Febbie A. Zam Zami Soroti Melemahnya Otoritas Kepakaran di Tengah Banjir Informasi Digital

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Nusaharianmedia.com JAKARTA 30 April 2026 – Melemahnya otoritas kepakaran di ruang publik dinilai berpotensi mengganggu kualitas kebijakan pemerintah, seiring maraknya opini non-berbasis evidensi di era disrupsi informasi.

 

Linguist dan critical discourse analyst Febbie A. Zam Zami mengatakan, transformasi digital telah menghapus batas antara opini awam dan pengetahuan ilmiah, sehingga ruang publik kini dipenuhi informasi yang tidak selalu terverifikasi.

“Diskursus publik tidak lagi dimediasi secara ketat oleh otoritas akademik atau institusional.

 

Akibatnya, opini yang belum tentu berbasis evidensi bisa dengan mudah memengaruhi persepsi publik,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong meningkatnya misinformasi dan disinformasi yang berisiko memengaruhi arah kebijakan.

 

Dalam perspektif filsafat ilmu, Febbie menekankan bahwa validitas klaim ilmiah harus dapat diuji secara empiris. Prinsip ini, sebagaimana dikemukakan oleh Karl Popper, dikenal sebagai falsifiability.

 

Ia juga menyoroti bias kognitif dalam produksi opini, khususnya fenomena Dunning-Kruger Effect, yang menunjukkan kecenderungan individu dengan kompetensi rendah memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi.

Baca Juga :  DPC Partai Demokrat Garut Gelar Rakercab 2025, Susun Program Kerja Strategis untuk Tahun 2026

 

“Ini membuat opini yang lemah secara substansi sering kali tampil meyakinkan di ruang publik,” katanya.

 

Febbie menilai, kondisi tersebut turut memicu krisis otoritas epistemik. Mengacu pada pemikiran Pierre Bourdieu, legitimasi suatu wacana sangat dipengaruhi oleh otoritas sosial pembicara dalam bidang tertentu.

 

Dari sisi etika, ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral intelektual dalam menjaga kualitas informasi publik. Stephen Hawking, menurutnya, menegaskan bahwa ilmuwan memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran.

 

Jika tidak diantisipasi, fenomena ini berpotensi memicu kebijakan yang tidak berbasis data, memperdalam polarisasi sosial, serta menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

 

Ia juga mengutip pandangan Karl Popper yang menyebut ilusi pengetahuan lebih berbahaya daripada ketidaktahuan karena dapat melahirkan keputusan yang tampak rasional, namun keliru.

Baca Juga :  Eldy Supardi Soroti Pemkab Garut: Restoran Maumie Beroperasi Tanpa SLF dan PBG  

 

Sebagai solusi, Febbie mendorong penguatan peran akademisi dan praktisi dalam proses perumusan kebijakan melalui pembentukan expert panel atau dewan ahli.

 

Selain itu, ia menekankan perlunya standarisasi komunikasi publik berbasis data, peningkatan literasi kritis masyarakat, serta pembangunan platform informasi terpercaya yang dikurasi lembaga kredibel.

 

“Penguatan kepakaran bukan bentuk eksklusivitas, melainkan kebutuhan untuk menjaga kualitas demokrasi dan kebijakan publik,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, sebagaimana disampaikan Noam Chomsky, intelektual memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran dan mengoreksi distorsi informasi di ruang publik.

 

Dengan demikian, integrasi kepakaran dalam komunikasi publik menjadi prasyarat penting bagi tata kelola pemerintahan yang rasional, adaptif, dan berbasis pengetahuan.

 

Kalau mau lebih “keras” lagi (gaya Tempo investigatif atau CNN dengan angle konflik—misalnya menyinggung pemerintah/elite secara lebih frontal),

Penulis : Hilman

Editor : Redaksi Nusaharianmedia

Berita Terkait

Cegah Cyberbullying, DPPKBPPPA Garut Gaungkan Bela Negara Digital dan Peran Orang Tua
Perkuat Perlindungan Anak, DPPKBPPPA Garut Edukasi Siswa SMP soal Bahaya Bullying dan Bijak Bermedia Sosial
Aliansi Mahasiswa Soroti Kekosongan Dirut PDAM Tirtawening, Desak Seleksi Transparan
Satkar Ulama Garut Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Pengabdian dan Persatuan Umat
Alih Fungsi Lahan Tak Terkendali dan Minim RTH, Industri Leles Terancam Krisis Lingkungan
HMI Cabang Garut Serahkan Dua Policy Brief Strategis kepada Bupati, Soroti BUMD dan TJSLP
Paripurna LKPJ 2025, Fraksi Golkar Tekankan Pentingnya Pengelolaan Media Sosial dan Jaga Komunikasi 
Rapat Paripurna DPRD Garut Bahas LKPJ 2025, Fraksi Gerindra Soroti Kualitas Data hingga Arah Kebijakan
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 21:33 WIB

Cegah Cyberbullying, DPPKBPPPA Garut Gaungkan Bela Negara Digital dan Peran Orang Tua

Kamis, 30 April 2026 - 21:23 WIB

Perkuat Perlindungan Anak, DPPKBPPPA Garut Edukasi Siswa SMP soal Bahaya Bullying dan Bijak Bermedia Sosial

Kamis, 30 April 2026 - 20:16 WIB

Febbie A. Zam Zami Soroti Melemahnya Otoritas Kepakaran di Tengah Banjir Informasi Digital

Kamis, 30 April 2026 - 00:04 WIB

Aliansi Mahasiswa Soroti Kekosongan Dirut PDAM Tirtawening, Desak Seleksi Transparan

Rabu, 29 April 2026 - 20:06 WIB

Satkar Ulama Garut Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Pengabdian dan Persatuan Umat

Berita Terbaru