Rumah Reyot Terabaikan, Data Dipertanyakan: Ada Apa dengan Dinas Sosial Garut?

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Nusaharianmedia.com 07 Januari 2026  -Di balik angka-angka desil dan sistem Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), realitas pahit masih dialami sebagian warga miskin di Kabupaten Garut. Investigasi lapangan menemukan banyak rumah warga dalam kondisi tidak layak huni—dinding rapuh, atap bocor, lantai tanah—namun tak tersentuh satu pun program bantuan sosial pemerintah.

Ironisnya, warga dengan kondisi tersebut justru tercatat berada pada desil menengah hingga tinggi dalam sistem pendataan kesejahteraan. Status ini secara otomatis menggugurkan hak mereka atas berbagai bantuan sosial, seperti Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), hingga BPJS PBI. Sebaliknya, di sejumlah wilayah masih ditemukan rumah permanen dan relatif layak huni yang tercatat sebagai penerima bantuan.
Temuan ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai akurasi data DTSEN di Kabupaten Garut serta sejauh mana peran Dinas Sosial dalam memastikan kesesuaian data dengan kondisi riil masyarakat di lapangan.


Penelusuran menunjukkan adanya jurang lebar antara data administratif dan fakta sosial. Sejumlah warga mengaku tidak pernah didatangi petugas untuk proses verifikasi maupun pemutakhiran data. Padahal, pendamping sosial dan tim lapangan seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjamin keadilan distribusi bantuan.

Baca Juga :  DPD KNPI Garut Gelar Pra-Musrenbang Pemuda, Siapkan Arah Kebijakan Kepemudaan 2026

“Rumah hampir roboh, tapi kami tidak pernah dapat bantuan apa pun. Katanya masuk desil tinggi. Petugas pun tidak pernah datang,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya.
Kondisi tersebut menguatkan dugaan bahwa proses pendataan dan validasi berjalan secara administratif semata, tanpa pengawasan dan verifikasi lapangan yang memadai. Jika demikian, persoalan ini tidak lagi sebatas kesalahan teknis, melainkan mengarah pada kegagalan sistemik yang berpotensi merugikan ribuan warga miskin.
Berdasarkan temuan lapangan, tidak sedikit rumah dengan kondisi sangat memprihatinkan tercatat berada pada desil 5, 6, bahkan 10—yang secara sistem dianggap “cukup mampu”. Sebaliknya, rumah permanen dan layak huni masih ditemukan sebagai penerima bantuan sosial. Ketimpangan ini menegaskan ketidaksesuaian serius antara data kesejahteraan dengan kondisi faktual warga.

Baca Juga :  Semangat Sumpah Pemuda: Bikers Subuh Akbar Garut Ajak Generasi Muda Makmurkan Masjid

Situasi ini memicu sorotan terhadap kinerja Dinas Sosial Kabupaten Garut, khususnya peran tim lapangan dan pendamping sosial. Publik mempertanyakan sejauh mana petugas benar-benar turun ke lapangan, melakukan pengecekan langsung, serta memperbarui data berdasarkan realitas masyarakat.

Ketika rumah yang jelas tidak layak huni tetap tercatat sebagai keluarga “mampu”, sementara rumah yang layak justru menerima bantuan, maka yang dipertanyakan bukan hanya sistem pendataan, tetapi juga keadilan dan keberpihakan kebijakan sosial itu sendiri.

Kondisi ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendataan desil dan DTSEN, termasuk transparansi, akuntabilitas, serta keberanian pemerintah daerah untuk melakukan koreksi data secara objektif. Masyarakat berharap Dinas Sosial tidak semata berpatokan pada angka dan sistem, melainkan hadir langsung melihat realitas di lapangan.
Tanpa pembaruan data yang jujur dan kerja lapangan yang maksimal, cita-cita kesejahteraan sosial dikhawatirkan hanya akan menjadi jargon, sementara warga miskin terus terpinggirkan dari hak-haknya. (Hil)

Berita Terkait

Berawal dari Bekas Luka di Leher, Aksi Bejat Oknum Guru Ponpes di Garut Akhirnya Terbongkar, BBHAR Dampingi Pelaporan
DPD PAKSI Garut Resmi Dilantik, Dorong Penyuluhan Hukum ke Masyarakat Desa
Bansos Garut Jadi Sorotan: Rumah Nyaris Roboh Tak Dapat Bantuan, Pemilik Mobil Justru Terdaftar Penerima
DKKG Garut Gelar Festival Pembudayaan Olah Raga Tradisional, Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Bidang ESDM PB HMI Gaungkan Pentingnya Geothermal untuk Masa Depan Energi Indonesia
Parkir Liar Jadi Sorotan, Dishub Garut Optimalkan Penataan dan Penegakan Aturan Tahun 2026
Paripurna DPRD Jabar, Yusuf Erwinsyah Pertanyakan Sejarah Milangkala Tatar Sunda dan Program Pendidikan Elitis
DPPKBPPPA Garut Perkuat Edukasi Perlindungan Anak demi Wujudkan Generasi Sehat dan Berkarakter
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:44 WIB

Berawal dari Bekas Luka di Leher, Aksi Bejat Oknum Guru Ponpes di Garut Akhirnya Terbongkar, BBHAR Dampingi Pelaporan

Jumat, 15 Mei 2026 - 22:32 WIB

DPD PAKSI Garut Resmi Dilantik, Dorong Penyuluhan Hukum ke Masyarakat Desa

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:43 WIB

Bansos Garut Jadi Sorotan: Rumah Nyaris Roboh Tak Dapat Bantuan, Pemilik Mobil Justru Terdaftar Penerima

Kamis, 14 Mei 2026 - 01:41 WIB

Bidang ESDM PB HMI Gaungkan Pentingnya Geothermal untuk Masa Depan Energi Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:41 WIB

Parkir Liar Jadi Sorotan, Dishub Garut Optimalkan Penataan dan Penegakan Aturan Tahun 2026

Berita Terbaru

Uncategorized

Panen Jagung Kuartal II Digelar, Ayi Suryana Apresiasi Kapolres Garut

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:11 WIB

Uncategorized

Pemkab dan Kadin Garut Kolaborasi Percepat Legalitas UMKM

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:36 WIB