Nusaharianmedia.com — Pondok Pesantren Wadil Quro Sinapeul 2 Kecamatan Pacet kabupaten bandung mencatat sebuah capaian penting dalam pembinaan pendidikan Al-Qur’an. Salah seorang santrinya, Sri Zazam Nurajijah, Asal Garut Alumni SDN 2 Pasirwangi berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari sejarah baru bagi lingkungan pesantren sekaligus menjadi momentum yang diharapkan dapat memotivasi para santri lainnya untuk terus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Keberhasilan menghafalkan Al-Qur’an secara lengkap hingga 30 juz merupakan proses yang membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, kesabaran, serta konsistensi dalam menjaga hafalan. Bagi lembaga pendidikan berbasis pesantren, capaian tersebut juga menjadi salah satu bentuk keberhasilan dalam membangun tradisi pembelajaran dan pengamalan Al-Qur’an di kalangan generasi muda.
Alumni SDN 2 Pasirwangi Sri Zazam Nurajijah menjadi salah satu santri yang berhasil menuntaskan proses tersebut di Pondok Pesantren Wadil Quro Sinapeul 2. Capaian hafalan 30 juz tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam mengingat ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menuntut proses pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan melalui setoran hafalan, pengulangan atau murojaah, serta bimbingan dari para pengajar.
Dalam pendidikan tahfiz Al-Qur’an, menjaga hafalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan setelah seorang santri menyelesaikan hafalan 30 juz. Karena itu, pencapaian khatam hafalan bukan menjadi akhir dari proses, melainkan bagian dari perjalanan panjang untuk mempertahankan ketepatan bacaan dan kelancaran hafalan.
Pencapaian Sri Zazam Nurajijah juga menjadi kabar membanggakan bagi keluarga dan lingkungan pesantren. Dukungan orang tua, keluarga, Guru, ustaz dan ustazah, serta lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam mendampingi seorang santri selama menjalani proses menghafalkan Al-Qur’an.
Semangat menghafalkan Al-Qur’an juga memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Salah satu hadis yang sering disampaikan dalam konteks keutamaan membaca dan menghafalkan Al-Qur’an.
Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu Majah tersebut disebutkan mengenai keutamaan orang yang membaca dan menghafalkan Al-Qur’an serta syafaat bagi keluarganya. Hadis tersebut kerap menjadi salah satu motivasi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an melalui membaca, mempelajari, menghafalkan, dan mengamalkannya.
Namun, dalam praktik pendidikan tahfiz, proses menghafalkan Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan menyelesaikan 30 juz. Para santri juga perlu menjaga kualitas bacaan sesuai kaidah tajwid, memahami adab terhadap Al-Qur’an, serta berupaya menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan Sri Zazam Nurajijah diharapkan dapat menjadi motivasi bagi santri lain di Pondok Pesantren Wadil Quro Sinapeul 2. Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren memiliki peran dalam membentuk generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an melalui proses pendidikan yang terarah dan berkelanjutan.
” selesainya hafalan 30 juz tentu menjadi sebuah pencapaian yang memiliki nilai tersendiri. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu karena seorang penghafal Al-Qur’an harus membagi waktu antara kegiatan belajar, menghafal, murojaah, dan aktivitas pesantren lainnya.
Momentum tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam menghafalkan Al-Qur’an merupakan hasil dari proses yang panjang. Ketekunan santri perlu berjalan beriringan dengan bimbingan guru serta dukungan keluarga dan lingkungan.
“Pondok Pesantren Wadil Quro Sinapeul 2 kembali memiliki catatan penting dalam perjalanan pendidikan Al-Qur’an. Capaian itu diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi santri dan keluarga, tetapi juga menjadi dorongan bagi lahirnya lebih banyak generasi penghafal Al-Qur’an di lingkungan pesantren.
Editor : L
Sumber Berita : Pondok pesantren









