Transformasi BRI Mulai Berbuah, Laba Naik 17,5% Jadi Rp31,2 Triliun, Pertumbuhan UMKM Meningkat 

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 31 Agustus 2026 – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat performa positif hingga akhir Triwulan II 2026. Di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan, BRI mampu mempertahankan laju pertumbuhan bisnis yang dibarengi dengan penguatan fundamental, peningkatan kualitas aset, serta kenaikan profitabilitas. Hingga akhir Triwulan II 2026, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun, meningkat 17,5% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Kinerja tersebut tetap didukung karakteristik utama bisnis BRI yang berfokus pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hingga akhir Juni 2026, sebesar 75,1% dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM, memperkuat konsistensi perseroan dalam menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

 

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi yang didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K, Direktur Network&Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance&Strategy BRI Achmad Royadi dan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti dalam pemaparan kinerja yang digelar di Kantor Pusat BRI, Jakarta (31/8/2026).

 

Hery menjelaskan capaian positif BRI hingga Triwulan II 2026 diraih di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang tetap resilien. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30%, sementara inflasi tercatat sebesar 3,34%.

 

Di sisi lain, aktivitas bisnis UMKM juga memperlihatkan penguatan, tercermin dari Indeks Bisnis UMKM yang meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Posisi indeks di atas 100 menunjukkan bahwa pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan optimistis terhadap aktivitas usahanya.

 

“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional. Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery.

 

Dari sisi industri, perbankan nasional juga masih menunjukkan fundamental yang solid. Kredit industri perbankan hingga Triwulan II 2026 tumbuh 12,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,2% yoy dan dana murah atau CASA meningkat 11,0% yoy. Kualitas aset juga memperlihatkan perbaikan dengan Loan at Risk (LaR) industri turun menjadi 8,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3% dan Return on Asset (ROA) tetap pada level 2,5%.

 

Transformasi Mulai Berdampak pada Kinerja

 

Dalam mempertahankan momentum pertumbuhan, BRI terus menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Transformasi tersebut diarahkan pada dua agenda besar yang dilaksanakan secara simultan, yakni memperkuat funding franchise serta melakukan revamp terhadap bisnis inti yang sudah ada sekaligus membangun new core sebagai sumber pertumbuhan baru.

 

Dari sisi pendanaan, BRI berfokus pada langkah memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. BRI juga terus mengoptimalkan kapabilitas digital channel mulai dari akuisisi merchant, penguatan transaksi BRImo, QRIS hingga BRILink Agen, sekaligus memperkokoh dominasi pada klaster bisnis, integrasi value chain, serta penetrasi One BRI Solution.

Baca Juga :  Rumah Lapuk Membahayakan Bayi dan Keluarga, Yudha Puja Turnawan Desak Bupati Garut Segera Bentuk Forum TJSLP dan Penanganan Cepat bagi Korban di Sukawening

 

Pada saat yang sama, BRI terus memperkuat bisnis mikro sebagai kekuatan utama perseroan melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko yang semakin granular. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pertumbuhan bisnis mikro berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.

 

Selain memperkuat bisnis inti, perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk memperoleh nasabah berkualitas, serta perluasan layanan bullion bank.

 

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ujar Hery.

 

Implementasi berbagai agenda transformasi tersebut tercermin dalam kinerja BRI hingga akhir Triwulan II 2026. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% yoy. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun.

 

Ekspansi tersebut ditunjang DPK yang mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy. Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, net interest income BRI meningkat 9,9% yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga meningkat 12,8% yoy menjadi Rp65,7 triliun.

 

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery.

 

Peningkatan profitabilitas BRI juga berlangsung sejalan dengan penguatan kualitas fundamental. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4% pada Triwulan II 2026. Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%. Kualitas aset juga semakin sehat dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0% menjadi 2,9%, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4% menjadi 3,1%.

 

Penguatan fundamental tersebut turut menopang kemampuan perseroan dalam menghasilkan imbal hasil yang solid. ROA BRI tetap terjaga pada kisaran 2,7%, sementara Return on Equity (ROE) meningkat signifikan dari 16,6% pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8% pada Triwulan II 2026.

 

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” lanjut Hery.

Baca Juga :  Garut Kirimkan Atlet 16 Cabor pada Popda Jawa Barat 2025, Target Masuk 10 Besar

 

Di tengah ekspansi bisnis yang semakin terdiversifikasi, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai core business perseroan. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% yoy. Dengan demikian, sekitar 75,1% dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.

 

Menurut Hery, besarnya porsi tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi sumber pertumbuhan BRI tidak mengubah DNA perseroan sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan. Penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, serta pengembangan new core dilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi, sementara UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis BRI.

 

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi bisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” kata Hery.

 

Komitmen terhadap ekonomi kerakyatan tidak hanya diwujudkan melalui pembiayaan. BRI membangun pendekatan pemberdayaan UMKM secara end-to-end, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha secara individual.

 

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Pada tingkat komunitas usaha, program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. BRI juga memperluas pemberdayaan melalui platform digital LinkUMKM yang telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Sementara itu, pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

 

Ekosistem pemberdayaan tersebut melengkapi peran BRI dalam memperluas pembiayaan, termasuk melalui KUR. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

 

Hery menegaskan bahwa pendekatan tersebut mencerminkan peran BRI yang tidak hanya sebagai financial intermediary, tetapi juga sebagai enabler pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

 

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.

 

“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.

Berita Terkait

Satu Suara untuk Bupati Garut Abdusy Syakur, 28 PK dan ORSAMENDI Deklarasikan Dukungan Menuju Musda, Soliditas Golkar Jadi Komitmen Utama
Rp2.548 Triliun Kredit Masih Belum Ditarik, BI Ungkap Dunia Usaha Masih Wait and See
Resmi Dilantik, FORKI Garut 2026–2030 Tekankan Integritas, Perkuat Prestasi dan Targetkan Medali di Porprov Jabar
Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, 51 Pasangan Ikuti Sidang Isbat Terpadu di Cisurupan, DPPKBPPPA Garut Dorong Tertib Administrasi Keluarga
Cegah Perkawinan Anak, Pemkab Garut Dorong Kepatuhan Mekanisme Dispensasi Kawin
“Bangun Irama, Satukan Langkah”, FYBI Garut Dorong Peningkatan Kualitas Pelatih Lewat Pelatihan Percussion
Inklusi Keuangan Purwakarta Makin Luas, 3.570 Agen BRILink Catat Transaksi Rp2,24 Triliun
Klinik Utama Armina Resmi Beroperasi di Garut, dr. Helmi Budiman Hadirkan Layanan Spesialis Anak hingga Kandungan untuk Tekan AKI dan AKB
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:31 WIB

Satu Suara untuk Bupati Garut Abdusy Syakur, 28 PK dan ORSAMENDI Deklarasikan Dukungan Menuju Musda, Soliditas Golkar Jadi Komitmen Utama

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Rp2.548 Triliun Kredit Masih Belum Ditarik, BI Ungkap Dunia Usaha Masih Wait and See

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:52 WIB

Transformasi BRI Mulai Berbuah, Laba Naik 17,5% Jadi Rp31,2 Triliun, Pertumbuhan UMKM Meningkat 

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Resmi Dilantik, FORKI Garut 2026–2030 Tekankan Integritas, Perkuat Prestasi dan Targetkan Medali di Porprov Jabar

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:52 WIB

Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, 51 Pasangan Ikuti Sidang Isbat Terpadu di Cisurupan, DPPKBPPPA Garut Dorong Tertib Administrasi Keluarga

Berita Terbaru

Hukum & Kriminal

RUU Perampasan Aset Dikebut, Publik Minta DPR Jangan Abaikan Transparansi

Minggu, 30 Agu 2026 - 23:06 WIB