Kajian Hukum Pencalonan Ketua DPD Golkar Garut: Diskresi Dinilai Konstitusional, Namun Picu Perdebatan Internal

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Nusaharianmedia.com 05 Mei  2026 — Dinamika pencalonan Ketua DPD Partai Golkar tingkat kabupaten kembali menjadi sorotan. Instrumen diskresi yang digunakan dalam proses pencalonan dinilai sah secara hukum organisasi, namun tetap menyisakan ruang perdebatan di kalangan kader.

 

Kajian hukum ini disampaikan oleh Lulu Fahmi Al-Qudum, S.H, Wakil Ketua Bidang Hukum DPC Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong Kabupaten Garut, yang menyoroti aspek konstitusi internal partai melalui Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Peraturan Organisasi (PO).

 

Menurutnya, secara normatif, persyaratan calon Ketua DPD telah diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) DPP Golkar Nomor: JUKLAK-2/DPP/GOLKAR/II/2020. Dalam aturan tersebut, seorang bakal calon wajib memenuhi sejumlah syarat kumulatif, seperti memiliki pengalaman kepengurusan minimal satu periode, loyalitas sebagai kader sekurang-kurangnya lima tahun tanpa berpindah partai, serta telah mengikuti pendidikan kader dan memiliki latar belakang pendidikan minimal strata satu (S1).

 

Namun demikian, dalam praktiknya terdapat mekanisme diskresi yang menjadi kewenangan Ketua Umum DPP Golkar sebagai mandataris Musyawarah Nasional (Munas). Diskresi ini diatur dalam Pasal 22 AD/ART yang memberikan ruang bagi Ketua Umum untuk mengambil kebijakan strategis demi kepentingan konsolidasi dan pemenangan partai.

Baca Juga :  BUMDes SKB Mandiri Desa Sukabakti Dorong Pertumbuhan Ekonomi Petani Lewat Program Ketahanan Pangan

 

“Diskresi ini biasanya digunakan untuk memberikan pengecualian terhadap syarat administratif tertentu, seperti masa keanggotaan atau pengalaman kepengurusan, apabila calon dinilai memiliki nilai strategis bagi partai,” ujar Lulu dalam kajiannya.

 

Dalam konteks Kabupaten Garut, penggunaan diskresi mencuat seiring adanya figur kepala daerah aktif yang masuk dalam bursa calon Ketua DPD.

Secara hukum organisasi, langkah tersebut dinilai sah dengan dasar asas kemanfaatan (utility), mengingat posisi kepala daerah dianggap sebagai figur elektoral yang mampu meningkatkan peluang kemenangan partai dalam kontestasi politik.

 

Lebih lanjut dijelaskan, selama surat diskresi dikeluarkan secara resmi dan ditandatangani oleh Ketua Umum serta Sekretaris Jenderal DPP, maka status pencalonan tetap dinyatakan sah, meskipun calon belum memenuhi seluruh persyaratan formal sebagaimana diatur dalam Juklak.

 

Baca Juga :  Harumkan Nama Daerah, Pemkab Garut Apresiasi LasQI Nusantara Jaya atas Prestasi Juara 1 Nasional Duta Qasidah 2025

Meski demikian, penggunaan diskresi ini tidak lepas dari kritik. Dari perspektif sosiologi hukum organisasi, muncul kekhawatiran terkait tergerusnya prinsip meritokrasi di internal partai. Kader yang telah lama berproses dari bawah berpotensi merasa tersisih oleh kebijakan yang dinilai terlalu fleksibel.

 

Selain itu, aspek kepastian hukum juga menjadi perhatian. Aturan teknis yang seharusnya menjadi pedoman baku dinilai bisa kehilangan kekuatan apabila terlalu mudah dikesampingkan oleh diskresi politik.

 

Dalam kesimpulannya, Lulu menegaskan bahwa secara hukum organisasi, pencalonan Ketua DPD melalui mekanisme diskresi adalah konstitusional, sepanjang prosedur penerbitannya sesuai dengan AD/ART Partai Golkar. Diskresi tersebut berfungsi sebagai instrumen administratif untuk mengubah status calon dari tidak memenuhi syarat menjadi memenuhi syarat, dengan tujuan mencapai target politik yang lebih besar.

 

“Ke depan, dinamika ini akan menjadikan kontestasi Ketua DPD Golkar di Garut berlangsung semakin kompetitif, seru, dan dinamis. Semua kader memiliki hak yang sama untuk berjuang demi kemajuan partai,” tutupnya. ( Hil )

Penulis : Hilman

Editor : Redaksi Nusaharianmedia

Berita Terkait

DPD PAKSI Garut Resmi Dilantik, Dorong Penyuluhan Hukum ke Masyarakat Desa
Bansos Garut Jadi Sorotan: Rumah Nyaris Roboh Tak Dapat Bantuan, Pemilik Mobil Justru Terdaftar Penerima
DKKG Garut Gelar Festival Pembudayaan Olah Raga Tradisional, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Bidang ESDM PB HMI Gaungkan Pentingnya Geothermal untuk Masa Depan Energi Indonesia
Parkir Liar Jadi Sorotan, Dishub Garut Optimalkan Penataan dan Penegakan Aturan Tahun 2026
Paripurna DPRD Jabar, Yusuf Erwinsyah Pertanyakan Sejarah Milangkala Tatar Sunda dan Program Pendidikan Elitis
DPPKBPPPA Garut Perkuat Edukasi Perlindungan Anak demi Wujudkan Generasi Sehat dan Berkarakter
DPR-RI Muhammad Husein Fadlulloh Sidak Bulog Garut, Pastikan Distribusi Beras dan Minyak Goreng Stabil
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 22:32 WIB

DPD PAKSI Garut Resmi Dilantik, Dorong Penyuluhan Hukum ke Masyarakat Desa

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:43 WIB

Bansos Garut Jadi Sorotan: Rumah Nyaris Roboh Tak Dapat Bantuan, Pemilik Mobil Justru Terdaftar Penerima

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:06 WIB

DKKG Garut Gelar Festival Pembudayaan Olah Raga Tradisional, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal

Kamis, 14 Mei 2026 - 01:41 WIB

Bidang ESDM PB HMI Gaungkan Pentingnya Geothermal untuk Masa Depan Energi Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:11 WIB

Paripurna DPRD Jabar, Yusuf Erwinsyah Pertanyakan Sejarah Milangkala Tatar Sunda dan Program Pendidikan Elitis

Berita Terbaru

Uncategorized

Pemkab dan Kadin Garut Kolaborasi Percepat Legalitas UMKM

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:36 WIB