Gelar Pesona Budaya Garut 2026 dalam Perspektif Bahasa, Budaya, dan Pembangunan Daerah

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com — Febbie A. Zam Zami, M. Hum. (Linguist & Cultural Analyst) Penyelenggaraan Gelar Pesona Budaya Garut  (GPBG 2026) merupakan fenomena kultural yang tidak hanya relevan dalam konteks ekspresi seni dan tradisi, tetapi juga memiliki signifikansi akademik dalam ranah linguistik, kajian budaya, serta pembangunan ekonomi daerah.

Dalam perspektif linguistik struktural, sebagaimana dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1916), bahasa merupakan sistem tanda (langue) yang membentuk realitas sosial melalui praktik penggunaan (parole) GPBG 2026 menghadirkan ruang aktualisasi “parole kolektif” masyarakat Garut, di mana simbol, bahasa, dan narasi lokal diproduksi ulang secara publik. Hal ini menjadikan acara tersebut sebagai medium strategis dalam menjaga keberlangsungan sistem tanda lokal di tengah tekanan homogenisasi global.

Lebih lanjut, dalam kerangka semiotika budaya Roland Barthes (1972), setiap elemen dalam GPBG mulai dari kostum tradisional, pertunjukan seni, hingga narasi lokal berfungsi sebagai mitos  (mythologies) yang merepresentasikan identitas dan ideologi kultural masyarakat.Dengan demikian, GPBG tidak hanya menampilkan budaya, tetapi juga mereproduksi makna dan legitimasi identitas Garut sebagai entitas sosial-budaya yang khas.

Dari perspektif antropologi linguistik, Dell Hymes (1974) melalui konsep ethnography of speaking menekankan bahwa bahasa harus dipahami dalam konteks sosial dan budaya penggunaannya. (GPBG 2026 ) menjadi ruang performatif di mana praktik berbahasa lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam interaksi sosial yang nyata. Ini penting dalam konteks revitalisasi bahasa daerah yang saat ini menghadapi tantangan serius akibat pergeseran generasi dan dominasi bahasa global.

Baca Juga :  PMII Gruduk Dinas Koperasi Garut, Geram Pejabat “Menghilang” dari Jadwal yang Disepakati

Sementara itu, dalam kerangka kajian budaya kritis Stuart Hall (1997), representasi budaya dalam ruang publik seperti GPBG merupakan arena negosiasi identitas. Melalui GPBG 2026, masyarakat Garut tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mendefinisikan ulang identitasnya secara dinamis dalam lanskap modernitas. Hal ini memperkuat posisi budaya lokal sebagai aktor aktif, bukan sekadar objek folkloris.

Dari sudut pandang pembangunan, pemikiran Amartya Sen (1999) mengenai development as freedom menegaskan bahwa pembangunan harus mencakup kebebasan kultural dan ekspresi identitas. Dalam konteks ini, GPBG 2026 berkontribusi terhadap perluasan kapabilitas budaya masyarakat Garut, yakni kemampuan untuk mengekspresikan, mempertahankan, dan mengembangkan warisan budayanya.

Lebih jauh, dalam perspektif ekonomi budaya sebagaimana dikembangkan oleh David Throsby (2001), kegiatan budaya memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai kultural (dual value) GPBG 2026 berpotensi menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor pariwisata, industri kreatif, serta peningkatan daya tarik investasi.

Baca Juga :  Kapolres Garut Laksanakan Pengecekan Pos Pospam dalam Rangka Persiapan OPS Ketupat Lodaya 2025

Representasi budaya yang kuat dan otentik merupakan aset strategis dalam membangun place branding yang kompetitif di tingkat regional maupun global.

Dengan demikian, GPBG 2026 tidak dapat direduksi sebagai sekadar kegiatan seremonial atau konsumsi anggaran daerah. Ia merupakan instrumen strategis dalam pelestarian bahasa dan budaya, sekaligus investasi jangka panjang dalam pembangunan ekonomi berbasis identitas. Tantangan ke depan terletak pada penguatan tata kelola yang transparan, partisipatif, dan berbasis dampak agar manfaat kultural dan ekonomi dari kegiatan ini dapat terdistribusi secara inklusif.

Sebagai penutup, penting ditegaskan bahwa pelestarian bahasa dan budaya bukanlah beban pembangunan, melainkan fondasi peradaban. GPBG 2026 adalah manifestasi konkret dari upaya tersebut sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa Garut tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga tetap berakar kuat pada identitas kulturalnya.

Berita Terkait

Sekjen SPP Bantah Keras Isu Pemukulan Ulama di Cikatomas: “Ini Hoaks, Diduga Ada Upaya Adu Domba”
K-SPSI Garut Kerahkan 10.000 Buruh, Soroti Upah Layak dan Kepastian Kerja
Garut Siapkan Strategi Serius Menuju Porprov Jabar 2026, Robby Darwis Jadi Andalan
Ferry Nurdiansyah Kritik Keras KDM: “Jangan Hanya Himbauan, Kalau Berani Buat Perda!”
Penandatanganan MOU LKP Bogakabisa dan Ruangrakyatgarut.id, Kolaborasi Perkuat Program PKW Barista 2026
Krisis Kualitas MBG di Garut Satu Pekan dua Insiden : SPPG Pasirkiamis dan Banjarwangi Picu Alarm Keras, Pengawasan Dipertanyakan
SPPG Pasirkiamis Diduga Lalai terhadap Standar Keselamatan, Masyarakat Pertanyakan Pengawasan Produksi
Aktivis Muda Aka Sudrajat Soroti Kualitas, Makanan” Kinerja Satgas BGN Banjarwangi Dipertanyakan
Berita ini 48 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 14:19 WIB

Gelar Pesona Budaya Garut 2026 dalam Perspektif Bahasa, Budaya, dan Pembangunan Daerah

Kamis, 23 April 2026 - 19:29 WIB

Sekjen SPP Bantah Keras Isu Pemukulan Ulama di Cikatomas: “Ini Hoaks, Diduga Ada Upaya Adu Domba”

Kamis, 23 April 2026 - 00:44 WIB

K-SPSI Garut Kerahkan 10.000 Buruh, Soroti Upah Layak dan Kepastian Kerja

Minggu, 19 April 2026 - 13:08 WIB

Garut Siapkan Strategi Serius Menuju Porprov Jabar 2026, Robby Darwis Jadi Andalan

Sabtu, 11 April 2026 - 00:40 WIB

Ferry Nurdiansyah Kritik Keras KDM: “Jangan Hanya Himbauan, Kalau Berani Buat Perda!”

Berita Terbaru

Politik

Senin, 27 Apr 2026 - 16:23 WIB