Pemilihan Ketua PGRI Pasirwangi Diduga Sarat Intervensi,Aktivis Muda Garut Minta Demokrasi Jangan Dikhianati

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 22 Juli 2025 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut,Nusaharianmedia.com – Sorotan tajam kembali mengarah pada proses demokrasi di lingkungan organisasi profesi guru. Kali ini, pemilihan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, menjadi perhatian publik setelah sejumlah aktivis muda menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dugaan praktik pengondisian dan intervensi dalam pemilihan tersebut.

Salah satu aktivis muda yang dikenal vokal di Kabupaten Garut, Eldy Supriadi, mengkritisi keras proses pemilihan yang dinilainya berpotensi cacat demokrasi. Ia menuding adanya upaya sistematis yang dilakukan oleh salah satu calon untuk mengatur suara demi kemenangan pribadi, bukan melalui proses yang sehat dan transparan.

“Kami mencium adanya aroma tak sedap dalam proses pemilihan ini. Biarkan pemilihan Ketua PGRI berjalan secara demokratis, tanpa tekanan, tanpa intimidasi, dan tanpa pengondisian suara oleh pihak-pihak yang berkepentingan,” tegas Eldy Supriadi, tokoh muda Garut yang juga merupakan Pemilik media Ruangrakyatgarut.id

Lebih lanjut, Eldy menekankan bahwa pemilihan ketua dalam organisasi profesi guru seharusnya mencerminkan nilai-nilai luhur pendidikan, seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Menurutnya, jika dunia pendidikan ingin dipercaya kembali oleh masyarakat, maka proses demokrasi di dalam tubuh organisasi guru pun harus bersih dari praktik-praktik kotor.

“Organisasi sebesar PGRI harus menjadi panutan, bukan malah menciptakan preseden buruk. Jika benar ada intervensi, maka ini bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai profesi guru. Kita tidak ingin organisasi ini dijadikan alat untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu,” tegasnya.

Tak berhenti sampai di situ, Eldy juga menyatakan kesiapannya untuk menempuh jalur hukum jika indikasi pelanggaran demokrasi terbukti. Ia dan timnya tengah mengumpulkan informasi dan bukti-bukti untuk dikaji secara hukum sebagai bentuk komitmen terhadap tegaknya demokrasi dalam dunia pendidikan.

“Jika terbukti adanya pelanggaran dalam bentuk pengondisian, tekanan, atau manipulasi, maka kami akan mengambil langkah hukum yang sesuai. Dunia pendidikan sedang disorot tajam, dan ini momentum penting untuk menunjukkan bahwa guru bukan bagian dari masalah, tapi bagian dari solusi,” ujarnya.

Pernyataan ini menguatkan kekhawatiran banyak pihak bahwa proses pemilihan di tubuh PGRI, yang seharusnya menjadi forum musyawarah dan demokrasi internal, justru berpotensi dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan politik atau kekuasaan sempit.

Di sisi lain,situasi ini dianggap telah mencederai semangat kolektif para guru yang menginginkan perubahan positif dan kepemimpinan yang bersih.

Beberapa guru di Kecamatan Pasirwangi yang enggan disebutkan namanya, juga mengeluhkan suasana pemilihan yang tidak kondusif. Mereka merasa seolah diarahkan untuk memilih kandidat tertentu, bukan berdasarkan kualitas dan rekam jejak, melainkan karena tekanan dari pihak yang dianggap memiliki “kuasa” di internal organisasi.

“Kami berharap ada transparansi dan netralitas. Jangan sampai pemilihan ini hanya formalitas untuk mengesahkan calon yang sudah ditentukan sebelumnya,” ujar salah satu guru kepada awak media. Selasa, (22/07/2025).

Masyarakat pun diminta turut mengawasi jalannya proses pemilihan, agar tidak ada ruang bagi praktik manipulatif. Selain itu, para pengurus PGRI di tingkat kabupaten juga diimbau untuk turun tangan dan memastikan bahwa seluruh proses pemilihan di tingkat kecamatan berjalan sesuai aturan organisasi dan prinsip demokrasi.

Sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia, PGRI memegang peran penting dalam menjaga marwah dan kehormatan dunia pendidikan. Oleh karena itu, setiap langkah organisasi, termasuk dalam hal pemilihan kepemimpinan, harus mencerminkan semangat kebersamaan, keterbukaan, dan integritas moral.

Kini, mata publik tertuju pada Kecamatan Pasirwangi. Masyarakat menanti apakah PGRI akan mampu menunjukkan komitmen terhadap demokrasi dan etika, atau justru terperosok dalam lubang hitam kepentingan kelompok.

Jika tak segera dibenahi, bukan tidak mungkin krisis kepercayaan terhadap organisasi ini akan semakin dalam, dan dampaknya bisa merembet luas ke berbagai sektor pendidikan di Garut. (Red)
Baca Juga :  Polres Garut Lakukan Patroli Malam Hari untuk Antisipasi C3 dan Premanisme

Berita Terkait

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya
Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor
Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius
Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.
Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut
RDTR Garut: Ketika Kepastian Hukum Tata Ruang Terus Tertunda
Dugaan Kerugian hingga Rp3 Miliar, Kuasa Hukum Pelapor Lakukan Langkah di Polres Garut
Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas, GAPENSI dan Pemkab Garut Bersinergi untuk Pembangunan Infrastruktur Daerah
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 12:40 WIB

Kebersamaan dan Gotong Royong Jadi Semangat Uus Saripudin untuk Membangun Mekarjaya

Kamis, 5 November 2026 - 23:22 WIB

Dugaan Penipuan Dana Hibah Rp1,69 Miliar Dilaporkan ke Polres Garut, ASN Bapenda Jadi Terlapor

Kamis, 5 November 2026 - 18:05 WIB

Empat Anak Menanti Tempat Tinggal Aman, Rumah Ibu An-An di Cibodas Butuh Perhatian Serius

Kamis, 5 November 2026 - 15:18 WIB

Yudha Puja Turnawan Tinjau Kondisi Ibu An-An, Warga dengan Penghasilan 25 Ribu sehari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni.

Minggu, 1 November 2026 - 21:35 WIB

Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Terima Kasih Nurdin Yana atas Dedikasi untuk Garut

Berita Terbaru