Garut, Nusaharianmedia.com – Sejarah dan kebudayaan Garut Selatan (Garsel) menyimpan kekayaan tak ternilai, yang diwariskan dari leluhur seperti Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang. Dengan garis keturunan Pajajaran yang penuh ajaran budi pekerti luhur dan akhlak mulia, masyarakat Garsel diimbau untuk kembali menghidupkan nilai-nilai warisan leluhur, seperti “silih asah, silih asih, silih asuh,” yang harmonis dengan nilai-nilai agama.
Kebangkitan adat istiadat ini menjadi kunci bagi masyarakat Garsel untuk memperkuat identitas budaya mereka. Selain itu, harapan juga tertuju pada pemerintah, khususnya Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Garut, agar memberi perhatian lebih pada sektor kebudayaan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
Di tengah upaya pelestarian budaya, perjuangan masyarakat Garsel untuk mewujudkan Kabupaten Garut Selatan sebagai Daerah Otonomi Baru (CDOB) juga terus bergema. Sejak berdirinya Presidium Pemekaran pada 27 April 2005, aspirasi ini belum pernah surut. Setelah 20 tahun, optimisme kembali mencuat, khususnya di era pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, untuk merealisasikan pemekaran ini.
Kabupaten Garut Selatan (Gasela) direncanakan mencakup 15 kecamatan dari total 42 kecamatan di Kabupaten Garut, dengan luas wilayah 1.804,67 km² atau 58,88 persen dari total wilayah. Pemekaran ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik, mempercepat pembangunan, serta mengentaskan ketimpangan sosial ekonomi.
“Pemekaran adalah langkah strategis untuk kemajuan masyarakat Garut Selatan,” ungkap salah satu tokoh masyarakat. Ia juga menyoroti pertemuan dengan Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, yang membawa angin segar bagi perjuangan ini. Saat ini, persiapan teknis tengah dilakukan untuk melanjutkan proses ke tingkat DPR, sesuai amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 2014.
Melalui revitalisasi budaya dan semangat pemekaran, masyarakat Garsel berharap dapat membangun masa depan yang lebih sejahtera. Semoga Garut Selatan segera menjadi kabupaten mandiri yang maju, adil, dan berdaya saing. (T. Wirama)