Ketika Kekuasaan Telah di Dapatkan Menebang Pohon dan Menebas Nurani Rakyat

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 20 April 2025 - 06:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Oleh: Tedi Sutardi)

Garut Opini, Nusaharianmedia.com -Ketika sebuah pohon tumbang karena badai, itu adalah musibah alam. Tapi ketika pohon-pohon ditebang oleh tangan penguasa demi ambisi pembangunan, maka itu adalah musibah kebijakan.

Penebangan pohon yang terjadi di Jalan Patriot, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, kembali mengingatkan kita pada wajah kekuasaan yang sering lupa pada batas.

Demi dalih “pembangunan”, demi label “proyek strategis”, pohon-pohon yang sudah puluhan tahun tumbuh menjadi peneduh, pelindung, dan penyaring udara, ditebang dengan ringan—seolah-olah tak ada ruh kehidupan yang hilang di sana.

Masalahnya bukan sekadar pohon yang ditebang, tapi cara kekuasaan memperlakukan ruang publik dan alam sebagai properti pribadi. Tak ada dialog dengan rakyat, tak ada pemberitahuan yang memadai, dan lebih parah lagi tak ada rencana konkret pengganti pohon yang telah dilenyapkan.

Pohon dan Kekuasaan

Pohon tidak bisa bicara. Ia tak bisa melawan. Ia diam ketika tubuhnya dilukai, ketika akarnya dicabut, ketika batangnya dipotong paksa oleh mesin-mesin yang digerakkan oleh keputusan di ruang rapat tertutup.

Namun di balik diamnya, pohon menyimpan peran penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Ia menyediakan oksigen, menyerap karbon, mencegah banjir, dan menjadi penjaga ekosistem.

Baca Juga :  Desa Jayaraga Bangun Ekonomi Kerakyatan Melalui Pembentukan Koperasi Merah Putih dan Penguatan BUMDes

Menebangnya tanpa pertimbangan ekologis adalah bentuk kebodohan yang disamarkan dengan label “pembangunan”.

Penguasa yang bijak tahu bahwa pembangunan tidak harus merusak. Tapi penguasa yang tamak akan melihat pohon hanya sebagai penghalang proyek, bukan sebagai penopang kehidupan.

Rakyat Kecil Tak Pernah Diajak Bicara

Masalah klasik dari kebijakan yang menyakiti rakyat adalah tidak adanya partisipasi publik. Masyarakat sekitar tidak pernah dimintai pendapat. Mereka hanya tahu-tahu melihat alat berat datang, lalu pohon-pohon diratakan, tanah diuruk, dan papan proyek dipasang dengan bangga. Rakyat tidak diajak bicara, apalagi dimintai persetujuan.

Dalam sistem demokrasi, rakyat adalah subjek, bukan objek. Tapi hari ini, rakyat diperlakukan tak ubahnya bayangan—ada tapi dianggap tak penting.

Tanggung Jawab Moral dan Akhirat

Perlu diingat, kekuasaan itu bukan hak milik, melainkan amanah. Setiap pohon yang ditebang, setiap air mata rakyat yang jatuh karena kesewenangan, akan ditanya kelak di hadapan Allah SWT.

Pangkat dan jabatan tidak akan menjadi pembela ketika hisab datang. Justru akan menjadi beban yang memberatkan jika digunakan untuk menindas, bukan melayani.

Menebang pohon tanpa kebijaksanaan adalah menebas nurani. Menyakiti bumi berarti menyakiti generasi yang akan datang. Maka berhentilah berpikir bahwa kekuasaan adalah tiket bebas melakukan apa saja. Karena sesungguhnya, kekuasaan adalah ujian pdan tidak semua lulus.

Penutup

Kami tidak menolak pembangunan. Tapi kami menolak pembangunan yang membunuh kehidupan. Kami tidak anti proyek, tapi kami anti arogansi kebijakan yang menginjak hak publik dan merusak alam.

Kalau pembangunan butuh pengorbanan, jangan selalu rakyat dan pohon yang dikorbankan. Sudah cukup banyak yang tumbang karena kebijakan yang tuli.

Berita Terkait

“H. Aten Munajat Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga, BPJS dan Pendidikan Jadi Prioritas”
Hadiri Penyerahan LHP BPK, Ketua DPRD Garut Aris Munandar Tegaskan Opini WTP Harus Berdampak pada Pelayanan Publik dan Pembangunan Daerah
Diduga Toko Obat Ilegal Edarkan Tramadol dan Benzodiazepine, Warga Desak Aparat Bertindak
West Java Take Over di Garut Meledak, Disambut Hangat Pecinta Kopi
Sosialisasi Super Apps SAGARUT, Optimalkan Akses dan Satukan Layanan Publik dalam Satu Genggaman
TAK ADA ANGGARAN DI APBD 2026, PEMBANGUNAN SEKOLAH RAKYAT GARUT TERANCAM TERTUNDA, ANGGOTA KOMISI IV DPRD MINTA PEMKAB TERBUKA
Anggota DPRD Garut Yudha Puja Turnawan Wujudkan Nilai Pancasila Lewat Aksi Kemanusiaan, Hidupkan Semangat Gotong Royong di Hari Lahir Bung Karno Melalui Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis
Dugaan Beking Peredaran Obat Keras Ilegal Mengemuka, Intimidasi Pelapor Dikecam
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 14:01 WIB

“H. Aten Munajat Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga, BPJS dan Pendidikan Jadi Prioritas”

Kamis, 11 Juni 2026 - 00:40 WIB

Hadiri Penyerahan LHP BPK, Ketua DPRD Garut Aris Munandar Tegaskan Opini WTP Harus Berdampak pada Pelayanan Publik dan Pembangunan Daerah

Kamis, 11 Juni 2026 - 00:25 WIB

Diduga Toko Obat Ilegal Edarkan Tramadol dan Benzodiazepine, Warga Desak Aparat Bertindak

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:27 WIB

West Java Take Over di Garut Meledak, Disambut Hangat Pecinta Kopi

Selasa, 9 Juni 2026 - 22:44 WIB

Sosialisasi Super Apps SAGARUT, Optimalkan Akses dan Satukan Layanan Publik dalam Satu Genggaman

Berita Terbaru

Uncategorized

West Java Take Over di Garut Meledak, Disambut Hangat Pecinta Kopi

Rabu, 10 Jun 2026 - 21:27 WIB