Nusaharianmedia.com 06 April 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam di Kabupaten Garut. Dalam kurun waktu kurang dari satu pekan, dua insiden dugaan penyaluran makanan tidak layak konsumsi terjadi, memicu kekhawatiran sekaligus kritik keras dari masyarakat.
Kasus Pertama: Ayam Diduga Berbau di SPPG Pasirkiamis
Insiden pertama mencuat pada Rabu, 1 April 2026. Sejumlah siswa dari beberapa sekolah di bawah Yayasan Al-Bukhori Bahrul Ulumuddin mengeluhkan menu ayam dalam paket makan siang yang diduga berbau tidak sedap.
Keluhan muncul tak lama setelah makanan didistribusikan. Para siswa mengaku tidak nyaman karena daging dinilai sudah tidak segar dan mengeluarkan aroma menyengat.
Selain kualitas makanan, keterlambatan distribusi juga menjadi sorotan. Makanan yang baru tiba menjelang siang dinilai tidak memenuhi standar pelayanan karena berpotensi menurunkan tingkat kesegaran.
Pihak SPPG menyebut penurunan kualitas diduga terjadi akibat waktu penyimpanan (holding time) yang terlalu lama, sehingga makanan berada pada suhu yang tidak ideal.
Lonjakan jumlah penerima manfaat yang mencapai 2.861 orang disebut menjadi salah satu penyebab keterlambatan produksi dan distribusi.
Kasus Kedua: Nasi Bau dan Sayur Asam di SDN 3 Bojong
Belum reda polemik tersebut, insiden serupa kembali terjadi pada Senin, 6 April 2026, di SDN 3 Bojong, Kecamatan Banjarwangi.
Puluhan siswa dilaporkan mengeluhkan kondisi makanan MBG yang mereka terima.
Berdasarkan video yang beredar, nasi tercium bau tidak sedap, sementara sayur yang disajikan dilaporkan sudah asam dan tidak layak konsumsi.
SPPG Kampung Sawah Pojok, Desa Banjarwangi, sebagai penyalur dalam kejadian ini turut menjadi sorotan. Saat hendak menyantap makanan, para siswa langsung mencium bau menyengat dari nasi serta aroma asam dari sayur, yang kemudian memicu kekhawatiran para orang tua.
Keluhan juga datang dari orang tua penerima manfaat, termasuk dari posyandu.
“Abi, sampai ka uo nyeri mastaka, pas muka wadah ngahieuk bau. Kelas 1 mah di uihkeun deui utuh, bilih karacunan,” ujar salah satu orang tua dengan nada cemas.
Keluhan lain menyoroti kualitas makanan yang dinilai jauh dari kata layak.
“Sayurna haseum, sareng cau na bau cenah, aya anu kesed oge,” ungkap orang tua lainnya.
Sejumlah orang tua mengaku khawatir terhadap potensi dampak kesehatan yang bisa dialami anak-anak mereka.
Desakan Evaluasi dan Pengawasan Ketat
Rangkaian kejadian ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan program MBG di lapangan. Masyarakat menilai peran Satuan Tugas (Satgas) MBG belum optimal dalam merespons berbagai keluhan.
Desakan pun menguat agar Satgas segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh terhadap SPPG yang terlibat, sekaligus memperketat pengawasan proses produksi dan distribusi makanan.
“Jangan sampai harus ada korban keracunan terlebih dahulu baru bertindak. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” tegas salah satu perwakilan orang tua.
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menganggap remeh persoalan ini. Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi menjadi ancaman apabila tidak dikelola dengan baik dan diawasi secara ketat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan resmi dari Satgas MBG terkait insiden tersebut.
Penulis : Hilman
Editor : Tim Nusaharianmedia









