Reuni Akbar 212: Manifestasi Kekuatan dan Soliditas Umat Islam Indonesia

- Jurnalis

Senin, 1 Desember 2025 - 20:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com 01 Desember 2025. -Pernyataan bahwa Reuni Akbar 212 merupakan pengingat akan kekuatan umat Islam di Indonesia adalah sebuah pandangan yang memiliki dasar historis dan sosiologis yang kuat. Sejak kemunculannya sebagai Aksi Bela Islam pada tahun 2016, dan kemudian dilanjutkan dalam bentuk reuni tahunan yang rutin, gerakan ini telah menjadi sebuah fenomena sosial dan politik yang menunjukkan kemampuan mobilisasi massa, soliditas, dan daya tawar politik yang luar biasa dari komunitas Muslim di negara ini. Reuni 212, terlepas dari berbagai kontroversi dan interpretasi politiknya, berfungsi sebagai cerminan nyata dari persatuan umat Islam dalam isu-isu yang dianggap menyangkut akidah dan kehormatan agama.

 

Kekuatan utama yang ditunjukkan oleh Reuni 212 adalah kapasitas mobilisasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah aksi demonstrasi di Indonesia. Klaim angka peserta yang mencapai jutaan jiwa menunjukkan jaringan koordinasi dan logistik yang sangat terorganisir, melintasi batas-batas organisasi, madzhab, atau latar belakang sosial. Kehadiran massa yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan dengan biaya dan upaya sendiri, membuktikan adanya ghirah (semangat) kolektif yang mendalam. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan jumlah, tetapi juga menggarisbawahi komitmen individu yang bersedia berkorban waktu, tenaga, dan harta demi tujuan bersama. Dalam konteks ini, kekuatan umat tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi dari kualitas partisipasi dan kesiapan untuk bergerak serempak.

Baca Juga :  Sinergi Bawaslu dan Media Perkuat Transparansi Pemilu 2024

 

  • Simbol Soliditas Ukhuwah Islamiyah, Daya Tawar Sosial dan Politik

 

Reuni Akbar 212 sering kali diartikan sebagai momentum peneguhan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Lapangan Monas yang dipenuhi lautan manusia berbaju putih, melaksanakan salat Subuh berjamaah, dan berbagi logistik secara sukarela, menciptakan gambaran soliditas dan persatuan yang impresif. Soliditas ini menjadi pengingat bahwa umat Islam Indonesia, meskipun terdiri dari berbagai ormas besar seperti NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam dan lainnya, dapat bersatu di bawah satu payung isu keagamaan. Hal ini mengirimkan pesan kuat kepada elit politik dan publik bahwa ketika nilai-nilai fundamental agama terusik, perbedaan-perbedaan internal dapat dikesampingkan demi tegaknya martabat umat.

 

Lebih dari sekadar pertemuan keagamaan, Reuni 212 telah membuktikan dirinya memiliki daya tawar politik yang signifikan. Gerakan ini lahir dari isu politik pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dan terus memainkan peran sebagai barometer sentimen keagamaan menjelang tahun-tahun politik berikutnya. Kekuatan mobilisasi massa ini secara otomatis menempatkan aspirasi kelompok alumni 212 sebagai faktor penting yang harus diperhitungkan oleh setiap kontestan politik, mulai dari pemilihan presiden hingga pemilihan legislatif. Keberhasilan gerakan ini dalam mengakomodasi tujuan awalnya (penahanan Ahok) menjadi bukti konkret atas pengaruhnya terhadap sistem hukum dan dinamika politik nasional. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan umat Islam di Indonesia dapat diterjemahkan menjadi kekuatan sosial-politik yang mampu memengaruhi kebijakan dan arah negara.

Baca Juga :  Ketua KNPI Garut Agil Syahrizal Apresiasi Training Raya HMI 2025: Dorong Gagasan SDA-Energi dan Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Pemuda

 

Epilog

Reuni Akbar 212 memang merupakan sebuah monumen sosial yang menegaskan kembali kekuatan kolektif umat Islam di Indonesia. Kekuatan ini termanifestasi dalam kemampuan mobilisasi yang masif, soliditas ukhuwah yang melampaui sekat organisasi, dan daya tawar politik yang telah teruji. Meskipun acara ini sering memicu perdebatan mengenai nuansa politik identitas, tidak dapat dimungkiri bahwa ia telah membuktikan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki potensi besar untuk bersatu dan menyuarakan aspirasinya secara efektif di ruang publik, menjadikannya pengingat penting bagi peta kekuatan sosial di Indonesia.

 

_Ahirudin Yunus S.Fil.I_

_Sekjen Dewan Tanfidzi Kabupaten (DTK) Persaudaraan Alumni 212 (Persada 212) Garut_

Berita Terkait

DPRD Jabar Tinjau SMAN 2 Gunung Putri Roboh, Aceng Malki Tekankan Pengawasan Proyek
Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Matangkan Persiapan H+1 Milad ke-34, Perkuat Peran Sosial dan Dakwah
Aksi Curas Bermodus Batang Pisang di Jalan, Tiga Pemuda Sukaresmi Diamankan Tim Sancang
Beasiswa Menyusut di Tengah Biaya Naik, GMNI Nilai Akses Pendidikan Tinggi Kian Tidak Adil
Koordinator Hukum BPC PHRI Soroti Mandeknya Aturan Teknis CSR, Singgung Ketimpangan dengan Kontribusi PAD
Lepas PNS Purnabakti, Sekda Garut Minta ASN Maksimalkan Pelayanan hingga Pensiun
Forum Pemerhati Lingkungan Garut Kritik Absennya Bupati di Forum Audiensi Lingkungan
Retribusi Dipungut, Sampah Dibiarkan: Jalan Ibrahim Adjie Jadi Ladang Uang Tanpa Tanggung Jawab
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:25 WIB

DPRD Jabar Tinjau SMAN 2 Gunung Putri Roboh, Aceng Malki Tekankan Pengawasan Proyek

Rabu, 4 Februari 2026 - 00:14 WIB

Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Matangkan Persiapan H+1 Milad ke-34, Perkuat Peran Sosial dan Dakwah

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:52 WIB

Aksi Curas Bermodus Batang Pisang di Jalan, Tiga Pemuda Sukaresmi Diamankan Tim Sancang

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:39 WIB

Beasiswa Menyusut di Tengah Biaya Naik, GMNI Nilai Akses Pendidikan Tinggi Kian Tidak Adil

Senin, 2 Februari 2026 - 18:59 WIB

Koordinator Hukum BPC PHRI Soroti Mandeknya Aturan Teknis CSR, Singgung Ketimpangan dengan Kontribusi PAD

Berita Terbaru