Garut, Nusaharianmedia.com – Di balik megahnya jargon pembangunan dan deretan rumah permanen yang tertata rapi di Perumahan Jati Putra Asri, Desa Cibunar, Kecamatan Tarogong Kidul, terselip kisah pilu yang nyaris tak terdengar.
Juju Juariah (51), seorang ibu paruh baya, hidup dalam rumah yang nyaris ambruk—atap bocor, dinding penuh retakan, dan lantai yang menghitam karena lembap dan tua. Di tengah lingkungan yang berkembang, ia terpinggirkan, seolah bukan bagian dari peta kemajuan Garut.
Kontras tajam antara rumah Juju dan lingkungan sekitarnya menyuarakan ironi yang telak: bahwa pembangunan fisik yang masif tak selalu sejalan dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
“Saya pernah didata katanya mau dapat bantuan rumah, tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya. Saya hanya menunggu, tapi sampai sekarang tak ada kabar apa-apa,” ujar Juju dengan suara lirih, matanya menatap kosong ke langit-langit rumah yang bolong.
Ketimpangan yang Membungkam
Lingkungan tempat Juju tinggal tampak cukup tertata. Jalan sudah dicor meski mulai rusak, saluran air masih mengalir, dan lampu penerangan jalan berdiri di setiap sudut. Tapi rumah Juju menjadi pengecualian yang mencolok—sebuah simbol ketimpangan yang telanjang di tengah klaim pembangunan daerah.
Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), yang sejatinya diperuntukkan bagi warga dengan kondisi seperti Juju, justru tak menyentuh dirinya. Lebih ironis lagi, dalam data yang beredar, nama Juju tak pernah tercatat sebagai penerima bantuan—di tingkat desa, kabupaten, hingga pusat. Ia bukan hanya terlewat, tetapi nyaris terhapus dari sistem.
Sistem yang Gagal Menjangkau yang Lemah
Tedi Sutardi, Ketua Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa (LIBAS), menyebut apa yang menimpa Juju sebagai kegagalan struktural. Bukan sekadar kekeliruan administratif, tetapi pengabaian sistematis terhadap mereka yang tak punya suara atau koneksi.
“Bu Juju bukan korban ketidaktahuan, tapi korban dari sistem yang tidak mau melihat. Data ganda banyak, bahkan rumah-rumah yang bagus malah masuk daftar penerima RTLH. Ini bukan kesalahan teknis, ini pengkhianatan terhadap rakyat miskin,” ujar Tedi, Senin (21/04/2025).
Menurut Tedi, ini bukan sekadar ketimpangan, tapi bentuk nyata dari ketidakadilan sosial yang telah mengakar. “Sistem lebih mendengar koneksi daripada jeritan warga miskin. Bantuan sosial hari ini bukan lagi soal kebutuhan, tapi siapa yang dekat dengan penguasa.”
Desakan untuk Bertindak
LIBAS mendesak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Garut untuk segera turun tangan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program RTLH di Desa Cibunar. Selain itu, Kepala Desa Cibunar dan Camat Tarogong Kidul pun diminta tak tinggal diam.
“Ini bukan sekadar kasus pribadi. Ini refleksi dari penyakit besar dalam sistem birokrasi kita. Ketika rumah yang nyaris roboh tak dianggap layak dibantu, maka ada sesuatu yang salah secara fundamental,” tegas Tedi.
LIBAS bahkan menyatakan kesiapan untuk memberikan pendampingan hukum bagi Juju Juariah bila diperlukan. “Kalau negara tidak hadir, maka kami yang akan mendorong agar haknya diperjuangkan.”
Penyesalan yang Datang Terlambat
Warga sekitar Juju pun mulai menyadari adanya kelalaian kolektif. Banyak yang mengaku tak mengetahui kondisi sebenarnya dari rumah Juju karena sifatnya yang tertutup dan jarang mengeluh.
“Kami pikir rumahnya masih lumayan. Ternyata parah sekali. Kami merasa bersalah. Harusnya dari dulu kami bantu uruskan, tapi mungkin sudah terlambat,” ujar seorang warga, enggan menyebutkan namanya.
Penyesalan itu kini menyisakan keprihatinan. Namun tanpa dukungan sistem yang kuat dan responsif, keprihatinan masyarakat tak akan cukup untuk membawa perubahan nyata.
Pembangunan yang Menyisakan Luka
Kisah Juju Juariah adalah satu dari banyak potret buram di balik kemilau pembangunan. Ketika indikator keberhasilan hanya diukur dari panjangnya jalan beton, jumlah gedung yang berdiri, atau taman yang dipercantik, maka manusia-manusia yang tertinggal seperti Juju akan terus luput dari perhatian.
Di tengah proyek-proyek besar dan anggaran miliaran rupiah, masih ada warga yang tidur di bawah atap bocor dan hidup dalam kecemasan setiap malam. Pembangunan seperti ini bukan kemajuan, ia adalah luka yang dibungkus rapi dengan narasi kemegahan.
Negara Masih Absen
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Cibunar belum memberikan respons atas kondisi warganya. Media telah menghubungi melalui pesan WhatsApp, namun belum ada jawaban atau penjelasan.
Juju Juariah tak meminta banyak. Ia hanya ingin rumah yang tak membahayakan anaknya, dan hidup yang sedikit lebih tenang. Tapi di tanah kelahirannya sendiri, di tengah janji-janji pembangunan, Juju justru menjadi asing tersisih di kampungnya sendiri. (Eldy)