TINGKAT BAHAYA JIKA REGENERASI BANGSA INI TERJERUMUS KE LUBANG NARKOBA MENURUT KETERANGAN HADIS DAN UNDANG-UNDANG

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com — Asep Nurjaman SEKJEN BEM STAINUS KAB.GARUT Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas generasi penerus bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang begitu cepat, ancaman narkoba menjadi salah satu persoalan paling serius yang dapat menghambat masa depan bangsa.

Penyalahgunaan narkotika bukan hanya masalah individu, melainkan ancaman terhadap ketahanan nasional karena menyasar kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan.

Fenomena penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja dan generasi muda semakin mengkhawatirkan. Berbagai kasus yang terungkap menunjukkan bahwa peredaran gelap narkotika telah merambah berbagai lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan pendidikan, tempat kerja, hingga kawasan pemukiman. Jika kondisi ini tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan, maka regenerasi bangsa berpotensi mengalami kemunduran yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan.

Dari sudut pandang ilmiah, narkoba bekerja dengan cara memengaruhi sistem saraf pusat manusia. Zat-zat tersebut dapat mengubah fungsi otak, memengaruhi emosi, perilaku, kemampuan berpikir, hingga pengambilan keputusan. Penggunaan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen, gangguan kejiwaan, penurunan daya ingat, serta hilangnya produktivitas. Tidak sedikit pengguna narkoba yang akhirnya kehilangan kesempatan pendidikan, pekerjaan, bahkan hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungannya.

Lebih jauh lagi, penyalahgunaan narkoba juga menimbulkan efek domino yang sangat merugikan masyarakat. Tingginya angka kriminalitas, tindak kekerasan, pencurian, hingga peredaran narkotika itu sendiri sering kali berkaitan erat dengan ketergantungan terhadap barang haram tersebut. Dengan kata lain, narkoba bukan hanya merusak individu, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas sosial dan keamanan masyarakat.

Baca Juga :  Evakuasi Material Longsor di Cimapag Desa Loji Oleh Forkopimcam Simpenan

Dalam perspektif agama Islam, menjaga akal merupakan salah satu tujuan utama syariat (maqashid syariah). Karena itu, segala sesuatu yang merusak akal dan kesadaran manusia dilarang. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa segala bentuk zat yang memabukkan, termasuk narkoba, hukumnya haram. Larangan ini bukan semata-mata karena sifat zat tersebut, tetapi karena dampak destruktif yang ditimbulkannya terhadap kehidupan manusia.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Pesan hadis ini sangat relevan dengan persoalan narkoba. Seorang pengguna narkoba tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga keluarga, lingkungan sosial, dan masa depan bangsa. Ketika generasi muda kehilangan akal sehat, moralitas, dan produktivitas akibat narkoba, maka sesungguhnya bangsa sedang kehilangan aset terbesarnya.

Dari perspektif hukum nasional, negara telah menunjukkan komitmen kuat dalam memberantas narkotika melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Undang-undang tersebut mengatur secara tegas berbagai bentuk penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, termasuk sanksi pidana yang berat bagi pelaku, pengedar, maupun bandar narkoba.

Ketegasan hukum tersebut menunjukkan bahwa narkoba dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang dampaknya dapat merusak masa depan bangsa. Negara menyadari bahwa pembangunan tidak hanya memerlukan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berakhlak baik.

Baca Juga :  Bhabinkamtibmas Polsek Leles Lakukan Pembinaan Ketahanan Pangan di Desa Lembang

Menurut pandangan penulis, perang melawan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang baik, memberikan pendidikan agama, serta mengawasi pergaulan anak-anaknya. Di sisi lain, lembaga pendidikan harus mampu menjadi benteng moral yang menanamkan nilai-nilai karakter, kedisiplinan, dan kesadaran akan bahaya narkoba.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, serta media massa juga memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengedukasi masyarakat. Kampanye anti narkoba tidak boleh berhenti pada slogan semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan generasi muda.

Masa depan Indonesia berada di tangan generasi saat ini. Jika mereka tumbuh sehat, berpendidikan, dan bebas dari narkoba, maka bangsa ini akan memiliki modal besar untuk menjadi negara maju dan bermartabat. Sebaliknya, apabila regenerasi bangsa terjerumus ke dalam lubang narkoba, maka ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia akan semakin nyata dan berpotensi menghambat cita-cita pembangunan nasional.

Oleh karena itu, memerangi narkoba bukan hanya tugas pemerintah atau aparat penegak hukum, melainkan kewajiban seluruh elemen bangsa. Agama telah memperingatkan bahayanya, hukum telah mengatur larangannya, dan ilmu pengetahuan telah membuktikan dampak buruknya. Kini, yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif untuk menyelamatkan generasi muda demi menjaga masa depan Indonesia yang lebih baik.

Berita Terkait

Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar
DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita
ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok
Ketua PA GMNI Bung Kalam Ucapkan Selamat kepada Abdusy Syakur Amin, Dorong Golkar Garut Jadi Partai Modern dan Transformatif
Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS
Dorong Pertumbuhan CASA, BRI BO Cibadak Beri Penghargaan kepada Dua Agen BRILink
Gerilya Para Pemburu Kursi Sekda Garut: Manuver Senyap Kandidat Pengganti Nurdin Yana Mulai Terendus
Inovasi Garut Mulai Dilirik Daerah Lain, Split Payment Bapenda Jadi Perhatian Komisi III DPRD Kota Tangerang
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:39 WIB

Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar

Senin, 21 September 2026 - 22:34 WIB

DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita

Senin, 21 September 2026 - 22:04 WIB

ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok

Senin, 21 September 2026 - 18:33 WIB

Ketua PA GMNI Bung Kalam Ucapkan Selamat kepada Abdusy Syakur Amin, Dorong Golkar Garut Jadi Partai Modern dan Transformatif

Jumat, 18 September 2026 - 20:49 WIB

Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS

Berita Terbaru