Yudha Puja Turnawan Serap Aspirasi Seniman Sunda dalam Reses Tematik di Dapil Garut 1

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 Oktober 2025 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Nusaharianmedia.com  — Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, menggelar kegiatan Reses Masa Sidang I Tahun 2025 yang dikemas secara tematik dengan fokus pada pelestarian seni dan budaya Sunda.

Kegiatan berlangsung di Gedung Art Center, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (13/10/2025).

 

Reses tematik ini dihadiri para seniman dan budayawan Sunda dari lima kecamatan di daerah pemilihan Yudha — Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Leles, Kadungora, dan Banyuresmi. Turut hadir pula perwakilan SKPD, seperti Camat Tarogong Kidul Ahmad Mawardi, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Bappeda, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, serta jajaran pengurus DPC, PAC, dan Ranting PDI Perjuangan se-Dapil 1 Garut.

 

Mengusung tema “Ngamumule Sareng Ngalestarikeun Seni Budaya Sunda, Titinggal Karuhun Urang”, Yudha menjelaskan bahwa reses kali ini menjadi wadah penjaringan aspirasi dari para pelaku seni dan budaya agar dapat diperjuangkan dalam kebijakan dan penganggaran daerah (APBD).

 

“Saya ingin menjembatani aspirasi dari para seniman dan budayawan Sunda agar bisa dilokasikan ke dalam APBD Garut serta menjadi perhatian dalam kebijakan daerah,” ujar Yudha.

 

Serap Aspirasi Seniman dan Budayawan

Dalam sesi dialog, sejumlah tokoh budaya seperti Abah Nay dari Kampung Cibunar, serta perwakilan dari Leles dan Kadungora, menyampaikan keprihatinan atas menurunnya perhatian terhadap kesenian Sunda.

Baca Juga :  Ada Apa dengan BPN Garut? Tolak Rekaman Audiensi Sengketa Wakaf, Publik Curigai Praktik Tak Transparan

Mereka berharap pemerintah daerah lebih serius dalam upaya pelestarian budaya, termasuk menyediakan ruang tampil bagi seniman di destinasi wisata seperti Situ Cangkuang, Situ Bagendit, Kampung Pulo, dan ruang publik lainnya.

 

Selain itu, muncul pula usulan agar muatan lokal kesenian Sunda — seperti karawitan, degung, kacapi suling, dan tari tradisional — dimasukkan dalam kurikulum pendidikan SD dan SMP.

Tokoh masyarakat Jajat Sudrajat dari Desa Neglasari dan Kang Engkus dari Kadungora juga mendorong adanya bantuan alat-alat kesenian untuk sekolah.

 

“Tidak semua sekolah harus punya, tapi setidaknya di tiap kecamatan ada perwakilan sekolah yang mendapat bantuan peralatan kesenian. Ini untuk memancing minat generasi muda agar mencintai budaya Sunda,” terang Yudha.

Sementara itu, Butintin, salah satu pelaku UMKM Garut, menyampaikan aspirasi agar Gedung Kesenian Garut kembali diaktifkan sebagai tempat anak muda berlatih dan berkreasi.

Menurutnya, ruang kesenian yang hidup tak hanya menjadi wadah pembinaan generasi muda, tapi juga mampu melahirkan seniman berbakat yang membawa nama baik daerah.

 

Ia juga mendorong agar pertunjukan kesenian digelar secara rutin di ruang-ruang publik seperti Alun-alun Garut atau Bale Paminton, agar masyarakat terhibur sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi UMKM.

Baca Juga :  Tinjau Garut Plaza, Wakil Bupati Pastikan Kesiapan Bazar Ramadan dan Dorong Penataan PKL

 

“Kalau kesenian sering tampil di tempat terbuka, suasana kota jadi lebih hidup, masyarakat terhibur, dan pedagang kecil pun ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.

 

 

Dukungan Pemerintah Daerah

Reses ini turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut serta Bappeda, yang menyatakan dukungan positif terhadap upaya pelestarian seni dan budaya Sunda.

Yudha pun mengapresiasi respon baik dari pemerintah daerah dan berharap komitmen tersebut berlanjut dalam bentuk program nyata di lapangan.

 

“Alhamdulillah, respon dari Dinas Kebudayaan maupun Bappeda sangat baik. Saya apresiasi komitmen mereka untuk ikut menjaga dan melestarikan kesenian Sunda di Garut,” pungkasnya.

 

Seruan Kolaborasi Melestarikan Warisan Leluhur

Menutup kegiatan, Yudha mengajak seluruh pihak — mulai dari pemerintah, pelaku seni, hingga masyarakat — untuk bergandengan tangan menjaga warisan budaya leluhur, agar seni, bahasa, dan nilai-nilai Sunda tetap lestari di tengah derasnya arus modernisasi.

 

“Pelestarian budaya tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus gotong royong menjaga titinggal karuhun urang agar tidak hilang ditelan zaman,” tutupnya.

(Hilman)

 

 

Berita Terkait

Idul Fitri 1447 H, Ketua DPC PPKHI Garut Tekankan Persaudaraan dan Kepedulian Sosial
Aceng Malki Ajak Perkuat Silaturahmi di Momentum Idul Fitri 1447 H
Kelangkaan Gas 3 Kg di Garut Bukan Sekadar Masalah, Ini Kegagalan Pengawasan Jelang Idul Fitri
Pondok Pesantren Nurul Huda Malati Buka Penerimaan Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027
Hasil Sidang Isbat: Kemenag Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
Ramadhan Penuh Makna, Garuters Gelar Gerakan Solidaritas untuk Palestina
Polisi Bongkar Penyalahgunaan Ambulans untuk Mudik di Jalur Malangbong
4 Prajurit TNI Diduga Terlibat Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 03:52 WIB

Idul Fitri 1447 H, Ketua DPC PPKHI Garut Tekankan Persaudaraan dan Kepedulian Sosial

Jumat, 20 Maret 2026 - 19:27 WIB

Aceng Malki Ajak Perkuat Silaturahmi di Momentum Idul Fitri 1447 H

Jumat, 20 Maret 2026 - 16:23 WIB

Kelangkaan Gas 3 Kg di Garut Bukan Sekadar Masalah, Ini Kegagalan Pengawasan Jelang Idul Fitri

Jumat, 20 Maret 2026 - 08:40 WIB

Pondok Pesantren Nurul Huda Malati Buka Penerimaan Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027

Kamis, 19 Maret 2026 - 15:03 WIB

Ramadhan Penuh Makna, Garuters Gelar Gerakan Solidaritas untuk Palestina

Berita Terbaru