(Oleh: Pemimpin Redaksi Nusaharianmedia.com Diki Kusdian)
Garut Opini,Nusaharianmedia.com – Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan dengan gegap gempita. Bendera merah putih dikibarkan, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, pidato-pidato heroik digemakan. Namun, di tengah euforia itu, mari kita jujur bertanya: apakah benar kita telah merdeka? Atau jangan-jangan, kata merdeka tak lebih dari isapan jempol belaka bagi sebagian besar rakyat negeri ini?
Di satu sisi, kita menyaksikan segelintir orang menikmati segala kemewahan: akses pendidikan terbaik, layanan kesehatan eksklusif, hunian nyaman, dan peluang ekonomi yang terbuka lebar. Di sisi lain, jutaan warga hidup dalam kemiskinan yang nyaris tak berkesudahan. Mereka terpinggirkan bukan karena malas atau bodoh, tapi karena sistem yang tak memberi ruang untuk mereka tumbuh dan bangkit.
Kesenjangan bukan sekadar perbedaan angka dalam grafik ekonomi. Ia adalah realitas pahit yang merampas harapan. Seorang anak di kota mungkin sedang belajar coding sejak usia dini, sementara anak lain di pelosok hanya bisa belajar dengan pencahayaan seadanya, jika pun ada guru yang hadir.
Ketika orang miskin tidak punya suara, tidak punya daya tawar, bahkan tidak punya pilihan, maka kemiskinan bukan lagi masalah ekonomi, tapi bentuk penindasan struktural. Di sinilah kata merdeka terasa hampa. Karena sejatinya, merdeka berarti bebas dari rasa takut, bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, dan bebas dari ketidakadilan.
Pemerintah boleh saja bangga dengan angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau indeks digitalisasi. Tapi selagi masih ada warga yang tak tahu besok makan apa, yang tak bisa berobat karena tak mampu bayar, yang harus putus sekolah karena membantu orang tuanya bekerja—maka kemerdekaan itu belum benar-benar utuh.
Kini saatnya berhenti menutupi luka bangsa dengan slogan dan seremoni. Kita butuh lebih dari sekadar pidato. Kita butuh keberpihakan nyata, reformasi kebijakan yang menyentuh akar persoalan, dan keadilan yang tak tebang pilih.
Karena jika terus begini, kata “merdeka” hanya akan menjadi dongeng indah yang tak pernah menyentuh tanah tempat rakyat berdiri. Dan kita, sadar atau tidak, telah membiarkan dua dunia tumbuh di negeri yang konon katanya satu ini.









