
Nusaharianmedia.com 15/09/2025— Potret memilukan kembali tersingkap di Kabupaten Garut. Sebuah rumah reyot milik Bapak Hadi, warga Kampung Ciboleraang RT 01 RW 07, Desa Karangsari, Kecamatan Karangpawitan, berdiri memprihatinkan. Atap bocor, dinding lapuk, lantai tanah, dan kondisi serba terbatas menjadi gambaran nyata bagaimana rakyat kecil masih dibiarkan hidup di bawah garis kemanusiaan.
Ironisnya, meski sudah ada pendataan dari pihak desa, bantuan tak kunjung datang. Janji manis program pemerintah seperti Rutilahu hanya terdengar sebagai jargon politik tanpa aksi nyata. Sementara itu, pejabat daerah dan para anggota dewan asyik menikmati tunjangan rumah, kendaraan dinas, dan fasilitas mewah yang dibiayai dari keringat rakyat.
Di tengah rakyat kecil berjuang bertahan hidup di rumah hampir roboh, para wakil rakyat justru berlomba menambah anggaran tunjangan dan sibuk bersandiwara di ruang rapat. Inilah wajah ketimpangan yang begitu telanjang: rakyat sengsara, pejabat foya-foya.
“Pernah ada pendataan, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut. Kami hanya bisa pasrah,” ucap salah satu anggota keluarga, dengan nada getir yang seakan mewakili suara ribuan warga miskin Garut lainnya.
Kondisi ini bukan hanya tamparan keras bagi Pemkab Garut, tetapi juga tamparan bagi seluruh pejabat dan anggota dewan yang selama ini hanya pandai berbicara soal kesejahteraan rakyat, tapi gagal menghadirkan solusi nyata. Rumah layak huni bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar warga negara.
Sudah saatnya pemerintah berhenti membanggakan data fiktif dan seremoni penuh pencitraan. Selama rumah reyot seperti milik Bapak Hadi masih berdiri di Garut, maka selama itu pula Pemkab Garut dan para pejabatnya patut dicap gagal total dalam mengemban amanah rakyat. (Red)









