Ganda Permana dan GEMA PS: Revolusi Sunyi dari Pinggiran Hutan,Demi Keadilan, Kemakmuran dan Masa Depan Rakyat Garut

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 11 Juli 2025 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut,Nusaharianmedia.com – Nama Ganda Permana, S.H. kembali mengisi ruang diskusi publik, bukan lagi semata sebagai Ketua LSM GMBI Distrik Garut yang dikenal lantang, tetapi kini sebagai penggerak perubahan konkret melalui organisasi baru yang ia pimpin: Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial (GEMA PS).

Langkah Ganda kali ini bukan lagi turun ke jalan melainkan turun ke lahan menggagas perhutanan sosial, memberdayakan petani, dan membalik logika penguasaan sumber daya alam yang selama ini timpang.

“Hutan Bukan Milik Elit, Tapi Sumber Hidup Rakyat”

Bagi Ganda, paradigma pembangunan kawasan hutan harus dirombak. Menurutnya, rakyat selama ini hanya menjadi penonton kemewahan hasil bumi dan kekayaan hutan, tanpa diberi akses legal dan keterlibatan nyata.

“Puluhan tahun rakyat hanya diajari melihat, tapi tidak diberi hak untuk mengelola. Kami bukan penjarah alam, kami pengelola yang bertanggung jawab. Rakyat ingin makan dari tanahnya sendiri, bukan dari belas kasihan proyek-proyek negara,” tegasnya saat diwawancarai melalui sambungan Whatsapp miliknya pada. Jum’at, (11/07/2025).

GEMA PS hadir sebagai jawaban atas ketimpangan itu. Dengan pendekatan yang bersandar pada regulasi perhutanan sosial, organisasi ini mengajak masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara legal, produktif, dan lestari.

Membumikan Konsep “Rakyat Berdaulat atas Hutan”

Melalui program-program berbasis komunitas, seperti pelatihan pertanian organik, penanaman pohon produktif, hingga edukasi hukum agraria, GEMA PS berupaya mengangkat martabat petani hutan. Bukan sebagai buruh di tanahnya sendiri, tetapi sebagai pemilik masa depan.

Kawasan Garut Selatan dan Tengah mulai dilirik sebagai titik awal revolusi hijau berbasis rakyat. Dengan dukungan akademisi, aktivis lingkungan, dan tokoh masyarakat, GEMA PS menyusun roadmap pengelolaan hutan yang ramah lingkungan namun tetap memberikan nilai ekonomi.

“Kami percaya, petani lokal itu ahli dalam menjaga hutan. Tapi mereka butuh ruang, butuh hak legal, dan butuh perlindungan dari sistem yang selama ini hanya berpihak pada korporasi,” ungkap Ganda.

Dari Orasi Jalanan ke Aksi Lapangan

Transformasi Ganda dari aktivis LSM jalanan ke pemimpin gerakan agraria rakyat bukan tanpa alasan. Ia melihat demonstrasi saja tak cukup tanpa aksi nyata di lapangan.

“Kami sudah cukup berteriak. Sekarang waktunya bertani dan membuktikan bahwa rakyat bisa berdaulat atas tanahnya,” katanya lugas.

GEMA PS bahkan telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak-pihak terkait, termasuk Kementerian LHK, guna memastikan bahwa seluruh aktivitas masyarakat tetap dalam koridor hukum dan pelestarian alam.

Melawan Kemiskinan Struktural dari Pinggiran

Bagi Ganda, sistem agraria yang timpang adalah biang dari kemiskinan struktural. Penguasaan tanah dan hutan oleh segelintir elit menyebabkan rakyat desa hidup di tengah kekayaan alam, namun tetap miskin dan tergantung.

GEMA PS menjadi alat perjuangan baru yang menolak ketergantungan. Bukan hanya pada korporasi, tetapi juga pada bantuan-bantuan yang bersifat karitatif dan jangka pendek.

“Kami ingin anak cucu petani punya lahan sendiri, bisa hidup dari hasil buminya, dan tidak lagi hanya menjadi penonton atas proyek-proyek besar yang tak pernah menyentuh hidup mereka,” ujar Ganda penuh semangat.

Satu Langkah Menuju Indonesia yang Lebih Adil

Di tengah derasnya isu deforestasi, konflik lahan, dan ketimpangan ekonomi, GEMA PS mencoba memutar arah. Ganda percaya, jika model ini berhasil, Garut bisa menjadi role model nasional dalam pengelolaan hutan berbasis rakyat.

“Kami bukan pemberontak. Kami pejuang kedaulatan rakyat. Jika diberi kesempatan dan dukungan, rakyat bisa mengubah negeri ini dari pinggiran hutan,” pungkasnya. (DIX)
Baca Juga :  Kang Dedi Mulyadi Tegaskan Sekolah Bebas Pungutan, Netizen Beri Apresiasi

Berita Terkait

Regenerasi Golkar Jabar Daniel Mutaqien Syafiuddin Terpilih Jadi Ketua DPD Golkar Jabar, Momentum Kebangkitan Kader Muda
Pembina DKKG, H. Rudi Gunawan, S.H., M.H., M.P., Tekankan Penguatan Peran Budayawan dan Regulasi Kebudayaan
Cacan Cahyadi SH: Kepatuhan pada AD/ART Kunci Penguatan PPP Jelang Muscab Garut
Dirut PDAM Garut Dadan Hidayatulloh Buka Suara soal Kenaikan Biaya Admin, Siapkan Evaluasi Menyeluruh
HMI Garut Soroti Polemik Pernyataan Wakil Bupati: “Garut Butuh Kepemimpinan Selaras, Bukan Dualisme Di puncak Kekuasaan”
Jelang Purna Tugas, Sekda Garut Nurdin Yana Tegaskan Seleksi Terbuka Jabatan Sekda Digelar Juli 2026
Paripurna DPRD Garut Bahas LKPJ 2025, Ketua DPRD Tegaskan Evaluasi Kinerja Pemda dan Bentuk Pansus
MUSKERCAB I PCNU Garut Perkuat Konsolidasi, H. Aceng Malki Dorong Harlah NU 2026 Berdampak Sosial
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:07 WIB

Regenerasi Golkar Jabar Daniel Mutaqien Syafiuddin Terpilih Jadi Ketua DPD Golkar Jabar, Momentum Kebangkitan Kader Muda

Kamis, 2 April 2026 - 19:29 WIB

Pembina DKKG, H. Rudi Gunawan, S.H., M.H., M.P., Tekankan Penguatan Peran Budayawan dan Regulasi Kebudayaan

Selasa, 31 Maret 2026 - 21:49 WIB

Cacan Cahyadi SH: Kepatuhan pada AD/ART Kunci Penguatan PPP Jelang Muscab Garut

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:34 WIB

Dirut PDAM Garut Dadan Hidayatulloh Buka Suara soal Kenaikan Biaya Admin, Siapkan Evaluasi Menyeluruh

Senin, 30 Maret 2026 - 23:40 WIB

HMI Garut Soroti Polemik Pernyataan Wakil Bupati: “Garut Butuh Kepemimpinan Selaras, Bukan Dualisme Di puncak Kekuasaan”

Berita Terbaru