Aset Daerah hingga Tanah Warga Dipasangi Tiang Provider, Legalitas dan Izinnya Dipertanyakan: Siapa Pemiliknya dan Siapa yang Mengizinkan?

- Jurnalis

Sabtu, 5 September 2026 - 14:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 5 September — Keberadaan sejumlah tiang jaringan internet/WiFi yang semakin menjamur di berbagai wilayah Kabupaten Garut mulai menjadi perhatian masyarakat. Selain berdiri di sekitar badan jalan dan berdampingan dengan berbagai tiang utilitas, sejumlah tiang jaringan juga disebut berdiri di atas lahan milik pribadi warga.

 

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai legalitas pemasangan, status kepemilikan tiang, dasar penggunaan lahan, serta izin dari pemilik tanah maupun pemerintah daerah.

 

Berdasarkan hasil pantauan di wilayah Desa Mekargalih, Kabupaten Garut, memperlihatkan sejumlah tiang jaringan berdiri berjajar di satu lokasi. Di atasnya terdapat banyak kabel telekomunikasi yang saling berdekatan dan melintas di antara infrastruktur utilitas lainnya.

 

Persoalan ini bukan berarti masyarakat menolak keberadaan jaringan internet. Layanan telekomunikasi justru menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi. Namun, pembangunan infrastrukturnya tetap harus memperhatikan hak kepemilikan tanah, keselamatan, tata ruang, serta ketentuan perizinan yang berlaku.

 

Wildan: Jangan Sampai Tanah Warga Digunakan Tanpa Kejelasan

Aktivis Mekargalih, Wildan, mempertanyakan keberadaan tiang provider yang disebut berdiri di atas lahan milik pribadi warga.

 

Menurut Wildan, persoalan utama yang perlu dijelaskan bukan hanya siapa pemilik jaringan, tetapi juga apakah pemilik lahan mengetahui dan memberikan persetujuan atas pemasangan tiang tersebut.

 

“Kalau memang tiang provider ini berdiri di atas lahan milik warga, tentu harus jelas dasar penggunaannya. Siapa yang meminta izin, kepada siapa izin diberikan, apakah ada perjanjian dengan pemilik lahan, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap keberadaan tiang tersebut,” ujar Wildan.

 

Ia menegaskan, masyarakat tidak bermaksud menghambat pembangunan jaringan internet maupun investasi di bidang telekomunikasi.

Baca Juga :  PB PII Tegas Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian, dinilai Cederai Reformasi dan Independensi

 

“Kami tidak anti terhadap internet atau pembangunan jaringan. Masyarakat tentu membutuhkan akses internet. Tetapi pembangunan jangan sampai mengabaikan hak warga sebagai pemilik tanah. Kalau memang sudah ada izin dan kesepakatan dengan pemilik lahan, tinggal dibuka secara transparan agar tidak menimbulkan pertanyaan di kemudian hari,” katanya.

 

Provider Diminta Transparan

Wildan juga meminta provider yang memasang jaringan di wilayah Mekargalih memberikan penjelasan mengenai status infrastrukturnya.

 

Beberapa hal yang menurutnya perlu diperjelas antara lain:

1. Siapa pemilik tiang dan jaringan tersebut;

2. Siapa pihak yang memasang tiang di lokasi;

3. Apakah telah memperoleh persetujuan pemilik lahan;

4. Apakah terdapat perjanjian pemanfaatan atau sewa lahan;

5. Siapa yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan keamanan tiang maupun kabel;

6. Apakah pemasangan telah memenuhi ketentuan pemerintah daerah dan peraturan yang berlaku.

 

 

“Jangan sampai masyarakat hanya melihat tiang berdiri dan kabel semakin banyak, tetapi tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Harus ada kepastian hukum, terutama kalau yang digunakan adalah tanah milik pribadi warga,” tegas Wildan.

 

 

Pemdes Mekargalih Diminta Turut Memastikan

Selain meminta klarifikasi kepada provider, Wildan juga berharap Pemerintah Desa Mekargalih dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai keberadaan infrastruktur tersebut.

 

Menurutnya, perlu dipastikan terlebih dahulu status lahan tempat tiang berdiri, apakah benar merupakan tanah pribadi, ruang milik jalan, atau terdapat bagian yang berkaitan dengan aset/fasilitas publik.

 

“Kami berharap pemerintah desa juga tidak tinggal diam. Kalau ada laporan atau pertanyaan dari warga, tentu harus ada upaya untuk memastikan status lahannya dan siapa pihak yang menggunakan. Jangan sampai persoalan baru dipermasalahkan setelah jaringan sudah lama beroperasi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Panen Jagung Kuartal II Digelar, Ayi Suryana Apresiasi Kapolres Garut

 

 

Pemkab Garut Perlu Inventarisasi Tiang Provider

 

Persoalan tiang jaringan internet ini dinilai tidak hanya terjadi di satu lokasi. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu melakukan inventarisasi dan pendataan terhadap keberadaan tiang provider di Kabupaten Garut.

 

Pendataan tersebut penting untuk mengetahui jumlah infrastruktur yang terpasang, lokasi pemasangan, pemilik atau operator jaringan, status lahan, serta dasar pemanfaatan ruang yang digunakan.

 

Jika seluruh persyaratan dan izin telah dipenuhi, keberadaan jaringan tentu dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun apabila ditemukan persoalan administrasi atau penggunaan lahan tanpa persetujuan pemilik, maka perlu dilakukan klarifikasi dan penanganan sesuai ketentuan.

 

Wildan kembali menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukan keberadaan internet, melainkan kepastian hukum dan penghormatan terhadap hak masyarakat.

 

“Ini bukan soal menolak provider. Ini soal transparansi dan kepastian. Kalau semua sudah sesuai aturan, ada izin pemilik tanah, ada perjanjian, dan kewajiban lainnya sudah dipenuhi, tentu tidak ada yang perlu dipersoalkan. Tetapi kalau belum jelas, pemerintah dan provider harus memberikan penjelasan kepada masyarakat,” pungkas Wildan.

 

 

Kini perhatian publik tertuju pada siapa pemilik tiang tersebut, siapa operator jaringan yang menggunakannya, siapa yang memberikan izin pemasangan, dan apakah pemilik lahan di Desa Mekargalih benar-benar telah memberikan persetujuan atas pemanfaatan tanahnya. (Hil)

Penulis : Hilman

Editor : Redaksi Nusaharianmedia

Berita Terkait

BRI Peduli Dorong Pemerataan Infrastruktur, Jalan Gang di Tasikmalaya Dibetonisasi
BRI Peduli Rampungkan Jalan Beton dan Penataan Lingkungan di Empat Wilayah Garut
Ade Burhanudin Soroti Pengelolaan PKBM, Anggaran Literasi Jadi Usulan
NGABLU Part 9 di Garut, Komunitas Mobil Yaris Bakpau Usung Semangat “Ngasuh Bareng Keluarga” di Kawasan Wisata Gunung Guntur
Forum TJSLP Dinilai Penting untuk Salurkan CSR bagi Warga Garut yang Tertimpa Musibah
Bukan Hanya Saat Pemilu, Kader PDI Perjuangan Hadir Bantu Warga Korban Kebakaran
Lola Nelria Oktavia Tegaskan Komitmen Perkuat NasDem Garut dan Kesejahteraan Masyarakat
Eksekusi Pengosongan Tanah dan Bangunan di Pasawahan Garut Ditunda Sementara
Berita ini 157 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:13 WIB

BRI Peduli Dorong Pemerataan Infrastruktur, Jalan Gang di Tasikmalaya Dibetonisasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:24 WIB

BRI Peduli Rampungkan Jalan Beton dan Penataan Lingkungan di Empat Wilayah Garut

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Ade Burhanudin Soroti Pengelolaan PKBM, Anggaran Literasi Jadi Usulan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:41 WIB

NGABLU Part 9 di Garut, Komunitas Mobil Yaris Bakpau Usung Semangat “Ngasuh Bareng Keluarga” di Kawasan Wisata Gunung Guntur

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Forum TJSLP Dinilai Penting untuk Salurkan CSR bagi Warga Garut yang Tertimpa Musibah

Berita Terbaru