“Pembangunan yang Dikhianati”: Aktivis Muda Iwan Setiawan, Ungkap Permainan BankeDes di Garut

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 23 Juni 2025 - 21:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut, Nusaharianmedia.com – Alih-alih menjadi jalan keluar atas ketimpangan pembangunan, program Bantuan Keuangan Desa (BankeDes) justru berubah menjadi ladang permainan anggaran yang menguntungkan segelintir pihak di Kabupaten Garut.

Aktivis muda Garut, Iwan Setiawan, dengan lantang mengungkap sejumlah indikasi kuat penyimpangan dalam pelaksanaan BankeDes yang merugikan desa secara sistemik.

“Program yang seharusnya membangun desa, malah menjadi sumber penyakit birokrasi dan alat permainan elit,” tegas Iwan dalam keterangannya, Senin (23/06/2025).

Desa Jadi Korban Proyek Titipan

Menurut Iwan, desa-desa kini hanya menjadi pelaksana teknis dari proyek-proyek yang sudah ‘dikondisikan’ oleh oknum pengambil kebijakan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Sementara apa yang terjadi di lapangan, jelas terlihat carut marut dalam bidang pekerjaan, mulai dari penyusunan RAB, penunjukan rekanan, hingga pemilihan jenis pekerjaan sudah ditentukan sejak awal bahkan sebelum aspirasi masyarakat desa sempat dibahas.

“Desa hanya diberi peran sebagai pelengkap administratif. Ini bukan lagi pembangunan partisipatif, tapi penunjukan sepihak yang membungkam kedaulatan desa,” ujarnya.

Kualitas Proyek Buruk, Rakyat Jadi Korban

Iwan juga menyoroti dampak nyata dari praktik ini, yakni buruknya kualitas hasil proyek. Mulai dari jalan yang cepat rusak, bangunan fasilitas umum yang tidak layak, hingga pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi menjadi keluhan warga di banyak kecamatan, terutama di wilayah selatan dan Garut utara.

“Banyak pekerjaan yang dikerjakan asal-asalan karena anggaran riilnya sudah dipotong duluan. Rakyat yang menanggung kerugiannya,” ujar Iwan.

Setoran dan Bagi-Bagi Proyek: Bukan Rahasia Lagi

Lebih jauh, Iwan menyinggung soal praktik “setoran” untuk bisa mendapatkan proyek BankeDes. Dalam beberapa temuan di lapangan, disebutkan bahwa pengusaha atau rekanan harus menyetor 20–30% dari nilai proyek agar bisa “dipercayakan” menangani pekerjaan tersebut.

“Proyek rakyat dikorbankan demi membayar upeti politik. Kalau ini terus dibiarkan, tidak hanya anggaran yang bocor, tapi mental birokrasi akan terus rusak,” tegasnya.

Pengawasan Lemah, Institusi Tutup Mata

Aktivis muda ini juga mengkritisi lemahnya pengawasan dari lembaga teknis seperti DPMD dan Inspektorat. Banyak laporan dari masyarakat tidak ditindaklanjuti secara serius. Ia menduga ada pembiaran yang disengaja dan terstruktur demi menjaga status quo dan melindungi aktor-aktor yang terlibat.

“Kalau pengawasan tidak independen, rakyat tidak punya harapan. Harus ada reformasi menyeluruh dalam sistem pengawasan anggaran desa,” tegasnya.

Desakan Audit Forensik dan Tindakan KPK

Iwan Setiawan mendorong agar dilakukan audit forensik terhadap seluruh proyek BankeDes dalam lima tahun terakhir di Kabupaten Garut. Ia juga mendesak KPK, Kejaksaan, hingga Ombudsman RI untuk turun langsung mengusut tuntas dugaan praktik kotor yang sudah menjadi rahasia umum ini.

“Ini bukan soal proyek gagal, ini kejahatan publik. Aparat hukum harus berani membongkar sampai ke akar, termasuk aliran dana yang mengalir ke elit tertentu,” ujarnya.

Iwan: “Saatnya Desa Bicara, Lawan Penindasan Anggaran!”

Sebagai penutup, Iwan mengajak para kepala desa, tokoh masyarakat, LSM, dan seluruh elemen rakyat untuk bersatu menuntut hak-hak pembangunan yang sejati.

“Jangan biarkan desa terus dimiskinkan oleh sistem yang dikendalikan dari atas. Ini waktunya bicara, waktunya melawan. Jangan diam saat rakyat dikhianati,” pungkasnya. (Red)
Baca Juga :  Ketua LIBAS Serukan Aksi Nyata untuk Pelestarian Sumber Air

Berita Terkait

Generasi Muda Terancam, Sekjen ABAG Tedi Sutardi Pertanyakan Keseriusan APH, Soroti Ketidakhadiran Kapolres Garut: “Kami Tidak Akan Diam!”
Musda Golkar Garut di Persimpangan: Kader Murni, Diskresi, dan Taruhan Masa Depan Partai Beringin
Imam Al Fiqri Terpilih sebagai Ketua DPK GMNI STIE Yasa Anggana Garut, Siap Lanjutkan Estafet Perjuangan
ABAG Geruduk Pemkab Garut, Pertanyakan Keseriusan Lindungi Generasi Muda di Tengah Maraknya Peredaran Obat Keras Ilegal dan Miras, Desak APH Bongkar hingga ke Pemasok
Menakar Efektivitas Kapolres Baru: Mengapa Razia Miras dan Obat Keras di Garut Selalu Kandas di Permukaan?
Bukan Sekadar Surat Edaran, Ketua DPRD Garut Aris Munandar Dorong Perbup Jam Malam Anak demi Perlindungan Anak
Golkar Garut Peringati HUT ke-50 Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia dengan Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim
Bangun Budaya Berkendara Aman Sejak Dini, inDrive Tuntaskan “Drive Your Future” di SMKN 2 Garut
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Generasi Muda Terancam, Sekjen ABAG Tedi Sutardi Pertanyakan Keseriusan APH, Soroti Ketidakhadiran Kapolres Garut: “Kami Tidak Akan Diam!”

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:16 WIB

Musda Golkar Garut di Persimpangan: Kader Murni, Diskresi, dan Taruhan Masa Depan Partai Beringin

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:23 WIB

Imam Al Fiqri Terpilih sebagai Ketua DPK GMNI STIE Yasa Anggana Garut, Siap Lanjutkan Estafet Perjuangan

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:11 WIB

ABAG Geruduk Pemkab Garut, Pertanyakan Keseriusan Lindungi Generasi Muda di Tengah Maraknya Peredaran Obat Keras Ilegal dan Miras, Desak APH Bongkar hingga ke Pemasok

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Menakar Efektivitas Kapolres Baru: Mengapa Razia Miras dan Obat Keras di Garut Selalu Kandas di Permukaan?

Berita Terbaru