Ketika 100 Hari di Balik Panggung: Jangan Sampai Jabatan Menjadi Alat Permainan Politik

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 9 April 2025 - 18:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Oleh: Diki Kusdian Pemimpin redaksi Nusaharianmedia.com)

Garut Opini, Nusaharianmedia.com – Seratus hari pertama setelah seorang pejabat dilantik sejatinya adalah waktu emas. Sebuah masa yang menentukan arah dan integritas kepemimpinan.

Tapi sayangnya, panggung kekuasaan sering kali menyembunyikan kisah lain di balik gemerlap lampu sorot.

Alih-alih menjadi ajang pembuktian visi dan misi kepada rakyat, 100 hari itu kerap berubah menjadi ruang kalkulasi politik.

Ruang di mana strategi pencitraan mulai dirancang, kursi-kursi kekuasaan diperdagangkan, dan loyalitas lebih dihargai daripada kapabilitas. Jabatan yang seharusnya menjadi instrumen pelayanan publik malah tergelincir menjadi alat tukar dukungan.

Bahkan tak jarang, proses pelantikan pejabat struktural pun menjadi bagian dari permainan, bukan soal siapa yang pantas, tapi siapa yang dekat. Inilah panggung belakang kekuasaan yang jarang disorot.

Ketika masyarakat berharap pada perubahan, yang muncul justru drama internal: wakil yang tak lagi sejalan dengan kepala, koordinasi yang berubah jadi kompetisi, dan pelayanan publik yang terombang-ambing dalam tarik-menarik kepentingan.

Bisa jadi, rakyat tidak melihat secara langsung apa yang terjadi. Tapi mereka bisa merasakan. Dari lambannya pelayanan, dari minimnya inovasi, dari wajah-wajah birokrat yang tampak tak antusias bekerja.

Haruskah setiap transisi kekuasaan selalu dibarengi sandiwara politik? Haruskah rakyat terus menjadi korban dari ambisi pribadi?

Pejabat publik bukan selebriti. Jabatan bukan panggung hiburan. Dan kekuasaan bukan alat permainan. Amanah yang dititipkan rakyat bukan untuk diselewengkan menjadi tiket menuju pemilu selanjutnya.

Jika memang serius ingin melayani, 100 hari pertama adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan itikad baik. Tak perlu muluk-mulu, cukup tunjukkan ketulusan dan keberpihakan pada rakyat.

Karena sejatinya, kepemimpinan yang baik tidak dibentuk dari panggung sorotan kamera, tapi dari kerja nyata yang mungkin tak terlihat, tapi sangat terasa manfaatnya.

Baca Juga :  Evakuasi Material Longsor di Cimapag Desa Loji Oleh Forkopimcam Simpenan

Berita Terkait

Komisi IV DPRD Garut Bongkar Polemik SPT Korwil, Yudha Tegaskan Jangan Ada Lagi “Raja Kecil” di Dunia Pendidikan
DPD Partai Golkar Garut Gelar Pemotongan Hewan Kurban, Ketua DPRD Garut Tekankan Nilai Kepedulian Sosial
Reses di Desa Sukarasa, Mohamad Bagas Tampung Keluhan dan Usulan Warga
Ketua DPRD Garut Rayakan Hattrick Juara Persib Bandung, Nobar di Pujasega Resto Berlangsung Semarak
Bung Fey Angkat Bicara Dugaan “Setoran” Korwil Pendidikan: Harus Dilaporkan dan Diusut
Polemik Korwil Pendidikan dan Isu Rp25 Juta, Eldy Supriadi: Alarm Keras, Bupati Jangan Diam
Mohamad Bagas Tegaskan Komitmen Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Samarang, Boboko
*Polemik Penundaan Penyerahan SK Korwil: HMI Pertanyakan Konsistensi Kebijakan dan Kepastian Hukum di Lingkungan Dinas Pendidikan*
Berita ini 31 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:12 WIB

Komisi IV DPRD Garut Bongkar Polemik SPT Korwil, Yudha Tegaskan Jangan Ada Lagi “Raja Kecil” di Dunia Pendidikan

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:51 WIB

DPD Partai Golkar Garut Gelar Pemotongan Hewan Kurban, Ketua DPRD Garut Tekankan Nilai Kepedulian Sosial

Senin, 25 Mei 2026 - 21:29 WIB

Reses di Desa Sukarasa, Mohamad Bagas Tampung Keluhan dan Usulan Warga

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:42 WIB

Ketua DPRD Garut Rayakan Hattrick Juara Persib Bandung, Nobar di Pujasega Resto Berlangsung Semarak

Sabtu, 23 Mei 2026 - 23:59 WIB

Bung Fey Angkat Bicara Dugaan “Setoran” Korwil Pendidikan: Harus Dilaporkan dan Diusut

Berita Terbaru