Usaha kecil yang ia beri nama “Makroni Cikruh Si Naruto” bukan hanya menjajakan rasa pedas gurih khas Garut, tapi juga membawa semangat perubahan sosial yang membumi. Kini, lebih dari 30 orang warga sekitar, sebagian besar ibu rumah tangga dan santri, menggantungkan harapan hidup dari usaha rumahan tersebut. Dari dapur kecil yang dulu hanya bisa menghasilkan belasan bungkus, kini ratusan bungkus makaroni diproduksi setiap harinya.
Awal dari Dapur yang Sederhana
Perjalanan Yusuf dimulai tanpa kemegahan. Dapur rumah menjadi saksi pertama dari usahanya. Berbekal resep sederhana warisan keluarga dan semangat pantang menyerah, Yusuf meracik makaroni berbumbu pedas yang renyah dan nikmat. Ia memasarkannya dari pintu ke pintu, menyasar warung dan tetangga sekitar.
“Awalnya cuma buat 10-20 bungkus sehari. Saya antar sendiri ke warung-warung,” kenangnya saat ditemui tim media, Minggu (13/07/2025). “Tapi saya selalu percaya, usaha kecil yang konsisten, pasti bisa tumbuh. Apalagi kalau manfaatnya juga dirasakan banyak orang.”
Keyakinan itu terbukti. Perlahan, “Makroni Cikruh Si Naruto” dikenal lewat promosi mulut ke mulut. Konsumen terus bertambah, begitu pula produksinya. Permintaan melonjak, dan Yusuf pun mulai membuka lapangan kerja.
Bekerja dengan Hati, Bukan Sekadar Target
Berbeda dengan industri besar yang cenderung kaku, Yusuf menerapkan pendekatan kerja yang fleksibel dan manusiawi. Ia tahu betul bahwa para pekerjanya adalah para ibu yang juga harus mengurus rumah dan anak-anak, serta santri yang masih belajar.
“Saya nggak mau mereka tinggalkan kewajiban rumah tangga. Di sini kami kerja sambil jaga waktu keluarga dan ngaji. Ada jadwal shift, ada waktu istirahat yang cukup. Kita saling bantu, bukan saling tekan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar pekerjaan, Yusuf juga menyediakan pelatihan keterampilan bagi para pekerjanya. Mereka diajari cara mengemas produk dengan bersih, memahami standar kebersihan makanan, bahkan dasar-dasar pemasaran. Ia ingin setiap orang yang bekerja dengannya tidak hanya mendapat upah, tapi juga ilmu yang bisa diwariskan.
Menyentuh Digital, Menjangkau Pasar yang Luas
Yusuf tak tinggal diam melihat perkembangan zaman. Ia sadar bahwa teknologi bisa menjadi jembatan antara kampung dan pasar luas. Ia mulai memasarkan produknya melalui media sosial, aplikasi pesan instan, hingga bergabung dengan beberapa platform marketplace.
“Sekarang nggak perlu punya toko besar. Cukup HP dan kemauan. Banyak juga teman-teman yang jadi reseller, dan mereka bisa dapat penghasilan tambahan,” jelasnya.
Strategi distribusi yang menggabungkan penjualan langsung ke warung, penjualan online, dan sistem reseller itu terbukti efektif. Setiap momen Ramadan, musim liburan sekolah, hingga akhir tahun, permintaan bisa naik dua sampai tiga kali lipat.
Memberi Harapan, Mengangkat Martabat
Dampak dari UMKM “Si Naruto” ini tak hanya berhenti di angka produksi. Lebih dalam dari itu, usaha ini menyentuh sisi kemanusiaan dan sosial masyarakat sekitar. Banyak ibu rumah tangga yang dulunya tidak punya penghasilan, kini bisa membantu ekonomi keluarga. Ada pula anak muda yang tadinya ingin merantau ke kota, namun memilih tinggal di kampung karena melihat peluang nyata.
“Sekarang saya bisa belanja sendiri tanpa harus utang. Bisa bantu bayar sekolah anak juga,” ungkap seorang pekerja perempuan sambil tersenyum bangga.
Menurut Yusuf, inilah inti dari usaha kecil yang sejati: bukan sekadar cari untung, tapi menghidupkan harapan, mengurangi angka pengangguran, dan memberi ruang martabat bagi warga desa untuk tetap hidup layak tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran.
Harapan kepada Pemerintah dan Media
Meski tumbuh secara mandiri, Yusuf tak menampik adanya kendala. Ia menyampaikan harapannya kepada pemerintah, khususnya di bidang pelatihan, perizinan, dan dukungan promosi.
“Kalau bisa ada pelatihan kemasan yang lebih modern, bantuan legalitas halal, dan akses masuk ke ritel-ritel besar, saya yakin dampaknya akan lebih luas. Banyak UMKM yang potensial, tapi mereka terhambat di proses legal dan pemasaran,” ungkapnya.
Ia juga mengajak media untuk lebih banyak menyoroti perjuangan pelaku usaha kecil seperti dirinya, bukan hanya berita-berita besar yang sensasional. “Perubahan itu banyak dimulai dari bawah. Cerita kecil seperti ini juga layak dikabarkan. Supaya jadi inspirasi,” pesannya.
Menuju Ekonomi Kerakyatan yang Kuat
Yusuf memiliki mimpi besar: membentuk koperasi produksi lintas desa di wilayah Kecamatan Samarang. Ia percaya bahwa jika setiap desa memiliki satu UMKM yang kuat dan dikelola dengan baik, maka ketimpangan ekonomi bisa ditekan dan kemandirian rakyat bisa tercapai.
“Kalau satu usaha bisa bantu 30 orang, bayangkan kalau di Garut ada 1000 usaha seperti ini. Kita nggak akan tergantung terus pada bantuan. Kita bisa berdiri di kaki sendiri,” tegasnya penuh semangat.
Penutup: Camilan Pedas, Gerakan Sosial
“Makroni Cikruh Si Naruto” bukan sekadar produk makanan ringan. Ia adalah simbol perjuangan, cerminan harapan, dan representasi dari ekonomi rakyat yang bertumbuh dari bawah. Dari dapur kampung, Yusuf Ridwan telah memulai sebuah gerakan sosial berbasis wirausaha yang dampaknya nyata dan berkelanjutan.
Melalui tangan-tangan para ibu, semangat para pemuda, dan pandangan jauh ke depan dari seorang Yusuf, kita melihat bahwa Indonesia bisa lebih kuat jika rakyat kecil diberdayakan secara nyata. Dan semuanya bisa dimulai dari hal yang tampaknya sepele: sebungkus makaroni pedas.
“Jangan pernah anggap remeh usaha kecil,” tutup Yusuf, “karena dari yang kecil itulah perubahan besar bisa dimulai.” (Red)









