Dari SP-1 ke Meja Hijau: Sengketa Aset Teras Cimanuk Kian Panas, Syam Yousef Gugat Pemkab Garut

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 07 April 2026 – Polemik Surat Peringatan Pertama (SP-1) terkait pengosongan aset daerah di Kabupaten Garut kian memanas. PT Pamara Perkasa Jaya melalui kuasa hukumnya secara resmi melayangkan surat tanggapan yang menolak kewajiban pengosongan, sekaligus menegaskan bahwa status sewa atas aset Teras Cimanuk masih sah secara hukum.

 

Surat tanggapan tertanggal 6 April 2026 yang ditandatangani Syam Yousef, S.H., M.H., dari Kantor Hukum YOS & Rekan, mengurai secara rinci dasar hukum yang digunakan pihak perusahaan dalam membantah SP-1 yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Garut.

SURAT TANGGAPAN SP1

Klaim Perpanjangan Sewa Sah Secara Hukum

Dalam dokumen tersebut, PT Pamara Perkasa Jaya menjelaskan bahwa mereka memiliki perjanjian sewa pemanfaatan Barang Milik Daerah sejak 19 Mei 2020 hingga 19 Mei 2025. Namun sebelum masa sewa berakhir, tepatnya pada 27 Desember 2024, perusahaan telah mengajukan permohonan perpanjangan secara resmi kepada Bupati Garut.

 

Poin krusial yang menjadi dasar bantahan adalah tidak adanya respons dari pemerintah daerah dalam tenggat waktu yang ditentukan. Mengacu pada Pasal 175 ayat (6) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, kondisi tersebut ditafsirkan sebagai bentuk “persetujuan diam-diam” atau permohonan yang dianggap dikabulkan secara hukum.

Baca Juga :  PHRI Garut Resmi Dinakhodai H. Ato Hermanto–H. Dudung Sudiana, Optimis Pariwisata Daerah Siap Bangkit

 

Tak hanya itu, pihak perusahaan juga memperkuat argumentasinya dengan rujukan pada ketentuan dalam KUHPerdata serta yurisprudensi Mahkamah Agung yang mengakui praktik perjanjian diam-diam (silent agreement).

 

Pemerintah Dinilai Inkonsisten

Kuasa hukum juga menyoroti sikap Pemerintah Kabupaten Garut yang dinilai tidak konsisten. Pasalnya, pemerintah daerah masih menerima sejumlah kewajiban pembayaran dari pihak perusahaan, seperti pajak parkir dan pajak hotel kontainer di kawasan Teras Cimanuk, bahkan setelah masa sewa dinyatakan berakhir.

 

Menurut pihak perusahaan, penerimaan pembayaran tersebut menjadi indikator kuat adanya pengakuan tidak langsung atas keberlanjutan hubungan sewa.

 

Selain itu, surat penghentian operasional sementara yang diterbitkan pada Juni 2025 turut dipersoalkan. Istilah tersebut dinilai tidak memiliki dasar dalam perjanjian awal, sehingga dianggap tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

 

Mediasi Gagal, Sengketa Berlanjut ke Pengadilan

Upaya penyelesaian melalui mediasi yang difasilitasi Kejaksaan Negeri Garut dilaporkan tidak mencapai titik temu. Kedua belah pihak tetap bertahan pada interpretasi masing-masing terkait status berakhirnya masa sewa.

Baca Juga :  DPW dan DPD PSI Garut Gelar Konsolidasi, Pastikan Struktur 100% Siap Hadapi Pemilu 2029

 

Berdasarkan klausul dalam perjanjian, PT Pamara Perkasa Jaya menegaskan bahwa sengketa ini akan dibawa ke ranah litigasi dan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri Garut.

 

Ancaman Gugatan Perbuatan Melawan Hukum

Puncak ketegangan terjadi ketika pihak perusahaan secara tegas menolak permintaan pengosongan lahan sebagaimana tertuang dalam SP-1. Bahkan, mereka memperingatkan bahwa setiap upaya pengosongan secara sepihak akan dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

 

“Apabila dipaksakan, kami akan menempuh gugatan perbuatan melawan hukum,” tegas Syam Yousef dalam surat tanggapan tersebut.

 

Konflik Aset Daerah Kian Memanas

Kasus ini menjadi sorotan publik karena menyangkut pengelolaan aset daerah yang memiliki nilai strategis dan ekonomi tinggi. Di satu sisi, Pemerintah Kabupaten Garut berupaya menertibkan aset, sementara di sisi lain, pihak pengelola merasa memiliki dasar hukum kuat untuk mempertahankan haknya.

 

Dengan ancaman gugatan yang telah dilayangkan, sengketa antara PT Pamara Perkasa Jaya dan Pemkab Garut dipastikan memasuki babak baru di meja hijau—menguji legalitas perjanjian sekaligus konsistensi kebijakan pemerintah dalam tata kelola aset publik.

Penulis : Hilman

Editor : Tim Nusaharianmedia

Berita Terkait

Cawe-cawe Istri Wali Kota dalam Uji Kompetensi ASN? Pengamat: Publik Berhak Bertanya
Perkuat Layanan Air Bersih, Bupati Garut Bahas Penetapan Modal Dasar PDAM Tirta Intan; Dirut Targetkan 70 Ribu Sambungan Rumah dan Tekan Kehilangan Air
Saka Kencana Garut Resmi Dilantik, DPPKBPPPA dan Gerakan Pramuka Perkuat Sinergi Bangun Generasi Berkarakter serta Keluarga Berkualitas
DPPKBPPPA Garut Perkuat Edukasi Anti-Kekerasan di MPLS SMPN 2 Garut, Dorong Terwujudnya Sekolah Ramah Anak
Hadiri Pelantikan Bobotoh Kolot Distrik Garut, Wakil Ketua DPRD Ayi Suryana Siap Dukung dan Fasilitasi Kegiatan Sosial serta Kemanusiaan
Tiga Minggu Mangkrak, Aduan Dugaan Korupsi GOR Desa Tambaksari TA 2022 di Kejari Garut Tanpa Kejelasan
Lewat Pendidikan Politik, Ketua DPD Demokrat Jabar Anton Tekankan Soliditas Kader dan Targetkan Penambahan Kursi DPRD pada Pemilu 2029
KOSGORO 1957 Garut Dukung Semangat Demokrasi, Pencalonan Bupati sebagai Ketua Golkar Dinilai Selaras dengan Semangat Pengabdian dan Pembangunan Daerah
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 21:29 WIB

Cawe-cawe Istri Wali Kota dalam Uji Kompetensi ASN? Pengamat: Publik Berhak Bertanya

Senin, 13 Juli 2026 - 23:28 WIB

Saka Kencana Garut Resmi Dilantik, DPPKBPPPA dan Gerakan Pramuka Perkuat Sinergi Bangun Generasi Berkarakter serta Keluarga Berkualitas

Senin, 13 Juli 2026 - 22:52 WIB

DPPKBPPPA Garut Perkuat Edukasi Anti-Kekerasan di MPLS SMPN 2 Garut, Dorong Terwujudnya Sekolah Ramah Anak

Senin, 13 Juli 2026 - 06:27 WIB

Hadiri Pelantikan Bobotoh Kolot Distrik Garut, Wakil Ketua DPRD Ayi Suryana Siap Dukung dan Fasilitasi Kegiatan Sosial serta Kemanusiaan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:24 WIB

Tiga Minggu Mangkrak, Aduan Dugaan Korupsi GOR Desa Tambaksari TA 2022 di Kejari Garut Tanpa Kejelasan

Berita Terbaru