Krisis Kualitas MBG di Garut Satu Pekan dua Insiden : SPPG Pasirkiamis dan Banjarwangi Picu Alarm Keras, Pengawasan Dipertanyakan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 6 April 2026 - 22:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 06 April 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam di Kabupaten Garut. Dalam kurun waktu kurang dari satu pekan, dua insiden dugaan penyaluran makanan tidak layak konsumsi terjadi, memicu kekhawatiran sekaligus kritik keras dari masyarakat.

Kasus Pertama: Ayam Diduga Berbau di SPPG Pasirkiamis

Insiden pertama mencuat pada Rabu, 1 April 2026. Sejumlah siswa dari beberapa sekolah di bawah Yayasan Al-Bukhori Bahrul Ulumuddin mengeluhkan menu ayam dalam paket makan siang yang diduga berbau tidak sedap.

Keluhan muncul tak lama setelah makanan didistribusikan. Para siswa mengaku tidak nyaman karena daging dinilai sudah tidak segar dan mengeluarkan aroma menyengat.

 

Selain kualitas makanan, keterlambatan distribusi juga menjadi sorotan. Makanan yang baru tiba menjelang siang dinilai tidak memenuhi standar pelayanan karena berpotensi menurunkan tingkat kesegaran.

Pihak SPPG menyebut penurunan kualitas diduga terjadi akibat waktu penyimpanan (holding time) yang terlalu lama, sehingga makanan berada pada suhu yang tidak ideal.

 Lonjakan jumlah penerima manfaat yang mencapai 2.861 orang disebut menjadi salah satu penyebab keterlambatan produksi dan distribusi.

Baca Juga :  Kolaborasi Disdukcapil Garut–Dinsos Jabar Jemput Bola Layani Adminduk Penyandang Disabilitas di Cisurupan

Kasus Kedua: Nasi Bau dan Sayur Asam di SDN 3 Bojong

Belum reda polemik tersebut, insiden serupa kembali terjadi pada Senin, 6 April 2026, di SDN 3 Bojong, Kecamatan Banjarwangi.

 

Puluhan siswa dilaporkan mengeluhkan kondisi makanan MBG yang mereka terima.

 Berdasarkan video yang beredar, nasi tercium bau tidak sedap, sementara sayur yang disajikan dilaporkan sudah asam dan tidak layak konsumsi.

SPPG Kampung Sawah Pojok, Desa Banjarwangi, sebagai penyalur dalam kejadian ini turut menjadi sorotan. Saat hendak menyantap makanan, para siswa langsung mencium bau menyengat dari nasi serta aroma asam dari sayur, yang kemudian memicu kekhawatiran para orang tua.

Keluhan juga datang dari orang tua penerima manfaat, termasuk dari posyandu.

“Abi, sampai ka uo nyeri mastaka, pas muka wadah ngahieuk bau. Kelas 1 mah di uihkeun deui utuh, bilih karacunan,” ujar salah satu orang tua dengan nada cemas.

Keluhan lain menyoroti kualitas makanan yang dinilai jauh dari kata layak.

Baca Juga :  Tragedi Remaja di Bandung Barat, Dua Pelaku Ditangkap di Garut

“Sayurna haseum, sareng cau na bau cenah, aya anu kesed oge,” ungkap orang tua lainnya.

Sejumlah orang tua mengaku khawatir terhadap potensi dampak kesehatan yang bisa dialami anak-anak mereka.

Desakan Evaluasi dan Pengawasan Ketat

Rangkaian kejadian ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan program MBG di lapangan. Masyarakat menilai peran Satuan Tugas (Satgas) MBG belum optimal dalam merespons berbagai keluhan.

Desakan pun menguat agar Satgas segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh terhadap SPPG yang terlibat, sekaligus memperketat pengawasan proses produksi dan distribusi makanan.

“Jangan sampai harus ada korban keracunan terlebih dahulu baru bertindak. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” tegas salah satu perwakilan orang tua.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menganggap remeh persoalan ini. Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi menjadi ancaman apabila tidak dikelola dengan baik dan diawasi secara ketat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan resmi dari Satgas MBG terkait insiden tersebut.

Penulis : Hilman

Editor : Tim Nusaharianmedia

Berita Terkait

Dugaan Penjualan Seragam Rp1,5 Juta di SMP Negeri Jadi Sorotan DPRD Garut
Tak Hanya Publikasi, Bupati Garut Dorong Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lewat Rotinsulu Care Live
Temukan Lansia Desil 2 Belum Tersentuh Bansos, Ketua DPRD Garut Aris Munandar dan Yudha Puja Turnawan Minta Dinsos Evaluasi Total Pendataan Kemiskinan
Muda Bergerak, Ketua DPD KNPI Garut Agil Syahrizal Tegaskan KNPI Impact sebagai Wadah Aksi Nyata Pemuda Jadi Ruang Kolaborasi Nyata Pemuda untuk Menjaga Lingkungan
Dorong Semangat Belajar, Ketua Yayasan As-Saefulloh Garut Bagikan Seragam Gratis dan Santunan Duafa
*Kementan dan IFAD Evaluasi Keberhasilan Program UPLAND, Garut Jadi Percontohan Pengembangan Kentang*
*Fenomena 12.000 Pencari Kerja di Garut: Alarm Transformasi Vokasi Daerah*
*Ayi Suryana Temui Abenk Marco, Bahas Duplikasi Gerakan Ketahanan Pangan Mandiri di Garut*
Berita ini 129 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:38 WIB

Dugaan Penjualan Seragam Rp1,5 Juta di SMP Negeri Jadi Sorotan DPRD Garut

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:24 WIB

Tak Hanya Publikasi, Bupati Garut Dorong Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lewat Rotinsulu Care Live

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:48 WIB

Temukan Lansia Desil 2 Belum Tersentuh Bansos, Ketua DPRD Garut Aris Munandar dan Yudha Puja Turnawan Minta Dinsos Evaluasi Total Pendataan Kemiskinan

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:25 WIB

Muda Bergerak, Ketua DPD KNPI Garut Agil Syahrizal Tegaskan KNPI Impact sebagai Wadah Aksi Nyata Pemuda Jadi Ruang Kolaborasi Nyata Pemuda untuk Menjaga Lingkungan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:05 WIB

Dorong Semangat Belajar, Ketua Yayasan As-Saefulloh Garut Bagikan Seragam Gratis dan Santunan Duafa

Berita Terbaru