Nusaharianmedia.com – Kecamatan Banyuresmi dikenal sebagai wilayah kecil dengan potensi besar di dunia pangkas rambut. Julukan “sejuta seniman cukur” melekat kuat, mencerminkan banyaknya barber berbakat yang lahir dan tumbuh dari kawasan ini.
Di tengah geliat tersebut, kehadiran PPRG dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga persaudaraan sekaligus merawat identitas budaya para pelaku pangkas rambut di Garut.
Calon Ketua Umum PPRG, Eldy Supriadi, menegaskan bahwa “cukur Garut” bukan sekadar profesi, melainkan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
“Banyuresmi bukan hanya melahirkan tukang cukur, tetapi seniman yang menjaga tradisi. Ini adalah kekayaan budaya yang harus kita rawat bersama,” ujarnya.
Namun demikian, Eldy juga menyoroti bahwa perhatian terhadap sektor ini masih perlu diperkuat, khususnya melalui kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya sekaligus peningkatan kesejahteraan para pelakunya.
Ia menilai, hingga saat ini pendekatan terhadap profesi pangkas rambut masih cenderung dilihat dari sisi ekonomi semata, dan belum sepenuhnya diposisikan sebagai bagian penting dari ekosistem budaya daerah.
Menurutnya, tanpa langkah strategis yang terarah, potensi besar yang dimiliki Banyuresmi sebagai pusat “seniman cukur” berisiko kehilangan arah di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
Karena itu, Eldy mendorong agar PPRG tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga tampil sebagai penggerak perubahan—baik dalam peningkatan kualitas anggota, perlindungan profesi, maupun advokasi kebijakan yang berkeadilan.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan, pelatihan berbasis kearifan lokal, serta penguatan jejaring usaha agar para barber Garut mampu bersaing tanpa kehilangan identitas budaya yang telah mengakar.
“PPRG harus hadir sebagai penjaga nilai budaya sekaligus jembatan menuju masa depan. Kita tidak boleh kehilangan akar, tapi juga tidak boleh tertinggal oleh zaman,” tegasnya.
Dengan semangat persaudaraan yang kuat, Banyuresmi diyakini akan tetap menjadi simbol lahirnya para seniman cukur, sementara PPRG menjadi kekuatan kolektif yang menjaga marwah profesi sekaligus memperjuangkan keberpihakan kebijakan bagi para anggotanya.









