Presiden RRG, Eldy Supriadi: May Day di Garut, Saat Buruh PT Danbi Bertahan,Janji Politik Hanya Jadi Isapan Jempol Belaka

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 1 Mei 2025 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut,Nusaharianmedia.com – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang jatuh pada tanggal 1 Mei seharusnya menjadi momentum refleksi nasional terhadap kesejahteraan pekerja. Namun di Garut, Jawa Barat, peringatan itu justru menjadi panggung nyata perjuangan buruh yang masih harus bersuara untuk hak-haknya yang terabaikan. Salah satu potret menyedihkan itu datang dari buruh PT Danbi, yang hingga kini masih bertahan di depan gerbang pabrik menuntut keadilan.

Puluhan buruh mendirikan posko perjuangan di depan pabrik PT Danbi, sebagai bentuk aksi damai menagih hak yang belum mereka terima. Mereka menolak tunduk pada ketidakjelasan. Beberapa dari mereka sudah bekerja bertahun-tahun di perusahaan tersebut, namun kini merasa ditelantarkan tanpa kejelasan status, upah, dan pesangon. Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya sikap tegas dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah.

Melihat kondisi tersebut, Presiden Ruang Rakyat Garut (RRG), Eldy Supriadi, turut menyuarakan keprihatinan. Ia menyebut bahwa May Day di Garut tahun ini menggambarkan secara gamblang bagaimana janji-janji politik telah jauh dari kenyataan di lapangan.

“Janji menciptakan 1,5 juta lapangan kerja yang digaungkan oleh pasangan calon kepala daerah itu hanya tinggal jargon kosong jika di saat yang sama buruh-buruh kita justru kehilangan pekerjaan dan diperlakukan tidak manusiawi. Buruh PT Danbi adalah cermin luka struktural kita hari ini,” tegas Eldy dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (01/05/2025).

Eldy menyebut bahwa pemerintah daerah harusnya tidak tinggal diam. Ia menuntut agar Bupati, Dinas Tenaga Kerja, dan DPRD Garut segera turun tangan menyelesaikan konflik ketenagakerjaan yang merugikan buruh. Menurutnya, membiarkan buruh bermalam dan bertahan di depan pabrik adalah bentuk ketidakpedulian yang mencoreng wajah kemanusiaan.

“Negara dan pemerintah daerah seharusnya hadir di tengah konflik ini. Jangan biarkan buruh melawan sendirian. Ini bukan hanya masalah upah, ini masalah harga diri,” lanjut Eldy.

Tak hanya itu, Eldy juga mengkritik keras bagaimana isu buruh sering kali hanya dimunculkan sebagai komoditas politik menjelang pemilihan. Setelah itu, suara buruh dilupakan. Ia mengajak masyarakat untuk membuka mata bahwa kesejahteraan buruh tidak bisa hanya dibangun lewat janji-janji kosong, tetapi harus lewat keberpihakan kebijakan yang konkret.

Di sisi lain, para buruh PT Danbi yang melakukan aksi mengaku semakin terpuruk. Mereka merasa ditelantarkan tanpa solusi, bahkan ketika mereka sudah berulang kali menyampaikan aspirasi melalui jalur formal. Kini, harapan mereka tertumpu pada tekanan publik dan solidaritas dari masyarakat sipil.

“Kami sudah berusaha damai, kami sudah kirim surat, bahkan bertemu pihak terkait, tapi tak ada kejelasan. Satu-satunya cara kami bisa didengar hanya dengan bertahan di sini,” ujar salah satu buruh yang enggan disebut namanya.

Aksi buruh PT Danbi ini pun mengundang simpati dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, LSM, dan tokoh-tokoh pemuda Garut. Mereka menyebut perjuangan buruh bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan hak asasi manusia.

May Day di Garut, tahun ini, tak hanya menjadi simbol peringatan. Ia menjadi ajakan untuk bangkit, membuka mata bahwa buruh bukan alat produksi semata, melainkan manusia yang memiliki hak dan martabat.

“Jika pemerintah tak mampu melindungi buruh, maka masyarakat sipil harus bersatu. May Day bukan hari diam, ini adalah hari bersuara. Diam adalah bentuk penghianatan terhadap keadilan sosial,” pungkas Eldy Supriadi.

Selamat Hari Buruh Internasional. Dari Garut, suara perlawanan itu bergema—menembus batas janji kosong, menuntut hadirnya keadilan. (DIX)
Baca Juga :  GMNI Garut Resmi Buka Posko Pengaduan Pertanahan: Fokus pada PTSL, Konflik Agraria, dan Perampasan Tanah

Berita Terkait

Kolaborasi Pemkab Garut melalui Sinergitas Bapenda, OJK, Perbankan, dan Pegadaian Jadi Strategi Baru Dongkrak PAD
‎Semarak HUT Bhayangkara Ke-80 di Garut, Atraksi Pocil dan Kejutan Danrem 062/Tarumanagara Perkuat Sinergi TNI-Polri
Saat Kritik Politik Memicu Polemik, Bung Kalam Ingatkan Pentingnya Fakta dan Etika Komunikasi: Jangan Campuradukkan Persoalan Politik dan Pemerintahan
Tiga Tokoh Menuju Kursi Ketua DPD Golkar Garut: Musda Jadi Pertarungan Politik Paling Bergengsi, Taruhkan Pengaruh, Prestise, dan Legitimasi
Musda Golkar Garut Makin Menghangat, AMPI Garut Resmi Dukung Abdusy Syakur Amin Pimpin DPD Partai Golkar sebagai Figur Pemersatu
HUT ke-48 AMPI, Garut Teguhkan Semangat Kekaryaan dan Komitmen Cetak Kader Muda Berkualitas untuk Negeri
Libur Panjang, Gunung Papandayan Jadi Magnet Wisatawan: Kawah, Hutan Mati, dan Edelweiss Memikat Pengunjung Luar Kota
GMNI Garut Teguhkan Semangat Bung Karno, Perkuat Nasionalisme, Ideologi Pancasila, dan Kepedulian Sosial
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:06 WIB

Kolaborasi Pemkab Garut melalui Sinergitas Bapenda, OJK, Perbankan, dan Pegadaian Jadi Strategi Baru Dongkrak PAD

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:19 WIB

‎Semarak HUT Bhayangkara Ke-80 di Garut, Atraksi Pocil dan Kejutan Danrem 062/Tarumanagara Perkuat Sinergi TNI-Polri

Rabu, 1 Juli 2026 - 15:40 WIB

Saat Kritik Politik Memicu Polemik, Bung Kalam Ingatkan Pentingnya Fakta dan Etika Komunikasi: Jangan Campuradukkan Persoalan Politik dan Pemerintahan

Selasa, 30 Juni 2026 - 09:04 WIB

Tiga Tokoh Menuju Kursi Ketua DPD Golkar Garut: Musda Jadi Pertarungan Politik Paling Bergengsi, Taruhkan Pengaruh, Prestise, dan Legitimasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:19 WIB

Musda Golkar Garut Makin Menghangat, AMPI Garut Resmi Dukung Abdusy Syakur Amin Pimpin DPD Partai Golkar sebagai Figur Pemersatu

Berita Terbaru