Dua Bulan Dibiarkan, Warga Cipadung Korban Pergeseran Tanah Menanti Tangan Pemerintah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 10:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Nusaharianmedia.com | Garut, 10 November 2025 — Bencana pergeseran tanah yang terjadi pada Agustus lalu di Kampung Cipadung, Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, kembali menyingkap lemahnya sistem tanggap darurat pemerintah daerah dalam menghadapi situasi bencana. Sejumlah rumah warga rusak berat, bahkan satu sekolah ikut menjadi korban. Namun hingga kini, tidak ada langkah nyata, tidak ada tanggapan, dan tidak ada realisasi bantuan dari pihak berwenang.

 

Warga kini hidup dalam ketidakpastian. Sebagian terpaksa menumpang di rumah kerabat karena tempat tinggal mereka sudah tidak bisa dihuni. Aktivitas belajar di sekolah pun lumpuh lantaran bangunan mengalami retak parah dan lantai amblas.

 

“Sekolah kami rusak, tembok retak dan lantai amblas. Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan dan memberikan bantuan bagi warga yang terdampak,” ungkap salah seorang perwakilan sekolah dengan nada kecewa.

Aktivis sosial Banjarwangi, Aka Sudrajat, menilai lambannya langkah pemerintah menunjukkan lemahnya kepekaan terhadap penderitaan masyarakat.

“Saya berharap pemerintah cepat tanggap dalam menghadapi musibah ini. Sangat miris melihat warga yang rumahnya hancur terpaksa tinggal di rumah saudara tanpa kepastian kapan akan mendapat bantuan,” tegas Aka.

Baca Juga :  Dualisme Memanas, Atep Taofiq Mukhtar Ditegaskan Ketua Resmi FKDT Garut Hasil Forum Terbuka

 

Lebih jauh, Aka juga mempertanyakan status anggaran Biaya Tak Terduga (BTT) yang sejatinya disiapkan untuk kondisi darurat seperti ini.

 

“Kami ingin tahu, sebenarnya anggaran BTT itu untuk apa? Pergeseran tanah ini terjadi sejak Agustus, sudah masuk kategori bencana, tapi sampai hari ini tidak ada tanggapan, tidak ada realisasi, bahkan tidak ada satu pun pejabat pemerintah yang menanyakan kabar atau sekadar meninjau warga terdampak. Kalau bukan untuk situasi seperti ini, lalu untuk apa BTT itu disiapkan?” cetusnya dengan nada geram.

 

 

Padahal, sesuai ketentuan, anggaran BTT dapat segera digelontorkan tanpa menunggu proses panjang apabila kondisi sudah dinyatakan darurat. Namun yang terjadi justru sebaliknya — pemerintah diam, sementara warga berjuang sendiri menghadapi dampak bencana.

 

Aka menilai, sikap lamban dan abai ini merupakan bentuk kelalaian moral sekaligus administratif dari pemerintah daerah. Ia mendesak agar Pemkab Garut segera menyalurkan bantuan darurat, menurunkan tim teknis ke lokasi, dan memastikan kebutuhan dasar warga serta keselamatan siswa sekolah terdampak benar-benar terpenuhi.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Garut dan Pemkab Bergerak, Utamakan Nasib Siswa di Tengah Sengketa Tanah Yayasan

 

Sudah lebih dari dua bulan sejak pergeseran tanah itu terjadi, namun belum ada langkah konkret dari pemerintah. Warga Cipadung kini hanya bisa berharap agar pemerintah daerah tidak terus menutup mata, dan segera membuktikan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang sedang menderita.

 

“Sudah lebih dari dua bulan sejak pergeseran tanah itu terjadi, tapi belum ada langkah konkret dari pemerintah. Kami di desa sudah berulang kali melaporkan dan meminta bantuan, tapi hasilnya nihil,” ujar Kepala Desa Bojong, Jalaludin, SH, saat ditemui di kantornya.

 

Ia menegaskan bahwa warga Cipadung kini hanya bisa berharap agar pemerintah daerah tidak terus menutup mata, dan segera membuktikan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang sedang menderita.

 

“Kami hanya ingin perhatian nyata, bukan sekadar janji atau survei tanpa tindak lanjut. Masyarakat di sini sudah terlalu lama menunggu, sementara kondisi rumah dan tanah terus  bergerak,” tambah Jalaludin.

(Red)

 

 

Berita Terkait

Reses di Jayawaras, Yudha Puja Turnawan Tekankan Kolaborasi Atasi Persoalan Sosial dan Dorong Pembentukan Forum CSR/TJSLP untuk Bantu Warga Miskin
Reses DPRD Garut, Muhammad Nur Jamaluddin: Kesejahteraan Guru Honorer hingga Guru Ngaji Jadi Prioritas Perjuangan Aspirasi
Syam Yousef Djojo: Bupati Harus Segera Evaluasi Disdik di Tengah Isu Mahar Korwil
Pemkab Garut Sambut Positif Perluasan Klinik Rotinsulu, Dinilai Jadi Langkah Strategis Tingkatkan Layanan Kesehatan Garut
Reses DPRD Garut 2026, H. Yusuf Musyaffa Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda Lewat Pelatihan Medsos Jadi Peluang Usaha
Hadiri “Perempuan Berbicara”, Kepala DPPKBPPPA Garut Dorong Keterlibatan Aktif Perempuan dan Tekankan Kolaborasi untuk Pemberdayaan Perempuan
KAMMI Garut Serukan Penguatan Moralitas, Ketahanan Sosial, dan Perlindungan Generasi Muda
Reses H. Iden Sambas di Sukakarya, Hadirkan Dinsos Beri Solusi Desil dan BPJS Nonaktif, Infrastruktur serta Pemberdayaan Ekonomi Jadi Prioritas Aspirasi
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 19:53 WIB

Reses di Jayawaras, Yudha Puja Turnawan Tekankan Kolaborasi Atasi Persoalan Sosial dan Dorong Pembentukan Forum CSR/TJSLP untuk Bantu Warga Miskin

Senin, 25 Mei 2026 - 14:33 WIB

Reses DPRD Garut, Muhammad Nur Jamaluddin: Kesejahteraan Guru Honorer hingga Guru Ngaji Jadi Prioritas Perjuangan Aspirasi

Minggu, 24 Mei 2026 - 05:46 WIB

Syam Yousef Djojo: Bupati Harus Segera Evaluasi Disdik di Tengah Isu Mahar Korwil

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:26 WIB

Pemkab Garut Sambut Positif Perluasan Klinik Rotinsulu, Dinilai Jadi Langkah Strategis Tingkatkan Layanan Kesehatan Garut

Jumat, 22 Mei 2026 - 09:15 WIB

Reses DPRD Garut 2026, H. Yusuf Musyaffa Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda Lewat Pelatihan Medsos Jadi Peluang Usaha

Berita Terbaru