. Ia adalah cermin dari realita yang tak bisa lagi disangkal. Bahwa memperingati Kartini tak cukup dengan bunga dan puisi, tapi dengan keberanian untuk membela yang terpinggirkan. (Red)

Baca Juga :  Desa Mekarsari Raih Penghargaan Harapan I Atas Capaian PBB Tertinggi dan Kolektor PBB Terbaik

Berita Terkait

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya
Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor
Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius
Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.
Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut
RDTR Garut: Ketika Kepastian Hukum Tata Ruang Terus Tertunda
Dugaan Kerugian hingga Rp3 Miliar, Kuasa Hukum Pelapor Lakukan Langkah di Polres Garut
Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas, GAPENSI dan Pemkab Garut Bersinergi untuk Pembangunan Infrastruktur Daerah
Berita ini 84 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 12:40 WIB

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya

Kamis, 5 November 2026 - 23:22 WIB

Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor

Kamis, 5 November 2026 - 18:05 WIB

Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius

Kamis, 5 November 2026 - 15:18 WIB

Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.

Minggu, 1 November 2026 - 21:35 WIB

Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut

Berita Terbaru