HMI Bandung Kecam Krisis Tata Kelola Kota: “Bandung Harus Diselamatkan dari Kehancuran Sistemik”

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 November 2025 - 16:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nusaharianmedia.com Bandung, 27 November 2025 – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kecaman keras terhadap kondisi tata kelola Pemerintah Kota Bandung yang dinilai berada pada titik krisis. Serangkaian persoalan mendasar—mulai dari dugaan korupsi, pelanggaran tata ruang, kemacetan, hingga darurat sampah—dianggap mencerminkan kegagalan struktural dalam kepemimpinan kota.

 

Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Bandung, Fikri Ali Murtadho, menegaskan bahwa berbagai persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis, tetapi bukti nyata dari rendahnya integritas dan lemahnya komitmen politik dalam mengabdikan kebijakan kepada kepentingan publik.

 

1. Dugaan Jual Beli Jabatan: “Kanker yang Menggerogoti Birokrasi”

HMI Cabang Bandung mengecam keras dugaan praktik jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung yang kini sedang diusut Kejaksaan. Menurut informasi yang dihimpun HMI, Kejaksaan telah memeriksa 67 orang, mulai dari pihak swasta, pejabat tinggi pemerintah kota termasuk wakil wali kota, sejumlah anggota dewan, hingga orang dekat Wali Kota yang dikenal sebagai Angga Wardhana, Ketua Tim TOP Kota Bandung.

 

Namun Fikri mempertanyakan lambannya proses hukum, terutama karena Kejaksaan terus memeriksa orang-orang dekat wali kota, tetapi hingga kini belum memeriksa Wali Kota Bandung secara langsung.

Baca Juga :  ABAG Geruduk Pemkab Garut, Pertanyakan Keseriusan Lindungi Generasi Muda di Tengah Maraknya Peredaran Obat Keras Ilegal dan Miras, Desak APH Bongkar hingga ke Pemasok

 

“Jual beli jabatan adalah bentuk korupsi paling fundamental. Ini merusak birokrasi dari akarnya, mengkhianati meritokrasi, dan mengebiri peluang anak-anak terbaik Bandung untuk mengabdi secara profesional,” tegas Fikri.

 

HMI mendesak Kejaksaan Negeri Bandung untuk segera menuntaskan kasus tersebut, menetapkan tersangka, serta membersihkan birokrasi dari aktor-aktor mafia jabatan.

2. Inkonsistensi Tata Ruang dan Kemacetan Kronis

HMI menilai bahwa lemahnya integritas dalam pemerintahan berdampak langsung pada buruknya kebijakan publik, termasuk tata ruang dan transportasi.

Tata ruang diobral.

Fikri menyebut maraknya pembangunan yang tidak sesuai RTRW sebagai bukti buruknya pengawasan dan dugaan kompromi pejabat terkait perizinan. Kondisi ini menjadi hulu dari berbagai persoalan lingkungan dan infrastruktur.

Kemacetan yang melumpuhkan.

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali, ditambah minimnya perencanaan transportasi publik, membuat kemacetan Bandung semakin parah dan merugikan jutaan jam produktif masyarakat.

3. Darurat Sampah: Bukti Ketidakmampuan DLHK dan UPTD Kebersihan

 

Persoalan sampah kembali menjadi isu akut setelah krisis TPA beberapa waktu lalu. HMI menilai kondisi ini sebagai bukti gamblang bahwa Pemerintah Kota Bandung belum memiliki model pengelolaan sampah yang visioner.

Baca Juga :  Aris Munandar Ketua DPRD Garut Hadiri Pisah Sambut Danrem 062/Tarumanagara

 

“Setiap tahun janji disampaikan, tapi setiap tahun Bandung tetap dipenuhi tumpukan sampah. UPTD Kebersihan dan DLHK terlihat tidak memiliki roadmap jangka panjang, hanya mengandalkan TPA luar daerah tanpa solusi strategis,” ujar Fikri.

 

Tuntutan HMI Cabang Bandung

Berdasarkan evaluasi kritis tersebut, HMI Cabang Bandung mengajukan tiga tuntutan utama:

1. Akuntabilitas Hukum

Aparat penegak hukum diminta segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan jual beli jabatan dan memberikan hukuman setimpal demi menghadirkan efek jera.

2. Evaluasi Total Kebijakan

Penjabat Kepala Daerah diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap OPD yang bertanggung jawab atas tata ruang, perizinan, dan pengelolaan sampah.

3. Transparansi Anggaran dan Solusi Berkelanjutan

 

Pemerintah harus menyajikan rencana pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis data, bukan solusi jangka pendek yang menyedot anggaran tanpa hasil nyata.

 

Fikri menutup pernyataannya dengan menyerukan agar mahasiswa dan masyarakat Bandung bersatu menjadi kekuatan kontrol sosial yang independen dan tidak tunduk pada kepentingan politik jangka pendek.

“Kota Bandung harus diselamatkan dari krisis etika dan kegagalan tata kelola,” tegasnya.

 

 

 

 

Berita Terkait

Suyudi Ario Seto Resmi Jadi Kapolri, Estafet Kepemimpinan Polri Berganti
Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar
DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita
ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok
Ketua PA GMNI Bung Kalam Ucapkan Selamat kepada Abdusy Syakur Amin, Dorong Golkar Garut Jadi Partai Modern dan Transformatif
Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS
Dorong Pertumbuhan CASA, BRI BO Cibadak Beri Penghargaan kepada Dua Agen BRILink
Gerilya Para Pemburu Kursi Sekda Garut: Manuver Senyap Kandidat Pengganti Nurdin Yana Mulai Terendus
Berita ini 73 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Suyudi Ario Seto Resmi Jadi Kapolri, Estafet Kepemimpinan Polri Berganti

Senin, 21 September 2026 - 22:39 WIB

Anggota DPRD Garut H. Erwin Hamdani Soroti Retribusi Parkir Turun, Dorong Digitalisasi hingga Kerja Sama dengan Pemprov Jabar

Senin, 21 September 2026 - 22:34 WIB

DPPKBPPPA Garut Terima Konsolidasi KNPI, Bahas Kesehatan Mental dan Rumah Ramah Bercerita

Senin, 21 September 2026 - 22:04 WIB

ABAG Desak Tramadol Ditangani Serius, Ayi Suryana Tegaskan DPRD Kawal Lewat Fungsi Pengawasan dan Telusuri Pemasok

Jumat, 18 September 2026 - 20:49 WIB

Strategi Baru Dongkrak PAD, Bapenda Garut Hadirkan Split Payment dan Libatkan Konsumen Lewat Inovasi UAS

Berita Terbaru